Mirage

Mirage
Aku janji


__ADS_3

Mira tengah berdiri di depan cermin, sambil memandangi penampilannya siang itu. Sebuah kemeja putih tulang, dipadu rok abu-abu strip hitam dengan ikat pinggang besar berwarna gelap, serta high heel senada dengan bawahannya, ia pilih sebagai out fit untuk makan siang bersama dengan Lingga.



Rambut hitamnya ia biarkan tergerai, dan sedikit di buat ikal di ujungnya.


Terdengar bunyi pengunci otomatis di pintu masuk terbuka, pertanda jika Lingga sudah sampai.


Mira pun segera meraih tas yang sudah ia siapkan sebelumnya, dan berjalan keluar dari kamar.


Mereka berdua berpapasan di tangga, ketika Lingga hendak naik dan Mira hendak turun.


"Sudah siap?" tanya Lingga sambil mengulurkan tangannya ke arah Mira.


"Sudah dong," sahut wanita itu menyambut tangan Lingga.


Mereka berdua pun berjalan keluar dari apartemen menuju parkiran, dan pergi dengan menggunakan mobil Lingga. Mereka akan berkunjung ke sebuah restoran bintang lima yang ada di ibu kota.


Sepanjang jalan, Lingga tak henti-hentinya menggenggam jemari Mira, seolah ia takut jika ada yang akan mengambilnya.


Mira pun merasa aneh dengan sikap posesif Lingga saat itu, dan terus melihat ekspresi wajah prianya tersebut.


"Kak, kamu beneran nggak kenapa-napa?" tanya Mira.


Lingga pun menoleh sekilas, dan tersenyum. Lalu kemudian kembali fokus menghadap ke depan.


"Aku nggak papa, Mir," ucap Lingga sembari mengecup jemari Mira yang ada di dalam genggamannya.


"Yakin?" tanya Mira memastikan.


"Yakin, Sayang." Lingga kembali menoleh dan mengulas senyum ke arah ratu esnya.


Mira pun berhenti bertanya, dan memilih membalas genggaman tangan Lingga.


Sesampainya mereka di restoran, Lingga membawa Mira menuju ke sebuah ruangan VIP di mana hanya ada satu meja dan dua kursi, dengan view taman bunga yang ada di belakang restoran, dan terhalang sekat kaca.


Ruangan itu tertutup rapat, dan meskipun bisa melihay pemandangan di luar, tetapi tidak ada yang bisa dilihat orang yang berada di luar, karena kaca itu adalah kaca refleksi satu arah.


Lingga menarikkan kursi untuk Mira dan mempersilakan wanitanya duduk.


"Terimakasih," ucap Mira.


"Sama-sama, Cantik," sahut Lingga mengerlingkan sebelah matanya.


"Isshhh ... gombal," gerutu Mira namun sembari tersenyum.


Tak berselang lama, beberapa pelayan masuk sambil membawa pesanan yang sebelumnya sudah di pesan oleh Lingga.

__ADS_1


"Udah pesen?" tanya Mira.


"Kenapa? Nggak suka ya?" tanya Lingga.


Beberapa hidangan telah tersaji di atas meja. Mira nampak tersenyum melihat semua hidangan yang telah dipesan untuknya.


"Nggak buruk juga. Aku suka kok," ucap Mira saat semuanya telah tersaji.


Pelayan-pelayan itu pun kembali keluar dan meninggalkan mereka berdua.


Lingga tampak mulai memotong-motong steak di depannya, sedangkan Mira memilih menikmati red wine-nya terlebih dahulu.


"Ehm ... ini memang yang terbaik," ucapnya sambil kembali menyesap wine di tangannya.


Lingga selesai memotong steak dan menukar piringnya dengan milik Mira.


"Makanlah. Tidak baik minum saat perut masih kosong," seru Lingga.


Mira pun meletakkan gelasnya, dan mulai mengangkat garpu yang berada di sebelah kirinya.


"Ehm ... ini lezat, Kak," ucap Mira yang menikmati makanannya.


"Syukurlah kalau kau suka," sahut Lingga yang juga menyuapkan sepotong daging ke mulutnya.


"Oh iya, tadi Nick sudah ke apartemen dan dia memberiku banyak sekali benda itu dengan berbagai merek. Apa kau yang menyuruhnya, Kak?" tanya Mira.


"Ehm … aku? Tidak. Aku hanya memintanya membeli benda itu saja," elak Lingga.


"Mana ku tau, Mir. Memangnya aku memakai benda mengerikan itu juga, hah? Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Kita sedang makan, oke," seru Lingga.


"Oke," sahut Mira yang kembali menyuapkan sepotong daging ke mulutnya, sambil menikmati pemandangan taman bunga di hadapannya.


