Mirage

Mirage
Nyaris


__ADS_3

"Mulutmu bilang jangan, tapi tubuhmu mengatakan silakan. Nona, kau munafik sekali," ucap seorang pria yang sudah bersiap di bawah sana.


Dia membuka lebar kedua kaki Mira dan menekuknya ke atas. Ia meraih kain segi tiga yang tersisa, dan hendak menariknya hingga robek.


Kak, tolong aku! teriak Mira dalam hatinya.


Tepat saat itu, pintu di dobrag oleh seseorang, dan semua yang berada di dalam sana nampak terkejut.


Terlihat dua orang pria menerobos masuk, dan memukul semua yang ada di dalam sana hingga babak belur dan tak bisa berkutik lagi.


"Beraninya kalian menyentuh wanita ku," teriak pria yang tak lain adalah Lingga, yang datang bersama Steve ke Grand moon setelah mendapat informasi dari Tania.


Kedua pria itu seakan tak memilik ampun untuk mereka yang telah melecehkan Mira. Pukulan dan tendangan terus dilayangkan ke arah tujuh pria yang dalam keadaan telanjang bulat, dan hampir saja memperkosa Mira beramai-ramai.


Mereka semua jatuh tersungkur, dengan luka lebam di wajah dan tubuhnya, hingga tak bisa berkutik lagi. Amarah Lingga dan Steve seolah menambah kekuatan tempur mereka, yang sanggup mengadapi lawan dengan jumlah yang tak seimbang.


Steve terlihat terengah-engah setelah mengahajar beberapa pria, dan menoleh ke arah Mira berada, bermaksud melihat kondisinya. Namun, ia segera memalingkan wajahnya, kala melihat tubuh Mira yang hampir telanjang dalam kondisi terlentang begitu menantang di atas ranjang.


Lingga seakan terbakar, kala melibat Marinya diperlakuakan kurang ajar seperti itu. Dia maju dan mendekati Mira. Pria itu menutupi tubuh si ratu es yang hampir polos dengan selimut, hingha menutupi seluruhnya.


"Sebaiknya, kau bawa di ke rumah sakit sekarang juga. Biar aku yang membereskan semuanya di sini," ucap Steve dengan terus memalingkan pandangannya.


Tanpa menyahut, Lingga pun mengangkat tubuh Mira yang telah tergulung selimut tebal, dan membawanya menuju ke delan, di mana mobilnya terparkir.


Tepat saat itu, Nicholas datang setelah mendapat panggilan dari Lingga sebelumnya, untuk datang ke Grand moon dengan membawa serta anak buahnya.


"Bereskan tempat ini. Urus semua yang terlibat atas kejadian di sini," perintah Lingga.


...๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹...


Lingga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga membuat para pengemudi lain mengeluh akibat ulahnya yang mengebut di jalanan.


"Tolong ... panas ...," erangan lirih Mira, terus membuatnya menginjak pedal gas semakin dalam.


Brengs*k! Beraninya mereka melakukan hal mengerikan seperti ini kepada Mari, batin Lingga yang terus merutuki semua yang menimpa Mira malam ini.


Lingga bisa saja membantu Mira agar dia tak merasa tersiksa lagi saat itu juga. Namun, dia tak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan, memanfaatkan kondisi Mira hanya untuk sekedar kepuasan.

__ADS_1


Dia lebih memilih wanitanya kesakitan sebentar lagi, dan bisa ditangani dengan baik oleh tim medis. Terlebih, pria itu ingin agar Mira mendapat keadilan atas semua kejadian malam ini yang telah menimpanya.


Sesampainya di rumah sakit, Lingga langsung menggendong Mira keluar dari mobil, dan masuk ke dalam ruangan IGD.


"Cepat tolong dia, Sus. CEPAT!" Pekik Lingga kepada seorang perawat yang berada di depan runag IGD.


"Anda sebaiknya menunggu di luar. Kami akan segera lakukan penanganan terhadap pasien," ucap sang perawat.


"Tapi, saya minta yang menangani adalah dokter perempuan, Sus. Ini demi kehormatannya," ucap Lingga.


Perawat itu mengerutkan keningnya dan melihat sekilas ke arah pasein yang baru saja datang itu. Ia pun mengerti saat mendengar rintihan Mira, terlebih kondisinya yang terbalut rapat oleh selimut.


