
“Intinya, kamu bisa lanjutkan pendidikanmu dulu, sebelum muncul di depan dengan status sebagai istri Arya,” ucap Tuan Wijaya.
“Tapi, Mami mau kamu dan Arya tetap menikah dulu. Untuk sementara cukup di catatan sipil juga nggak papa. Ini demi melindungi Mari, dari sifat buruk Arya yang nggak bakal ilang,” sahut Aletta.
“Maksud Ibu apa? Mana ada aku punya sifat buruk,” sanggang Lingga.
“Ada. Aku yakin kamu akan terus menggoda Mari, dan bisa aja nanti Mari akan hamil anak kamu lagi. Kalau kalian sudah menikah, anak kalian akan punya status yang jelas. Mengerti?” lanjut Aletta.
Mira mengangkat wajahnya dan menatap Aletta dengan kebingungan.
“Ja... Jadi, maksud Mami, aku dan...,” ucap Mira terjeda.
“Ya, maksud Mami kalian menikahlah dulu agar sah dimata hukum. Untuk pesta dan yang lainnya, kita adakan nanti saat kamu sudah siap muncul di depan publik, dengan status yang berbeda. Jika mereka sudah melihat kemampuanmu, apapun latar belakangmu di masa lalu, pasti akan tertutup dengan prestasi yang kamu coba raih,” jelas Aletta.
Mira menoleh ke arah Lingga. Nampak jelas binar di mata wanita itu, saat mendengar sendiri jika kedua orang tua prianya, telah merestui hubungan mereka berdua.
"A ... aku kira, kalian akan menentangnya, dan meminta ku untuk memantaskan diri dulu," ucao Mira yang masih belum bisa percaya.
"Awalnya, Papi mau seperti itu. Tapi, mengingat anak nakal ini yang nggak mungkin bisa jauh dri kamu, jadi Mami putuskan untuk menikahkan kalian terlebih dulu, biar nggak kebanyakan buat dosa," ucap Aletta.
“Jadi, kapan kami akan menikah?” tanya Lingga antusias.
“Lusa. Mari juga perlu menyiapkan semua dokumen pribadinya, untuk dibawa ke kantor catatan sipil bukan. Apa kamu bisa mememinta pengacara itu untuk mengurus semua dokumen pribadimu, Nak?” tanya Tuan Wijaya.
“Saya akan coba hubungi dia, Pi,” sahut Mira.
Setelah keputusan diambil, Mira dan Lingga meminta ijin untuk kembali ke apartemen. awalnya, Aletta merasa keberatan karena harus membiarkan mereka tinggal bersama lagi sebelum resmi menikah.
Namun, Lingga yang terus membujuknya, dan membuat Tuan Wijaya yang merasa pusing dengan rengekan putranya itu, akhirnya mengijinkan keduanya untuk kembali tinggal bersama, dengan alasan hanya tinggal menunggu lusa saja untuk mencacatkan pernikahan mereka di kantor cacatan sipil.
...💋💋💋💋💋...
Lingga dan Mira saat ini sedang menumpang mobil yang dibawa oleh Nicholas. keduanya duduk di kursi penumpang belakang, dengan Mira yang terus membuang pandangannya ke arah luar.
Lingga mencoba meraih tangan wanitanya, namun sebelum berhasil menyentuh Mira, wanita itu seakan buru-buru menghindar.
"Kamu kenapa, Mir? Apa ada yang masih mengganjal di pikiranmu?" tanya Lingga pada akhirnya.
Pria itu tak suka jika dirinya harus didiamkan tanpa dia tau alasannya.
Namun, yang ditanya tetap diam. Akhirnya, Lingga mendekatkan posisi duduknya, hingga membuat Mira merasa terhimpit di pintu mobil.
__ADS_1
"Kak, sana jangan deket-deket! Sempit tau," keluh Mira sambil terus mendorong dada Lingga agar menjauh.
"Nggak. Aku nggak mau. Kamu harus kasih tau dulu kenapa kamu diem terus dari tadi," tolak Lingga.
"Urusan kita belum selesai kan," ucap Mira sambil kembali bersikap acuh dan melengos menghindari tatapan Lingga.
"Urusan? Urusan yang mana lagi? Bukannya tadi udah clear semua?" tanya Lingga bingung.
"Tadi itu urusan kita sama orang tuamu. Tapi urusan ku sama kamu belum. Kamu masih ada hutang penjelasan soal foto itu, dan ucapan Mami tentang kamu yang suka gonta ganti teman tidur," sahut Mira menatap tajam ke arah Lingga, membuat pria itu meringsut mundur dan menjauh dari wanitanya.
"Oh … ehm … itu … ehm …," gumam Lingga yang bingung harus bicara apa.
Dia hanya bisa menggaruk belakang kepalnya yang tak terasa gatal sama sekali.
Mira terus menatap tajam Lingga seolah tengah mengintimidasinya. wanita itu kemudian mengubah posisinya yang sedari tadi memunggungi prianya, kini justru menghadap langsung ke arah Lingga yang terlihat panik.
