Mirage

Mirage
Aku pergi


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya, Mira terlihat terus mengamati pintu apartemennya, seolah tengah menunggu seseorang datang.


Tania tau persis jika yang ditunggunya bukanlah Lingga. Hal itu diketahuinya dari pesan chat yang dibacanya kemarin siang, saat sedang memesan makanan via pesan antar.


Saat itu, tak sengaja dia membaca percakapan antara Mira dan sebuah nomor tak dikenal, yang dipanggil dengan nama Tuan Moris dalam percakapan tersebut.


Di sana, jelas tertera jika Mira meminta sebuah bantuan.


[Silakan, Nona. Katakan apa itu?] Moris.


[Tolong Anda siapkan passpor dan sebuah tiket pesawat, dengan tujuan tempat di mana Anda berada saat ini. Apa bisa?] tanya Mira.


[Boleh saya tau alasannya?] Moris.


[Saya hanya ingin menghilang sejenak dari sini. Tidak akan lama, paling tidak sampai saya memutuskan langkah selanjutnya untuk melanjutkan hidup saya,] Mira.


[Baiklah. Itu tidak sulit. Lusa semuanya akan siap. Tunggulah seseorang yang kan mengantarkannya kepada Anda. Setelah itu, datanglah ke bandara sesuai jadwal yang tertera pada tiket pesawatnya,] Moris.


[Baiklah. Terimakasih,] Mira.


Sebuah percakapan singkat yang mampu membuat Tania kebingungan. Dia tak tau harus berbuat apa. Jika dia menegur rekannya itu, pasti Mira akan memintanya untuk tetap diam, dan membuat dirinya justru dalam masalah, karena akan membuat Lingga marah besar.


Jika dia memberitahukan Lingga, dia pun khawatir jika pria itu akan berlaku kasar pada Mira, mengingat sikap Mira itu yang menandakan keduanya tengah dalam masalah yang rumit.


Akhirnya, Tania pun mencoba untuk tetap tenang dan menunggu sampai paket itu datang.


Tepat pukul satu siang, sebuah ketukan terdengar dari pintu depan. Tania seketika tersentak, karena dia sudah menduga siapa yang datang itu.


Saat Tania hendak berdiri dan melangkah menuju pintu depan, Tiba-tiba, Mira menyahut dari lantai atas.


“Biar gue aja, Puk!” serunya sambil berlarian turun ke bawah.


Melihat reaksi rekannya itu, Tania semakin yakin jika yang datang adalah kurir yang membawa paket berisikan passpor dan juga tiket pesawat untuk Mira.


“Biar gue aja!” seru Mira lagi sambil berjalan cepat melewati rekannya tersebut.


Tania terus memperhatikan Mira, hingga wanita itu kembali lagi, dengan sebuah amplop coklat yang ia pegang ditangannya.


“Paket apaan?” tanya Tania berusaha se normal mungkin bertanya.


“Oh, ini? Cuma paketan anti gores buat ponsel gue,” jawab Mira sekenanya.


Jelas sekali terlihat, jika Mira begitu gugup saat ditanyai oleh Tania tentang benda itu. Dia pun segera berlalu menuju kamarnya, dan menyembunyikan benda dalam amplop itu di sana.


Sejak datangnya paket misterius itu, Mira tak kunjung turun lagi ke bawah. Tania terus menunggu sambil berpikir tentang apa yang bisa dilakukannya.


Sekitar pukul dua siang lebih, Mira turun ke bawah dengan membawa sebuah tas punggung di tangannya.


Tania terus memperhatikan tas itu, dan beralih melihat ke arah Mira yang sudah begitu rapi dan jelas sekali dia hendak pergi keluar.

__ADS_1


Mira mengenakan sebuah kemeja polkadot halus, yang di tutup dengan sebuah blezzer coklat terang dan sebuah celana jeans hitam. Sangat tertutup dan terlihat formal untuk sekedar pergi jalan-jalan.



“Mo kemana lu, Mok? Rapi bener,” tanya Tania.


Mira meletakkan tas punggungnya di atas meja makan, dan berjalan menuju ke arah dapur.


“Gue mau jalan sama cowo gue. Lu kalo mau pulang sekarang, nggak papa kok,” seru Mira yang terdengar dingin.


Boong banget. Lu kira gue nggak tau kalau elu mau kabur, batin Tania.


Tania terus berpikir apa yang harus dia lakukan untuk menggagalkan rencana Mira kali ini. Hingga akhirnya, dia pun memikirkan hal aneh yang bisa saja gagal untuk dilakukannya.


“Oh iya, Mok. Lu punya kutek warna gold yang ada gliternya itu kan? Yang waktu itu lu pake pas acara tahun baru kemarin itu lho,” tanya Tania.


Mira menoleh dan nampak berpikir.


“Ya, gue punya. Kenapa emang?” tanya Mira.