"Baik. Kami akan panggilkan seorang dokter perempuan kemari. Silakan Anda tunggu di luar," ucapnya.


Lingga pun kemudian bersedia menunggu di luar, hingga seorang dokter wanita berkaca mata nampak berlari menuju ke ruangan IGD.


Dari kaca tembus Pandang, pria itu bisa melihat jika Mira tengah mendapatkan penanganan medis.


Di sela waktu menungunya, seorang perawat keluar, dan menghampiri Lingga yang masih betah berdiri mengawasi Mira dari luar ruangan.


"Baik, Sus." Lingga pun bergegas menuju ke tempat administrasi dan mengurus semuanya. Dia meminta ruang VVIP sebagai ruang perawatan untuk Mira.


Cukup lama, sekitar tiga puluh menit kemudian, nampak perawat keluar dan mendorong brangkar dengan Mira yang berada di atasnya.


Lingga yang baru saja kembali dari bagian administrasi pun, mengikuti ke mana mereka membawa wanitanya itu.


Sesampainya di sana, para perawat yang membawa Mira, menyetel peralatan yang digunakan agar sesuai dengan yang di butuhkan oleh pasien.


Selang infus, dan juga selang oksigen menempel di tubuh wanita itu. Alat EKG pun tak luput bertebaran di dada Mira.


Wanita yang sebelumnya hampir telanjang, kini telah mengenakan pakaian rumah sakit, di bantu oleh para perawat yang menanganinya.


"Pasien sudah tenang. Biarkan dia istirahat. Kami permisi dulu. Jika ada apa-apa, silakan segera tekan tombol biru di samping tempat tidur," seru perawat tadi.


"Baik. Terimaksih, Sus," ucap Lingga.


Sepeninggal para perawat itu, Lingga pun duduk di kursi yang ada di samping Mira. Ia menatap wanitanya itu dengan tatapan sendu. Ada rasa sesal di hatinya, karena tak bisa datang menyelamatkannya lebih cepat.

__ADS_1


Pria itu meraih tangan Mira, dan menggenggamnya erat. Sesekali, dia mengecup punggung tangan wanita esnya dengan lembut.


Dia terus menunggu Mira bangun, dan satu jam setelah Mira dipindahkan, Nicholas datang bersama dengan Steve, yang juga ikut pergi untuk melihat kondisi Mira.


"Tuan, mereka semua sudah diamankan. Kita tinggal tunggu perkembangan dari pihak yang berwajib," ujar Nicholas melaporkan kondisi terakhir Grand moon dan orang-orang yang telah mencelakai Mira.


"Bagus. Kamu boleh pulang sekarang, Nick." Lingga tak menoleh sedikit pun dengan nada datar.


Dia terus saja memandangai wajah wanita yang kini tengah terpejam.


"Bagaimana kondisinya? Apa yang dokter katakan?" tanya Steve yang juga khawatir dengan Mira.


"Hasil fisumnya belum keluar. Tapi, dia sekarang sudah baik-baik saja. Sebaiknya, Anda juga pergi dari sini," ucap Lingga datar.


"Ijinkan aku tetap di sini, setidaknya sampai hasil pemeriksaannya keluar. Aku hanya ingin memastikan dia benar-benar tidak apa-apa," pinta Steve.


Lingga diam tak merespon. Nicholas yang merasakan ketegangan di antara dua orang itu pun, memilih untuk pergi.


"Ehm ... kalau tidak ada perlu lagi, saya pamit dulu, Tuan โ€ฆ Selamat malam โ€ฆ Selamat malam, Tuan Lee," pamit Nicholas kepada dua orang pria tersebut.


Setelah Nicholas pergi, Steve pun duduk di sofa yang ada di dalam kamar rawat tersebut. Karena tak mendapat respon dari Lingga, dia pun menyimpulkan sendiri jika tak apa bila dirinya menunggu sebentar di sana.


Tak lama berselang, dokter wanita yang menangani Mira sebelumnya, masuk dan menghampiri Lingga yang berada di dekat pasien, sambil membawa sebuah map berisi berkas laporan pemeriksaan kondisi Mira.


Steve yang melihat pun bangkit dan menghampiri mereka.


"Bagaimana, Dok?" Tanya Lingga yang hanya menoleh sekilas, dengan tangan yang terus menggenggam erat tangan wanitanya.


.


.


.


.


Jangan lupa like dan komen yah๐Ÿ˜Š kembang ma kopi juga boleh banget๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2