
"Perkenalkan, saya Ricard Moris. Pengacara Tuan Thomas Wiratmaja," ucap pria itu.
Lingga nampak terkejut dengan kedatangan tamu yang sama sekali tak disangka.
Pengacara Thomas? Mau apa dia kemari? batin Lingga.
"Tuan Lingga? Apa Nona Mira masih tinggal di sebelah?" tanya Moris lagi karena pria di hadapannya tak kunjung memberinya jawaban.
"Oh … maaf, Tuan Moris. Tapi, bisa kah saya melihat KTP Anda? Hanya untuk berjaga-jaga saja," ucap Lingga.
Pria itu tak ingin lagi kecolongan seperti sebelumnya, dan membiarkan peneror masuk dengan mudah ke dalam tempat tinggalnya, apa lagi mengancam keselamatan Mira.
Moris nampak membuka tasnya, dan mengambil sesuatu dari sana.
"Ini KTP, passport, dan SIM saya. Silakan bisa Anda periksa sendiri," ucap Moris sembari menyerahkan semua dokumen pribadinya kepada Lingga.
Pimpinan Shine group itu pun menerimanya dan melihat satu persatu dokumen tersebut.
Semuanya sesuai. Tidak ada yang aneh dari orang ini, batin Lingga.
"Baiklah. Saya kembalikan lagi," ucap Lingga yang menyerahkan kembali semua dokumen tersebut.
"Jadi bagaimana Tuan Lingga? Apa saya bisa bertemu dengan Nona Mira?" tanya Moris kemudian
"Unit itu masih milik Mira. Namun, dia sudah tak tinggal lagi di sana. Wanita itu ada di sini. Dia tinggal bersama denganku," jawab Lingga.
"Bisa saya bertemu dengannya?" ujar Moris.
"Masuklah," sahut Lingga.
Pria itu pun menyingkir dari depan pintu dan memberi jalan kepada tamunya untuk masuk. Mira melihat kehadiran orang asing lagi di tempat tinggalnya dan membuat wanita itu beranjak dari duduknya.
"Tuan Moris, silakan duduk di sini," seru Lingga mempersilakan tamunya duduk di ruang tamu.
Dia berjalan menghampiri Mira yang berdiri dengan tatapan penuh tanya ke arah Lingga.
"Kak, itu siapa?" tanya Mira seketika saat Lingga telah berdiri di hadapannya.
"Dia Tuan Moris, pengacara Thom. Dia bilang, dia ingin bertemu denganmu," tutur Lingga sambil mengusap belakang kepala Mira.
"Menemuiku? Untuk apa?" tanya Mira.
__ADS_1
"Aku juga tak tau. Sebaiknya, kamu temui dia. Aku akan ambilkan minum dulu untuknya," seru Lingga.
Mira menahan lengan Lingga, dan menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Lingga seakan mengerti arti tatapan Mira itu, dan mengusap puncak kepala wanitanya dengan lembut.
"Baiklah. Kamu tunggu di sini, dan kita akan menemuinya bersama-sama," seru Lingga kemudian.
Pria itu kemudian berjalan menuju dapur dan mengambil jus buah segar kemasan yang ada di sana. Setelah menuangnya ke dalam gelas, Lingga pun berjalan ke arah Mira, dan mengajak wanita itu untuk menemui sang pengacara.
"Tuan Moris. Ini Mira," ucap Lingga sambil meletakkan minuman di atas meja.
"Duduklah di sini," ucap Lingga kepada wanitanya.
Mira nampak ragu untuk duduk, namun Lingga terus berada di sisinya untuk menjaga wanitanya.
"Selamat siang, Nona Mira. Perkenalkan, saya Ricard Moris. Pengacar Tuan Thomas Wiratmaja," ucap Moris.
"Ha … halo, Tuan Moris. Saya Mira. Ada apa Anda mencari saya?" tanya Mira ragu-ragu.
"Saya datang mencari Anda atas wasiat yang ditinggalkan oleh Tuan Thomas. Sebelum meninggal, beliau sempat meminta saya untuk mengurus berberapa hal mengenai Anda," tutur Moris.
Mira nampak memicingkan matanya dengan kedua alis yang berkerut.
"Jadi, di mana Anda selama ini?" tanya Lingga yang mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
"Saya selama beberapa bulan ini pergi kesebuah negara, di mana Tuan Thomas sudah menyediakan tempat untuk saya tinggal, dan jauh dari jangkauan orang yang ingin mencelakai saya," ungkap Moris.
"O … orang yang ma … mau mencelakai Anda?" tanya Lingga yang tampak begitu terkejut dengan penuturan sang pengacara.