“Gue minta dong. Malam ini, katanya mau ada tamu VIP dateng. Gue mau tampil berkesan. Kali aja tuh tamu kecantol ma gue,” sahut Tania.


“Ambil gih! Cari aja di kamar,” seru Mira.


“Lu ambilin aja lah. Gue nggak enak masuk kamar pengantin lu ma babang tamvan lu itu. Entar bisa digantung di pohon toge gue kalau dia sampe tahu,” jawab Tania.


Mira berpikir sejenak, dan akhirnya dia pun berjalan naik ke lantai atas.


“Gue tunggu ya, Mok,” teriak Tania.


Setelah melihat rekannya itu menghilang di balik pintu, Tania segera berdiri dari duduknya, dan berjalan ke arah meja makan, di mana tas Mira berada.


Dia pun kemudian membukanya, dan melihat jika amplop coklat yang tadi itu, sudah disobek bagian atasnya, hingga Tania pun bisa melihat apa isi di dalamnya.


“Bener dugaan gue. Ini peralatan kabur elu,” gumam Tania.


Tak berselang lama, Mira muncul dan kembali berjalan turun, sehingga membuat Tania segera menuju ke tempat asalnya dan berpura-pura biasa saja.


Mira berjalan menghampiri dimana rekannya berada, dan mengulurkan tangan yang memegang botol pewarna kuku, yang tadi sempat diminta oleh Tania.


“Nih ambil aja. Gue kasih buat elu,” seru Mira.


“Hah, seriusan? Nggak sayang lu, Mok? Mahal kan ini?” tanya Tania.


“Iya, ambil aja. Kapan lagi gue kasih lu barang mahal,” sahut Mira.


Tania pun dengan senang hati mengambilnya. Setelah itu, dia pun pamit pulang dan meninggalkan Mira seorang diri di apartemen.


Selang setangah jam setelah Tania pergi, Mira bangkit dari duduknya dan mengambil koper yang sudah dia siapkan di dalam kamarnya.

__ADS_1


Dia berhenti dan berdiri di ruang tengah, lalu memandang ke sekeliling tempat yang penuh dengan kenangannya bersama Lingga selama beberapa bulan ini.


Maaf, Kak. Aku tau kamu pasti sulit untuk memilih antara aku atau keluargamu. Jadi, aku akan mengalah dan pergi dari hidupmu. Selamat tinggal, batin Mira.


Tak berselang lama, seseorang datang dan mengetuk pintu apartemen tersebut. Mira membukakan pintu dan tampak seorang pria mengenakan seragam driver sebuah perusahaan taksi, sedang berdiri di depan pintu.


Dia pun menyerahkan koper kepada orang itu untuk dibawa turun ke bawah.


Mira sengaja menyuruh Tania segera pergi, sebelum anak buah Nicholas datang dan mengambil alih penjagaan di sana.


Setelah supir taksi itu pergi, Mira kembali masuk dan untuk terakhir kalinya, dia memandangi seisi ruangan tersebut.


Dia pun kemudian meraih tasnya dan memakainya di punggung. Mira kemudian melangkah keluar dan meninggalkan semua kenangannya bersama Lingga di sana.


Mira memasuki taksi dan duduk di kursi penumpang belakang.


“Bandara, pak!” seru Mira memberi lokasi tujuan.


Sang supirpun melajukan mobilnya menuju ke tempat yang disebutkan tadi.


Mira diam. Dia membuang pandangannya ke luar jendela, memandangi jalanan yang pernah ia lewati bersama prianya.


Tak terasa, bulir bening menetes dari sudut matanya, mengalir melewati pipinya yang mulus, namun masih terlihat sedikit pucat.


Sangat berbeda dengan Mira yang dulu, di mana dia akan memperlihatkan ekspresi damai saat memandangi jalanan dari dalam mobil yang bergerak. Saat ini, justru raut kesedihan yang tergambar jelas di sana.


Sesampainya di bandara, Mira duduk di kursi tunggu keberangkatan. Dia menanggalkan tasnya, dan membuka resleting utamanya. Dia meraih amplo coklat yang sedari tadi berada di dalam sana.


Namun, saat dia mengambilnya, Mira mengernyitkan keningnya karena ada yang aneh dengan benda tersebut.


“Kok tipis banget?” gunam Mira.


Dia kemudian membukanya, dan hanya menemukan selembar kertas yang berisi amplop tiket pesawat.


“Kemana tiket dan passpor ku? Kenapa hilang? Apa ketinggalan di apartemen. Tapi nggak mungkin, aku ingat jelas kalau semuanya sudah ku masukkan di sini,” gumam Mira.


Lalu, dari arah belakangnya, sebuah suara berteriak mengagetkannya.


"Apa kamu sedang cari ini?” tanya suara itu.


Mira menoleh karena mendengar suara yang sangat ia kenali itu. Dan betapa terkejutnya dia, saat melihat siapa yang ada di belakangnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah😊


__ADS_2