Mirage

Mirage
Penyelidikan


__ADS_3

Keesokan harinya, Tania sudah sadar. Mira pun sangat bersyukur karena melihat rekannya itu bisa kembali membuka matanya.


"Puk, makasih ya. Lu udah nyelametin gue. Gue utang mulu sama lu," ucap Mira.


Dia kini tengah duduk di samping ranjang Tania, dan meraih tangan rekannya itu.


"Inget baek-baek utang lu. Jangan lupa bayar ya entar," seru Tania.


"Dasar peritungan lu, Puk!" keluh Mira.


Namun, keduanya saling melempar senyum satu sama lain, meski cekcok mewarnai obrolan mereka sehari-hari.


"Gue seneng lu nggak papa, Mok. Apa lagi, sekarang semuanya udah aman dengan ketangkepnya orang itu," ucap Tania.


"Iya, Puk. Gue juga bisa ngerasain lebih tenang. Semoga setelah ini, udah selesai yah semuanya," sahut Mira.


Mereka berdua seperti tengah melepas rindu, layaknya sudah berpisah untuk waktu yang cukup lama.


...πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹...


Di luar kamar Tania, Nampak Lingga dan juga Nicholas tengah membicarakan sesuatu yang serius.


"Apa dia sudah mau bicara?" tanya Lingga.


"Dia terus bungkam, Tuan. Meskipun tubuhnya sudah babak belur, tapi dia tetap diam," tutur Nicholas.


"Terus siksa dia sampai mau buka mulut. Kalo perlu, biar aku juga ikut menginterogasinya," ujar Lingga.


"Tapi tuan, apa Anda sudah menemukan sesuatu yang janggal di apartemen?" tanya Nicholas.


"Belum, Nick. Ini aneh. Kalau waktu itu dia masuk dan hanya berdua dengan Mira, kenapa tak ada yang terjadi dengan wanita itu. Lalu kemarin, saat ada Tania, dia malah melakukan serangan," ungkap Lingga.


"Benar, Tuan. Mumpung sekarang Nona Mira sedang di rumah sakit, bolehkah saya dan anak buah menyisir seisi apartemen Anda, untuk mencari benda mencurigakan yang mungkin saja memang sengaja ditinggal oleh orang itu," ujar Nicholas.


"Yah, kau boleh melakukannya. Ambil apapun yang terlihat mencurigakan," seru Lingga.


"Baik, Tuan." Nicholas pun pergi dari depan ruang rawat Tania.


Seperginya sang asisten, Lingga kembali masuk dan melihat jika wanitanya masih berbicara dengan Tania.


"Kak, Nick mana?" tanya Mira.


"Dia sudah kembali ke kantor," sahut Lingga yang duduk di sofa.


"Yah, dia bahkan tidak pamit," gumam Tania.


Wanita itu terlihat kecewa karena Nicholas tidak menemuinya lagi sebelum pergi.


"Ehem … ada yang kesel nih," sindir Mira yang melihat ekspresi rekannya itu.


"Eh … apaan sih. Siapa juga yang kesel," kilah Tania.

__ADS_1


"Nggak ngaku tuh. Lagaknya sok jual mahal," goda Mira.


"Ck! Rese!" Tania pun hanya bisa mencebik kesal mendengar sindiran dari wanita yang tengah duduk di sampingnya itu.


"Hahahaha … Tania, Tania. Ngaku aja kalo elu emang suka sama nick. Love at the first sight. Hahaha …," kelakar Mira.


Lingga yang duduk di seberang kedua wanita itu pun hanya memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.


Erik sudah tertangkap, dan dia sudah bisa tertawa seperti itu. Harusnya aku merasa tenang. Tapi, kenapa seperti ada yang terlewat, batin Lingga.


Flash back on,


Beberapa hari yang lalu, saat terjadi keributan yang diakibatkan Tania yang menggedor-gedor pintu apartemen, saat meninggalkan Mira dan tukang ledeng gadungan berdua saja di dalam apartemen, Lingga sempat bertanya kepada Mira apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa? Cotton bud?" tanya Lingga.


"Ehm … dia minta cotton bud sama aku," jawab Mira.


"Terus?" tanya Lingga lagi.


"Terus ya … aku ambilin lah," jawab Mira biasa saja.


Wanita itu sampai saat ini belum tahu jika saat itu, dia hanya berdua di dalam apartemen dengan orang yang sangat dia takuti.


