
Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian yang membuat Mira terus ketakutan setengah mati, saat bermimpi jika kakak tirinya telah kembali dan hendak mengusik hidupnya lagi.
Dia bahkan membuat Lingga terus berada di apartemen, dan menyusahkan Nicholas karena harus mengurus semua pekerjaan di kantornya untuk sang tuan.
Beberapa hari ini, mereka hanya tinggal di dalam apartemen, dan tak merencanakan kencan atau sekedar jalan-jalan ke luar, karena kondisi Mira yang masih takut melihat keadaan di luar sana.
Meski Lingga berusaha meyakinkan wanitanya jika semua baik-baik saja, akan tetapi, Mira selalu saja merasa cemas jika harus berada di luar ruangan. Bayangan orang yang mengintainya saat di kantor Lingga, membuat dia menjadi paranoid.
"Apa kamu yakin tidak perlu pergi ke psikiater?" ucap Lingga di sela waktu bersantai mereka di balkon.
Lingga berencana ingin menambahkan satu kursi lagi di tempat tersebut. Namun, Mira menolaknya karena dia tak bisa lagi punya lasan untuk duduk di pangkuan pria itu.
Mira yang saat ini duduk di pangkuan Lingga sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu pun, seketika menegakkan duduknya dan menatap tajam ke arah Lingga, saat si pemilik monster teripang itu berbicara mengenai psikiater.
"Apa Kakak serius nyuruh aku ke dokter jiwa? Aku nggak gila, Kak," keluh Mira yang terlihat jelas jika dirinya tak terima dianggap mengidap penyakit kejiwaan.
"Ehm … bu … bukan begitu mkasudku, Mir." Lingga meraih pundak wanitanya, dan mengarahkan badan Mira agar menghadap ke arahnya.
Mira masih melengos. Dia merasa sangat tersinggung denga ucapan Lingga tadi.
Pria itu pun berlaih menangkup kedua pipi Mira, dan membuat wanita itu menatap lurus ke arahnya.
"Mira, Sayang, Mommy-nya lil baby, calon istriku, aku nggak bilang kamu gila. Psikiater itu bukan tempat yang hanya didatangi oleh orang gila saja. Orang yang memiliki kecemasan atau trauma pun bisa datang ke sana," ucap Lingga yang menirukan perkataan Dokter Tama tempo hari.
Mira pun mulai mau mendengarkan perkataan pira itu.
"Aku hanya cemas, karena kamu yang selalu terbayang-bayang oleh kehadiran kakak tirimu di dalam mimpi, yang begitu membuatmu ketakutan. Aku khawatir itu akan berimbas pada anak kita," lanjut Lingga.
Sebelah tangannya turun ke bawah dan mengusap lembut perut rata wanita itu. Pandangannya bertemu dengan tatapan teduh Mira.
"Aku hanya memikirkan kalian berdua. Semua yang membuat kalian berdua nyaman dan aman, itu akan menjadi prioritasku, begitupun sebaliknya," tutur Lingga.
Mira nampak tersenyum. Dalam hati, dia begitu bersyukur bisa menemukan cinta dari pria di hadapannya itu.
Dia pun merangkul Lingga, dan memeluk erat prianya itu. Mira membenamkan wajahnya di ceruk leher Lingga, dan mengendus aroma maskulin yang selalu membuat Mira ingin terus dan terus berada di samping prianya.
"Aku beneran nggak papa-papa, Kak. Tapi, kalau Kakak mau memastikannya, baiklah. Ayo kita coba," ujar Mira.
Lingga pun membalaa pulukan wanitanya dengan sesekali mengusap-usap punggung Mira dengan lembut.
"Baiklah. Aku akan buat janji dulu dengan psikiater terbaik di sini. Kalau perlu, ku bawa kamu ke luar negeri untuk menemukan yang terbaik dari yang terbaik," ucap Lingga di balik punggung Mira.
"Ckk … jangan terlalu lebay deh, Kak. Udah di sini aja nggak usah ke mana-mana," tolak Mira yang mengurai pelukannya, dan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Wanita itu nampak kesal dengan perkataan Lingga yang menurutnya terlalu berlebihan.
"Isshh … sengaja yah," seru Lingga yang mencubit hidung Mira, hingga wanita itu mengaduh.
"Ihhh … kak … eeeehhhhmmmm …," gerutuannya terhenti kala mulutnya terbungkam oleh serbuan bibir Lingga.
Pria itu memagut dan menyesap bibir bawah Mira, hingga gigitan kecil ia daratkan di sana.