Lingga melihat wanitanya itu begitu menikmati suasana di restoran yang ia pilih. Dia tau jika kesukaannya akan keindahan bunga-bunga tak pernah hilang dari dulu.


Dia bahkan memilih hunian di mana terdapat taman bunga raksasa, yang menjadi pusatnya. Ditambah, lukisan sketsa gazebo di tengah hamparan bunga-bunga di halaman rumah lamanya dulu, membuat Lingga mencari tempat makan dengan view seperti itu.


Setelah selesai menyantap menu utama, Mira memilih red velvet sebagai hidangan penutup di antara yang sudah dipesan oleh Lingga.


"Mir, setelah ini kamu ikut aku ke kantor yah," ajak Lingga sambil menyesap wine-nya.


"Ehm … kenapa, Kak?" tanya Mira sambil meng*lum garpu ditangannya.


Lingga nampak memperhatikan gerakan bibir wanita itu tanpa berkedip, membuat ia kesusahan menelan ludah.


"Ehem … ehm … hanya ingin saja. Nggak mau?" tanya Lingga yang berusaha membuang kegugupannya.


"Bukan gitu, Kak. Kakak yakin ngajakin aku ke sana? Kakak nggak lagi mabuk cuma gara-gara minum sedikit, kan?" tanya Mira bertubi-tubi membuat Lingga keheranan.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Kamu aneh sekali tanyanya, Mir. Apa salah ngajakin someone special ke kantor sendiri?" tanya Lingga yang tak mengerti jalan pikiran Mira.


"Someone special? Memangnya aku ini apanya Kakak?" tanya Mira enteng, namun seketika membuat Lingga tertegun.


Ia baru sadar jika hubungannya dengann si ratu es belum jelas.


Melihat Lingga terdiam, entah kenapa ada rasa sakit di hati Mira. Seolah semakin memperjelas, siapa dirinya di hati pria itu.


Kenapa juga gue melow gini. Udah jelas kan kalau dari awal emang hubungan ini nggak lebih dari sebuah pekerjaan. Apa sih yang mau gue harapkan, batin Mira menepis semua kegundahan di hatinya.


"Sebaiknya, kau jangan memperlihatkan aku ke muka umum, Kak. Siapa tau di antara banyaknya karyawanmu, ada salah satu yang mengenaliku. Aku nggak mau kamu malu nantinya," ujar Mira sambil kembali memakan red velvet-nya.


Entah kenapa mendengar hal itu, hati Lingga terasa panas. Dia seperti tak terima dengan ucapan Mira.


"Apa kasudmu aku akan malu, Mir? Apa kau kira aku nggak serius sama kamu?" cecar Lingga.


Mira pun meletakkan garpunya di atas meja, dan menatap lekat pria yang tengah memandanginya.


"Kak, aku ini apa kau pasti tau. Dan hubungan kita, bukankah hanya sekedar saling menguntungkan saja …," ucap Mira


BRAK!


Lingga seketika menggebrak meja karena lagi-lagi dia tak terima dengan perkataan Mira.


"Apa maksudmu berkata begitu, Mir?" tanya Lingga dengan tatapan nyalang.


Mira mengelap mulutnya dengan serbet, lalu kemudian bangkit berdiri.


"Kak, aku tau diri. Maka itu aku nggak mau berharap banyak. Kita sangat berbeda. Aku siapa dan kau siapa, sudah jelas sangat jauh berbeda." Mira nampak memalingkan wajahnya, tetapi Lingga bisa menangkap lapisan bening di matanya mulai menumpuk.


"Cukup kita seperti sekarang ini saja, jangan pernah membuatku berharap lebih dari ini. Rasanya sakit, Kak. Saat menginginkan sesuatu yang tak tergapai. Jadi ku mohon … Eeehhhhmmm …," ucap Mira.


Lingga tak bisa lagi mendengar kata menyakitkan itu dari mulut Mira. Dia maju dan seketika meraih tengkuk wanita itu, dan membungkam mulut Mira dengan bibirnya.


Mira tak berontak. Dia memilih diam. Lelehan bening lolos dari pelupuk matanya, dan masuk ke celah pagutan Lingga.


Pria itu melepas ciumannya, dan menempelkan keningnya ke kening Mira. Dia menangkup kedua pipi Mira, dan menatap lekat kedua manik hitam ratu esnya itu.


"Jangan pernah mengatakan hal semenyakitkan itu, Mir." Lingga mengusap jejak lelehan di pipi dengan ibu jarinya.


"Aku tau, selama ini aku tak pernah memperjelas hubungan kita. Namun, tunggulah sebentar lagi, hingga aku bisa mewujudkan mimpiku, dan kita bisa bersama selamanya. Aku akan menjadikanmu istriku," ucap Lingga.


.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2