
Di sebuah caffe yang berada di seberang rumah sakit pusat ibu kota, Lingga dan Steve tengah duduk berhadapan di sebuah meja yang ada di salah satu sudut.
Steve nampak bertopang kaki, dengan punggung yang bersandar di kursi, sambil menyesap hot americano-nya.
Sementara Lingga, pria itu nampak menatap tajam ke arah pria bermarka Lee di hadapannya.
"Tidak buruk," ucap Steve sambil meletakkan kembali cangkir beserta tatakannya ke atas meja.
Pria itu kembali bersandar, dan melipat kedua lengannya di depan dada.
"Baiklah. Sekarang katakan, ada urusan apa Anda dengan saya, Tuan Lingga?" tanya Steve dengan nada datarnya.
"Ini tentang rencana kerja sama kita tempo hari, yang belum sempat kita bicarakan," ucap Lingga sambil menautkan jemari tangannya dia atas meja.
Steve tampak tersenyum mengejek ke arah Lingga, yang terlihat begitu serius memperhatikan pria bermarga Lee itu.
Steve mengurai kedua lengannya yang terlipat, dan memajukan tubuhnya ke depan, sambil menumpukan kedua lengannya di atas meja.
"Saya merasa tersinggung atas perlakuan Anda tempo hari. Jadi, saya ingin sebuah permintaan maaf dari Anda." Steve menatap tajam ke arah Lingga, dengan kata-kata yang penuh penekanan.
Lingga mengerutkan keningnya. Dia penasaran, apa maksud perkataan Steve sebenarnya.
Hanya minta maaf? Aku nggak yakin akan semudah itu, batin Lingga.
"Permintaan maaf yang seperti apa maksud Anda?" tanya Lingga.
Steve kembali tersenyum dengan mengangkat sebelah sudut bibirnya, dan terlihat begitu mengerikan dengan tatapan tajam yang terus menikam netra hitam Lingga.
"Biarkan aku makan malan dengan Mira. Cukup sekali saja, dan semuanya selesai," seru Steve dengan dinginnya namun penuh penekanan.
Lingga seketika meradang. Dia tak percaya dengan permintaan pria di hadapannya itu. Dia sudah tak bisa mengendalikan emosinya jika menyankut soal Mira.
Lingga pun bangkit dan mendobrak meja.
BRAK!
"Anda sengaja memanfaatkan situasi ini untuk mendekati Mira? Jangan harap itu akan terjadi!" ucap Lingga yang telah diliputi emosi.
Steve terlihat tenang, dan sama sekali tak bereaksi. Dia bahkan kembali mengangkat cangkir kopinya, dan menyesap perlahan sambil bersandar di kursi.
"Ah … aku hanya memberimu kesempatan untuk meminta maaf. Kalau tak mau, ya sudah. Silakan cari orang lain saja untuk mengurus pembangunan department store mu itu," ucap Steve dengan senyum mengejeknya.
"Kurang ajar!" Lingga sudah tak bisa lagi bertahan.
Emosinya memuncak melihat sikap arogan pria bermarga Lee itu. Lingga memilih untuk pergi dari sana, dan meninggalkan Steve yang masih menikmati kopinya.
Sedangkan Steve, pria itu terlihat diam saat Lingga pergi. Namun, saat pimpinan Shine group itu telah menghilang dari pandangannya, senyumnya hilang dan raut wajahnya berubah datar.
"Kau tidak akan pernah bisa menemukan orang lain yang bisa menciptakan gedung impianmu, Tuan Lingga. Tidak akan pernah," ucap Steve.
__ADS_1
...💋💋💋💋💋...
Hari mulai menjelang petang. Namun, Lingga yang pergi sedari siang, sampai saat ini belum juga kembali.
Kamu di mana sih, Kak? Ngambekmu nggak lucu, batin Mira.
"Mir. Ini sudah hampir petang. Kita bedua mesti balik. Kamu nggak papa kalau ditinggal sendiri?" tanya Mom Winda.
"Ehm … nggak papa kok, Mom. Tuan Lingga mungki sedang sibuk. Sebentar lagi juga pasti ke sini. Balik aja, aku nggak papa kok," ucap Mira.
"Baiklah. Tapi kalau ada apa-kalau, cepat hubungi aku … Satu lagi, aku menunggu kejutan darimu," ujar wanita tua menor itu.
"Iya, Mom. Pulanglah … Sam, aku titip wanita tua ini yah," ucap Mira kepada Samuel dan juga Mom Winda.
"Isshh … ini anak. Kurang ajar sekali panggil aku wanita tua," keluh Mom Winda sembari mendorong pelan kepala Mira.
Namun, Mira justru terkekeh melihat kekesalan wanita tua itu, dan disahuti oleh Samuel yang juga ikut tertawa.
"Hah … dasar anak sekarang nggak ada yang punya sopan santun sama orang tua. Ayo, Sam. Kita pulang sekarang. Sebentar lagi kita harus buka," ajak Mom Winda yang meraih tas tangannya.