"Ahm … ehm … ahm … ehm … apa? Kenapa kamu bisa ragu sama aku sih, Kak? Apa aku ini sekotor itu di matamu? Aku udah coba buat setia lho selama ini. Apa kamu nggak sadar, sejak kamu booking aku malam itu, aku sama sekali nggak melakukan kontak fisik dengan pria mana pun. Apa lagi tidur dengan mereka, bahkan dengan Thomas sekalipun. Apalagi, aku sudah jarang pergi ke tempat Mom Winda."
"Tapi apa? Kamu malah mengira aku ada main di belakang kamu sama Steve? Tau gitu, aku terus aja jadi *****. Persetan dengan cinta dan kesetiaan. Ujung-ujungnya dicurigai juga," ungkap Mira panjang lebar.
Lingga hanya bisa menyeringai di antara rasa bingun dan takut harus menjelaskan seperti apa kepada Mira.
Sementara Mira, yang melihat prianya hanya diam saja dari tadi, kembali mengubah posisinya menghadap ke arah jendela, dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Lingga terbelalak mendengar ucapan dari Wanitanya. Dia segera mendekat kembali dan meraih pundak Mira.
"Sayang, aku tau aku salah. Tapi jangan pake acara tinggal terpisah juga dong. Kamu nggak tau apa kalau aku kangen banget sama kamu," bujuk Lingga.
Mira diam bergeming. Wanita itu tak menanggapi rengekan dari prianya. Dia terus menulikan pendengarannya dan mengalihkan fokusnya ke jalanan.
"Mira, aku minta maaf. Aku tau kalau tindakanku sudah keterlaluan. Aku bingung melihat foto itu. Jujur, aku cemburu. Itulah kenapa aku pergi menemui pria itu, karena ingin tau semuanya," tutur Lingga.
Mira seketika menoleh dan menatap tajam ke arah prianya, hingga Lingga harus mundur sejengkal karena takut melihat mata Mira saat itu.
"Kamu jauh-jauh ke sana hanya untuk tau kebenarannya? Kenapa nggak tanya langsung sama aku? Aku juga bisa jelasin semua itu ke kamu, Kak. Kamu udah bikin aku kecewa tau nggak," teriak Mira keras kepada Lingga.
Matanya nampak berkaca-kaca saat meluapkan kekesalannya itu. Mira segera memalingkan kembali wajahnya ke arah jalan, dan menyeka lelehan yang turun dengan cepat.
Lingga tertegun melihat Mira yang lagi-lagi menangis karena dirinya. Tanpa pikir panjang, Lingga mendekat dan seketika mendekap erat Mira dari belakang.
"Lepas!" hardik Mira.
__ADS_1
Dia meronta mencoba lepas dari pelukan prianya.
"Aku nggak akan lepasin kamu, Mir. Aku akan tetap seperti ini sampai kamu mau maafin aku," ucap Lingga.
Mira terus berontak, hingga lama-lama dia lelah dan membiarkan Lingga untuk terus mendekapnya, sampai mereka tiba di parkiran basemen apartemen.
Nicholas keluar dari mobil lebih dulu, meninggalkan kedua orang yang tengah diam dalam pikiran masing-masing di dalam mobil.
"Apa kamu juga ragu dengan anakku?" tanya Mira tiba-tiba, saat dia sudah mulai lelah dalam posisi itu.
Lingga menutup matanya, dan menghela nafas panjang. Ada rasa sakit dalam hatinya, saat mengingat kecurigaannya kepada wanita itu.
"Iya," jawab Lingga singkat, dengan tangan yang semakin memeluk erat tubuh Mira.
Sedangkan wanita itu, dia nampak memejamkan matanya, sembari menahan rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya.
"Masih ada waktu sampai besok. Pikirkanlah lagi tentang pernikahan kita. Aku harap, kamu mau bilang ke orang tuamu untuk membatalkannya," ucap Mira.
Lingga terhenyak. Dia segera membalikkan badan Mira agar menatap ke arahnya. Dia lagi-lagi melihat mata bening itu berkaca-kaca.
"Tolong maafkan aku, Mir. Aku tau aku sudah salah karena mencurigaimu dan sempat meragukan anak kita. Tapi percayalah, aku diam, karena aku ingin meyakinkan diriku atas kamu. Aku nggak mungkin nanya langsung ke kamu, karena itu akan membuatmu merasa dituduh," ucap Lingga dengan suara melembut.
Dia menangkup kedua pipi Mira, dan mengusap lelehan bening yang menetes di sana dengan ibu jarinya.
"Aku mencintaimu. Aku ingin hidup bersama mu. Oleh karena itu, aku ingin menyingkirkan keraguanku itu. Aku minta maaf karena sempat bersikap dingin padamu beberapa hari yang lalu, meninggalkan kamu sendirian tanpa tau kabarku. Aku minta maaf," lanjut Lingga.
Mira akhirnya menangis. Sebenarnya, dia tidak marah pada Lingga. Dia justru bersalah pada pria itu, karena dirinya yang selalu tersentuh oleh pria-pria lain di luaran sana.
Dia tau dengan jelas, karena pekerjaannya itu lah yang membuat Lingga dan mungkin keluarganya meragukan dirinya dan juga anak yang sempat ada di dalam kandungannya.
"Maaf," ucap Mira lirih.
Lingga pun memeluk wanitanya dengan begitu erat, sedangkan Mira menumpahkan tangisnya di dalam dekapan pria itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