Bukan pria namanya jika saat beciuman, tangannya bisa tetap diam. Begitu pun dengan Lingga yang sedari tadi, tangannya telah bergerilya turun ke bawah, meraih bulatan padat di balik lapisan celana yang dipakain Mira.
"Eeehhhhmmmm …." Mira mel*nguh saat tangan pria itu merem*s bokong sintalnya.
Dia menelusupkan jemarinya di antara lebatnya rambut Lingga, dan merem*snya kuat, seiring pagutan mereka yang semakin memanas.
Lidah Lingga terjulur mengajak Mira untuk ikut membelit, ******* dan menyesap semua manisnya rasa.
"Eeeeehhhhhmmmm … eeeeehhhhhmmmm …," nafas mereka kian memburu seiring gerakan tangan Lingga yang telah menurunkan tali bahu dress yang dipakai oleh Mira.
Dengan sebelah tangannya, pria itu mulai mengusap lembut buah dada Mira yang masih tertutup, sedangkan tangan satunya lagi menyangga punggung wanita itu agar tak roboh oleh dorongannya.
"Aaaaahhhhhh … eeeeeehhhhhmmmmm …," sebuah remasan membuat Mira mendesah dalam mulut lingga yang masih memenuhinya.
Pria itu melepas pagutannya, dan memandangi wajah Mira yang sudah merah, dengan mata sayunya.
Mira tersenyum tipis, seraya mencoba mengatur nafasnya yang masih terengah-engah.
"Mandi bareng yuk," ajak Mira.
Wanita pun kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke dalam. Belum juga sampai di kamar mandi, Lingga yang berjalan di belakangnya, menyambar tangan si ratu es hingga Mira pun seketika berbalik dan menabrak tubuh Lingga.
"Aaaahhhh … eeeeeehhhhmmmmm …," belum usai keterkejutannya yang tiba-tiba ditarik, Lingga seketika membungkam bibirnya dengan ciuman yang sangat berg*irah.
(yg penasaran lanjutannya, cek di komen ya, bacanya dari bawah karena nggak lolos review lagi😅)
...💋💋💋💋💋...
Tiga hari berlalu, Lingga yang sudah membuat janji temu untuk konsultasi dengan seorang psikiater pun, mengajak Mira untuk turut serta.
Di terus cemas pada wanitanya itu. Meskipun suasana hatinya sudah coba ia perbaiki dengan terus ada di samping si ratu es, namun setiap malam, Mira selalu saja bermimpi buruk.
Dia takut hal ini akan mempengaruhi sang anak yang di kandungnya juga.
"Apa kau siap?" tanya Lingga yang sedang duduk bersama Mira di ruang tunggu tempat praktek psikiater itu.
__ADS_1
Mira menggenggam tangan Lingga erat, dan jemari mereka pun bertaut kuat
"Asal ada kakak di samping ku, aku nggak akan takut lagi," ucap Mira yang berusaha menutupi kegugupannya.
Lingga pun tersenyum tipis ke arah wanita itu.
"Nyonya Mira," panggil seorang asisten psikiater yang bertugas memanggil pasien dan mengarahkannya masuk.
"Ya," sahut Lingga.
Pira itu pun berdiri dan mengulurkan tangannnya ke arah Mira.
"Ayo," ajak Lingga.
Mereka berdua pun masuk ke dalam sebuah ruangan, yang didominasi oleh warna putih. Nampak seorang wanita dengan memakai jubah putih layaknya seorang konsultan kesehatan, tengah duduk di kursi kerjanya.
"Silakan duduk," ucapnya.
"Terimakasih, Dok," sahut Lingga.
Pria itu pun menuntun Mira agar duduk di kursi yang sudah di sediakan. Namun, tiba-tiba saja si ratu es membeku, seolah sekujur tubuhnya menjadi batu.
Pandangannya mengarah ke satu titik, dan ekspresinya terlihat begitu ketakutan. Semua terkejut, saat Mira memekik dengan kerasnya, sambil menutupi kedua telinga.
"TIDAAAAAAAAK!"
.
.
.
.
😅😅tolak lagi bosqyu, jadi hari ini upnya veri late🤭sorry ya✌
next eps besok lagi ya😁Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
dan sambil nunggu up besok, bisa dong coba mampir ke novel ku yang lain😎
cerita pelakor yang teraniaya😅bedakan? biasanya pelakor selalu identik dengan centil, merebut, jahat, tapi gimana kalau sebaliknya? justru dia yang tersakiti? penasaran? cus langsung di cari😘 JUDUL \= BERBAGI CINTA : TERNYATA AKU SEORANG PELAKOR
__ADS_1