"Benar, Tuan," sahut Moris.
"Tapi kenapa? Apa Anda berbuat salah dengan seseorang?" tanya Mira yang tak mengerti dengan semua yang dikatakan oleh Moris.
"Tidak, Nona. Saya tak berbuat salah kepada siapa pun. Hanya saja, surat wasiat Tuan Thomas lah yang membuat saya terancam," ucap Moris.
"Memangnya apa isi surat wasiat itu?" tanya Lingga yang semakin tidak sabar.
Moris nampak meletakkan tasnya di atas meja, dan membuka pengaitnya agar kuncinya terlepas. Dia nampak mengambil sebuah map dan meletakkannya di pangkuan, kemudian menutup kembali tas kopernya.
"Tuan Thomas meminta saya untuk menjaga ini selama kurang lebih tiga bulan setelah kematianya, dan meminta saya untuk menemui Anda di apartemen sebelah. Namun rupanya, Anda sekarang berada di sini bersama dengan Tuan Lingga," ucap Moris.
"Apa Thomas melarangku untuk mendengar wasiatnya?" tanya Lingga yang merasa tersisih.
__ADS_1
"Tentu tidak. Tuan Thomas bahkan memintaku untuk turut membawa Anda agar bersama-sama menyaksikan pembacaan wasiat ini di depan Nona Mira," jawab Moris.
"Jadi, cepat kau bacakan surat itu," seru Lingga.
"Baiklah," sahut Moris.
Saya, yang bernama Thomas Wiratmaja, dengan ini menunjuk Mira alias Maria, sebagai anak angkat saya yang sah, dibuktikan dengan surat keterangan adopsi dan kartu keluarga terbaru. Sekaligus menunjuknya sebagai ahli waris tunggal atas seluruh harta kekayaan beserta aset saya. Baik yang bergerak maupun yang tidak. Jika dikemudian hari terjadi sesuatu dengan Mira alias Maria, semua aset akan dilimpahkan kepada Tuan Lingga Arya Putra Wijaya, untuk dikelola sebagai badan amal beratas namakan Maria. Surat ini saya buat dengan sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun. Tertanda, Thomas Wiratmaja.
Mira meraih tangan Lingga dan mer*masnya kuat-kuat. Dia tak percaya dengan apa yang diucapkan oeh sang pengacara barusan.
Lingga seakan tahu apa yang ada dipikiran wanitanya. Dia pun mengusap lembut pundak Mira, mencoba menenangkan si ratu es.
Seusai membacakan surat wasiat tersebut, Moris menyodorkan map tersebut ke depan Mira.
"Silakan Anda tanda tangani ini di sini, sebagai bukti jika Anda telah menerima wasiat dari Tuan Thomas," ucap Moris.
"Nggak! Nggak mungkin. Ahli waris tunggal? Bukanya dia punya istri? Bagaimana dengan istrinya? Aku tidak mau mengambil hak orang lain. Nggak," tolak Mira.
"Sebelumnya saya mohon maaf, tapi hubungan antara Tuan Thomas dan istrinya tak lebih dari sekedar suami istri di atas kertas. Tidak pernah ada apapun di antara mereka. Ibu Soraya sudah memiliki sendiri asetnya yang didapat dari Tuan Thomas semasa beliau masih hidup. Jadi, Anda tidak merebut milik siapapun, karena ini semua hak milik dari Tuan Thomas yang sah secara hukum diberikan kepada Anda," jelas Moris panjang lebar.
Mira masih bergeming, dan tak mau membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut.
"Ehm … Tuan Moris, sepertinya Anda perlu memberi Mira waktu untuk memikirkan hal ini. Aku yakin dia terlalu terkejut karena ini semua sangat mendadak. Ditambah, rasa kehilangannya akan kepergian Thomas masih jelas terasa hingga saat ini. Mohon pengertian Anda," ucap Lingga yang mencoba memberi pengertian kepada pengacara itu.
"Baiklah. Tapi, saya akan kembali ke luar negeri malam ini juga. Jika memang Anda sudah memutuskan, silakan hubungi saya di nomor ini," pesan Moris sembari menyerahkan secarik kertas bertuliskan nomor telepon luar negeri.
"Baiklah. Kami hargai usaha Anda untuk menjaga wasiat Thomas. Terimakasih atas kerja samanya," ucap Lingga.
Moris pun meninggalkan salinan surat wasiat dari Thomas untuk Mira, dan mengambil kembali surat yang asli dan akan dibawanya kembali ke luar negeri.
Setelah itu, sang pengacara pamit pergi, meninggalkan Mira yang masih tertegun dengan pikirannya sendiri.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1