"Oke, Bos … Mir, kita balik dulu yah," sahut Samuel dan pamit kepada Mira.
"Oke! hati-hati ya," ucap Mira.
Keduanya pun pergi.
Kini, tinggallah Mira sendiri di dalam ruang rawatnya yang begitu besar dan mewah. Dia masih dalam posisi duduk bersandar di atas kasurnya.
Beberapa saat yang lalu, tepatnya saat Lingga sedang keluar membelikannya sarapan, ia tengah melihat hasil visumnya, dan menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan.
Ini nggak mungkin … ini bohong kan …, batin Mira yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Sebelah tangannya membekap mulit rapat-rapat, sedangkan satunya lagi nampak membelai foto hitam putih dua dimensi itu.
Lelehan bening pun lolos dari matanya, dengan perasaan yang bercampur aduk, antara senang dan juga takut.
Lama ia memandangi foto buram itu, dengan pikiran yang terus mengembara entah ke mana. Hingga sebuah suara gaduh terdengar dari arah luar, yang membuatnya segera tersadar dari lamunan.
Mira buru-buru mengambil lembar pemeriksaan yang terakhir, di mana terlampir foto hitam putih itu, dan membawanya menuju ke arah ranjang.
Ia melipatnya dan memasukkan benda tersebut ke dalam laci paling bawah di nakas sebelah kanan ranjang. Bertepatan saat itu, Lingga masuk ke dalam dengan membawa banyak sekali belanjaan. Dia nampak sedikit kerepotan, sehingga tak menyadari apa yang baru saja dilakukan oleh Mira.
Wanita dingin yang selalu bisa menyembunyikan perasaannya itu pun memasang wajah tenang dan bersikap biasa saja, meski hampir tertangkap basah tengah menyembunyikan sesuatu.
"Banyak banget belanjaanmu, Kak?" tanya Mira yang masih duduk di tepi ranjang.
"Aku membeli beberapa makanan cadangan yang bisa kau makan sampai siang, atau mungkin cemilan di waktu bosan," ucap Lingga sambil meletakkan semuanya di atas meja.
"Wah … terimakasih. Tadi ku dengan ada suara haduh di depan. Apa itu Kakak?" tanya Mira.
__ADS_1
"Iya … tadi ada barang yang jatuh. Maaf ya," ucap Lingga dengan sayangnya.
"Maaf ya, ngerepotin," sahut Mira.
Lingga hanya melempar senyum begitu hangat kepada Mira, dan membuat wanita itu berdebar. Namun seperti biasa, Mira selalu buru-buru menepisnya.
"Ehm … Kamu beli sarapan apa kak?" tanya Mira yang hendak turun dari tempat tidur.
"Eehhh … mau ngapain pake turun segala?" tanya Lingga yang seketika menghampiri Mira, yang hendak berdiri.
"Aku hanya mau lihat belanjaan Kakak aja kok," sahut Mira.
"Udah … kamu di sini aja. Naiklah, biar aku ambilkan sarapanmu," ucap Lingga yang membantu Mira untuk kembali naik ke ranjannya, dan duduk bersandar di head board.
Lingga nampak membuka sebuah bungkusan yang berisi wadah styrofoam berbentuk mangkuk sedang yang terlihat masih mengepul.
"Apa itu kak?" tanya Mira yang penasaran ,dan membayangkan sisinya yang masih panas.
"Bubur ayam. Katanya sih spesial, tapi nggak tau deh rasanya," tutur Lingga yang berjalan ke arah Mira.
"Wah … kayaknya enak," seru Mira.
Tak terasa, air liur seolah menggenang begitu bayak di rongga mulutnya, hingga Mira menelannya bak orang yang tengah meneguk air.
GLUK!
"Laper banget yah?" ledek Lingga.
"Buruan sini, aku pengin makan," keluh Mira yang merasa kalau Lingga terlalu lama memberikan makanan itu kepadanya.
"Eh … biar aku suapin aja. Kamu kan lagi sakit, jadi biarkan suamimu ini yang melayani kamu," ujar Lingga dengan seringainya, sambil menaik turunkan kedua alis.
"Idih … pede. Emang aku udah iyain gitu ajakan nikah Kakak?" ledek Mira atas ucapan Lingga yang begitu percaya diri.
"Yakin nggak mau? Hah … hah …," goda Lingga yang membuat Mira bersemu sejenak.
Namun, wanita itu buru-buru mengalihkan pembicaraan agar rona merah di pipinya hilang.
Lingga pun menyuapi wanitanya dengan telaten. Bahkan hingga siang, pria itu terus menawari Mira bebrapa makanan yang telah ia beli. Anehnya, meski sudah banyak yang masuk ke perutnya, tetapi Mira masih bisa melahap semua yang diberikan oleh Lingga seolah tak merasa kenyang sama sekali.
.
.
.
.
Next eps, besok lagi y guys😊
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