Mirage

Mirage
Luapan kekecewaan


__ADS_3

"Dari awal gue nggak punya siapa-siapa. Jadi, dia juga bukan siapa-siapa, yang harus gue sesalin," sahut Mira.


"Tapi, dia pasti bakal jadi bulan-bulanan yang lainnya, setelah semua yang udah dia lakuin ke elu. Apa lu nggak papa kalau dia sampai dibuli habis-habisan nantinya?" tanya Tania.


"Cih … sejak kapan lu peduli ama orang? Bukannya hidup lu itu selalu mentingin diri sendiri ya … hah …," cibir Mira sambil melirik ke arah rival kerjanya.


"Yah … gue akui, kalau gue emang lebih pinter dari elu," puji Tania pada dirinya sendiri.


Mira hanya melirik sekilas, sambil memutar bola matanya, merasa jengah dengan sikap sok nya Tania.


"Emang bener kok. Nih ya, pertama, gue nggak pernah baik sama orang, karena orang itu kek ular. Disayang-sayang malah matuk. Ujung-ujungnya sakit deh,"


"Kedua, gue selalu mikir pake logika. Kalau menurut gue baik, ya gue dukung. Tapi kalo salah, sekali pun gue suka, tapi gue tentang. Contohnya kek kasus elu sama si Sisi."


"Jujur, gue seneng lihat lu susah, tapi nggak gitu caranya. Dia bermain kotor, nggak elegan kek gue," cerocos Tania.


"Serah lu deh, Tan. Lu mo ngomong apa juga, gue udah nggak peduli. Tapi gue akui satu hal, meskipun elu nggak pernah suka sama gue, tapi gue haragai cara elu bersaing," puji Mira.


"Oh … jelas," sahut Tania dengan sombongnya.


Keduanya pun tersenyum dan tertawa bersama, setelah saling puji yang diselipkan dalam ejekan masing-masing. Ciri khas komunikasi di antara Tania dan Mira, yang walaupun sering terjadi pertikaian. Namun sebenarnya mereka saling mengagumi satu sama lain.


"Thanks, ya. Kalau elu nggak kasih tau Tuan Lingga dan Steve, pasti gue udah ancur," ucap Mira.


Tania menoleh dan memiringkan kepalanya menatap lekat wajah Mira. Mira pun membalas menoleh dan menatap lurus ke arah mata rekannyanya itu.


"Yah, gue cuma kebetulan berada di tempat dan waktu yang tepat," sahut Tania sambil memalingkan wajahnya dan menghadap ke jalanan.


"Iya, pokoknya thanks," ucap Mira lagi.


"Apaan thanks doang, ini nggak gratis ya. Lu mesti bayar lain waktu," rutuk Tania.


"Serah lu deh, Tan. Gue mah b*do amat," timpal Mira.


"Inget baek-baek lu ye. Lu punya utang ma gue, hahahah …," kelakar Tania dengan tawanya.


"Hadeh … gilanya kumat," gumam Mira.


"Eh … Semok, gue denger ya," ujar Tania.


"Terus mo apa lu, Bapuk?" sahut Mira.


Keduanya pun kembali terlibat pertengkaran unfaedah yang sering sekali terjadi di antara keduanya.


Tak berselang lama, nampak dari kejauhan sebuah mobil tengah menuju ke arah klub malam itu. Tania seketika tau jika itu adalah mobil Lingga. Ia bisa melihat itu saat Mira menatap kendaraan tersebut dengan senyuman.


"Gue balik ke dalem deh kalo gitu. Inget, bayar utang lu," seru Tania.


"Si*lan lu," sahut Mira tersenyum melihat kepergian rekan kerjanya.


Mobil itu pun kini sudah terparkir tepat di depan lobi. Lingga membuka kaca mobil, dan menyembulkan sedikit kepalanya.


"Kok di luar?" tanya Lingga.


"Sebenernya emang udah mau pulang dari tadi. Tapi si Tania gesrek ngajakin berantem mulu," sahut Mira yang menghampiri Lingga.


"Ya udah, masuk yuk!" ajak Lingga.


Mira pun berjalan memutar dan naik lewat pintu yang dibukakan Lingga dari dalam.


Mereka kembali ke The Royal Blossom, karena Mira mengaku pusing dan ingin istirahat saja di rumah.


"Kamu beneran nggak papa?" tanya Lingga saat melihat Mira terus melamun sambil menatap keluar jendela.