"Kamu ambil di kamar dan ninggalin dia di bawah gitu?" tanya Lingga memastikan


Mira hanya mengangguk pelan.


"Ada apa sih, Kak?" tanya Mira penasaran melihat prianya itu nampak melamun.


"Ehm … nggak kok. Kamu ngantuk nggak? Tidur yuk," ajak Lingga.


Mira pun kembali mengangguk. Dia kemudian berbaring dan memeluk erat Lingga, dan menggunakan lengan pria itu sebagai bantalannya.


Setelah Mira tertidur, Lingga nampak menghubungi Nicholas untuk menanyakan perihal kejadian siang tadi dan memintanya meng-handle semua urusan kantor untuk sementara ini.


"Bagaimana, Nick. Apa benar dia tukang ledeng palsu?" tanya Lingga.


"Kami sudah cek semua CCTV yang menangkap pergerakan orang tersebut. Dia terakhir terlihat masuk ke sebuah swalayan. Tapi, saat kami melihat CCTV di swalayan itu, dia keluar dari toilet umum dengan mengganti penampilannya. Ini jelas sekali jika dia hanya menyamar," ungkap Nick.


"Lalu, apa kamu tau ke mana lagi dia pergi?" tanya Lingga.


"Dia masuk ke dalam sebuah mobil van hitam. Dari arahnya, dia seperti menuju ke pinggiran kota," tutur Nicholas.


"Daerah mana?" cecar Lingga.


"Ke arah selatan, di daerah perbukitan. Tapi, saat dalam pengejaran, kami kehilangan jejaknya di sekitar jalan yang menuju hutan," jawab Nicholas.


"Hah … sudah pasti dia tak akan mudah tertangkap. Baiklah, kita bahas ini lain waktu lagi. Sekarang, aku ada tugas untuk mu. Beberapa hari ke depan, handle semua pekerjaan di kantor. Jika ada dokumen yang perlu tanda tanganku, bawa semuanya ke apartemen," seru Lingga.


"Tapi kenapa, Tuan?" tanya Nicholas.

__ADS_1


"Aku harus mencari tau sesuatu yang mungkin saja dia tinggalkan di sini. Tidak mungkin dia masuk ke sini tanpa tujuan apapun. Ini hal yang mustahil," ucap Lingga.


"Benar sekali, Tuan. Saya pun berpikir seperti itu. Baiklah, saya akan coba mengurus semua urusan kantor. Jika ada yang perlu persetujuan Anda, akan saya bawakan ke sana," sahut Nicholas.


"Terimaksih, Nick." Lingga pun memutus sambungan teleponnya.


Dia melipat kedua lengan dan menatap lurus ke arah langit malam yang berada tepat di hadapannya.


Pasti ada sesuatu yang tidak beres, batin Lingga.


Sejak hari itu hingga beberapa hari setelahnya, Lingga terus berusaha untuk mencari benda mencurigakan yang mungkin bisa ia temukan di dalam apartemennya.


Hampir semua sudut, sudah coba disisir oleh Lingga, namun Erik benar-benar pintar menyembunyikannya.


...πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹...


"Kak! Kakak!" panggil Mira.


"Ehm … ya, Mir?" tanya Lingga yang tersadar dari lamunannya.


"Issh! Ngelamunin apa sih?" tanya Mira yang menatap Lingga curiga.


"Lagi mikiran selingkuhannya kali tuh," seloroh Tania.


"Apa?!" pekik Mira yang melampar tatapan tajam ke arah prianya.


"Heh, Tania. Jangan suka ngomporin orang yah. Siapa bilang saya mikirin selingkuhan?" elak Lingga bersungut-sungut.


"Oh … bukan katanya tuh. Aawwww …," pekik Tania saat mendapat cubitan dari Mira di lengannya.


"Sakit tau, Mok!" keluh Tania.


"Rese sih!" tukas Mira.


Tania meringis sambil mengusap-usap lengannya yang masih terasa panas oleh cubitan Mira. Sedangkan rekannya itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Lingga.


"Kenapa sih, Kak? Lagi mikiran apa sampe bengong gitu?" tanya Mira yang duduk di samping prinya.


"Ehm … nggak papa kok. Cuma kerjaan aja," sahut Lingga.


Pria itu mengusap lembut puncak kepala Mira, dengan tatapan yang terlihat sendu.


Tunggulah sebentar lagi, Mir. Aku akan tuntaskan semuanya dan mengeluarkanmu dari semua masalah ini, batin Lingga.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁


__ADS_2