"Ehm … aku baik-baik aja kok, Kak," sahut Mira yang terdengar begitu tak bersemangat.

__ADS_1


Aneh. Biasanya sehabis dari paradise fall, dia selalu ceria, batin Lingga yang merasa ada yang aneh dengan diri Mira saat ini.


Setibanya di apartemen, wanita itu pun cenderung diam. Mereka berjalan beriringan, tapi sepatah kata pun tak terlontar dari bibir masing-masing.


Lingga ingin membuka pembicaraan, akan tetapi dia tak ingin salah bicara lagi seperti tempo hari tentang mimpi buruk yang dialami Mira.


Saat mereka tiba di kamar, tiba-tiba Mira berbalik dan menyerang Lingga. Wanita itu serta merta menarik tengkuk pria itu dan ******* bibir seksinya.


"Eng …," Lingga yang tersentak kaget dengan serangan tiba-tiba Mira pun mengerang kecil karena kuwalahan akibat tak siap menerima cium*n si ratu es itu.


Mira begitu agresif malam ini. Dia dengan kasar membuka kemeja Lingga hingga beberapa kancing bajunya lepas dan terjatuh di lantai.


Lingga berusaha melepaskan p*gutan wanita itu, tetapi Mira terus menautkan bibirnya dan tak ingin melepasnya. Dia pun terdorong hingga kakinya membentur ranjang, dan Lingga pun terdorong dan jatuh ke atas ranjang dengan posisi Mira menindihnya.


Wanita itu akhirnya melepas pagutannya dan duduk mengangkangi Lingga tepat di atas perut pria itu.


Wajahnya tertunduk. Nampak bulir bening menetes di pipinya. Lingga pun melihat hal itu.


"Mir," panggilnya sambil mengusap lembut pipi wanitanya.


Mira mengangkat wajahnya, dan jelas terlihat jika dia saat ini sedang menangis.


"Kak, tolong aku," pinta Mira.


Lingga pun segera bangun dan duduk dengan Mira yang masih berada di atasnya. Dia kemudian mendekap wanitanya itu masuk ke dalam dada bidangnya yang terasa hangat.


"Sssttt … tenang. Ada aku di sini," ucap Lingga.


Mira mengurai pelukan pria itu, dan menatapnya lekat-lekat dengan tatapan yang begitu sendu.


"F*ck me, please (bercintalah denganku)," pinta Mira.


Lingga menatap lekat manik hitan Mira. Wanitanya kini terlihat sangat rapuh, tak seperti Mira yang biasanya ia kenal.


Lidahnya terjulur dan mengundang Lingga untuk masuk ke dalam rongga mulutnya. Keduanya saling membelit dan menyesap mereguk manisnya bibir masing-masing.


Lingga menurunkan resleting gaun Mira yang berada di bagian belakang gaunnya. Dengan perlahan, ia menurunkan gaun wanita itu hingga melingkar di perutnya.


Ia melepas pengait kain pembebat dada wanita itu, dan membebaskan kedua bulatan padat yang selalu memacu h*sratnya.


"Eeehhhhmmmm …," leng*han lirih terdengar saat tangan Lingga mengusap lembut kedua gundukan sintal yang begitu menantang.


Ci*man mereka terurai dan Lingga beralih ke leher jenjang Mira, dan mengecupnya sembari menyesapnya beberapa kali.


"Aaahhhhh …," suara-suara indah keluar dari mulut wanita cantik itu, seiring sentuhan Lingga yang mendarat di tubuhnya.


"Eeeehhhhmmmmm …," Mira kembali merintih, kala bibir Lingga menyesap dengan lembut puncak merah muda wanita itu, dan sesekali memberi gigitan kecil di sana yang membuat Mira semakin menggelinjang.


Lingga terus menatap wajah wanitanya, yang nampak menikmati setiap sentuhannya. Namun, air mata terlihat masih mengalir dari sudut matanya.


Apa yang telah terjadi padamu, Mir? batin Lingga.


Saat pikirannya terus bertanya tentang kondisi Mira, tubuhnya terus memberikan kepuasan kepada wanitanya yang terlihat sedih itu.


Puas bermain dengan kedua gunung kembar yang padat, kini Lingga menurunkan Mira dan duduk di bibir ranjang.


Lingga turun dan berlutut di hadapan Mira. Ia membuka kaki wanitanya dan mengangkatnya hingga menginjak pada sisi ranjang.


Mira terdorong ke belakang dengan kedua tangannya menyangga tubuh ke belakang.


"Eeehhhmmmm … aaaaahhhhh … Kak …," desah Mira saat lidah Lingga mulai terjulur ke dalam lembahnya.


Wajahnya mendongak ke atas, seiring permainan lidah pria itu yang lincah mengaduk-aduk lembah Mira yang telah basah.


Sesekali ia menyesap buah mungil yang ada di antara lembah itu, dan membuat Mira seketika mengangkat pinggulnya hingga semakin membenamkan mulutnya di dalam sana.

__ADS_1


"Aaahhhhhh … kak … eeehhhhmmmm … f*ck me … Aaahhhh …," rintih Mira yang semakin melayang seiring dalamnya lidah Lingga yang masuk ke dalam liang lembahnya.


Mira mer*mas sprei yang ada di sekitarnya, dengan mulut yang terbuka dan suara-suara merdu terus bergema di ruangan itu.


Lingga menyudahi aksinya. Dia pun bediri dan melepas celana yang masih menempel di tubuhnya.


Dia masih berdiri di atas lantai, dengan Mira yang sudah merebahkan diri di atas ranjang, dengan pinggul dan kaki yang berada di bibir tempat tidur.


Lingga memegangi kedua lutut Mira dan memandangi wajah wanita itu yang sudah memerah dan dadanya yang naik turun begitu menggodanya.


Ia pun memegangi miliknya yang sudah mengeras, dan mengarahkannya ke milik Mira.


"Aaahhhhhh …," des*h Mira saat teripang darat pria itu melesak masuk ke dalam lembahnya.


Lingga memacunya perlahan, sambil membiasakan lembah Mira dengan miliknya yang bak monster teripang.


"Aaarrgghhh … kenapa kau nikmat sekali, Mir. Ini sangat sempit … eeeehhhhmmmm …," racau Lingga yang sudah dikuasai oleh g*irahnya.


Suara-suara lenguhan dan des*han mereka berdua saling bersahutan.


"Kak … aaaahhhh … aku bebci dia … aaaaahhhhhh …," racau Mira yang juga telah hanyut dalam permainan Lingga disela kesakitan hatinya akibat penghianatan dari Sisi, temannya.


"Lupakan untuk sekarang, Sayang … aaaahhhh … kita nikmati malam ini bersama … aaaahhhhh …," Lingga memacu semakin cepat seiring dengan h*sratnya yang kian memuncak.


Mira terus meliuk-liuk seiring pacuan pria itu, dengan pinggulnya yang bergerak seirama dengan pompaan Lingga.


"Kak aku … eeeehhhhmmmm …," rintih Mira yang telah mencapai puncaknya.


"Lepaskan, Sayang … oh nikmat sekali, Mir … aaaahhhhh …," seru Lingga yang semakin cepat memompa miliknya.


Mira mengejang, kedua tangannya merem*s kuat sprei yang ada di sekitarnya.


"Kak, aku … Aaaahhhhhhhhh … aaaaaahhhhhhh …," des*han panjang menandai pelepasannya.


Lingga pun terus memacu miliknya dan tak lama, dia pun mencapai puncaknya.


"Mira, aku datang … aaaarrrrggghhh … aaaarrrgghhhh … aaaahhhhhh …," Lingga menupukan badannya pada kedua lutut Mira yang tertekuk, sambil mengusap peluh yang mengalir di wajah dan rambutnya.


Nafas keduanya terengah-engah, dan penyatuan mereka belum terlepas.


.


.


.


.


Buka cuma nyai sama bang lingga aja yg capek, othor juga ngetiknya capek😫


Malak kopi boleh nggak dih🤭


Sambil nunggu up besok, yuk mampir ke novel temen othor, judulnya Oh … my lady


Poppy ditinggal meninggal oleh suaminya ketika hamil 2 bulan. Sebagai seorang wanita hamil ia memerlukan seseorang untuk mendukung dan menjadi sandaran hidupnya.


Budi seorang pemuda pekerja keras dan menjadi orang kepercayaan Rangga atasanya di kantor.


Pada suatu hari sebelum meninggal dunia Ranga menitipka istrinya yang sedang hamil 2 bulan kepada Budi untuk dilindungi.


Dapatkah Budi menjalankan amanah yang diberikan oleh Rangga?



yang kepo, yuk cus meluncur ke novelnya

__ADS_1


__ADS_2