
Lingga mengangkat tubuh Mira bak tengah memanggul sebuah karung berisi beras. Ia menaiki lift dan turun ke lantai bawah, entah lantai berapa. Yang jelas, di lantai itu hanya ada deretan kamar hotel.
"Lepaskan Saya!" teriak Mira sembari memukul-mukul punggung Lingga.
Lingga diam seribu bahasa, dengan langkah kakinya yang semakin panjang melangkah. Kini sampailah ia di depan sebuah kamar. Pria itu mengeluarkan sebuah kunci akses masuk ke dalam, dan pintu pun langsung terbuka.
Lingga membawa Mira masuk ke dalam, dan langsung mengunci pintunya.
Dia berjalan melewati ruang santai, dan menuju ke tempat tidur, lalu membanting tubuh wanita cantik nan seksi itu ke atas kasur king size.
"Ah …," pekik Mira ketika tubuhnya mendarat di atas tempat tidur yang empuk.
Lingga kemudian membuka jasnya, dan melemparnya ke sembarang tempat. Tatapan tajamnya tertuju pada Mira yang masing terkejut dalam kondisi terlentang.
"Apa yang mau Anda lakukan?" teriak Mira ketika melihat pria itu mulai melucuti satu persatu benda yang melekat pada dirinya.
Lingga mencopot sepatu dan kaus kakinya, lalu melemparnya sembarang. Tak lupa, dasi kupu-kupu yang ia pakai pun turut dilemparnya.
Mata Mira membola, kala melihat pria di hadapannya tengah melepas gesper yang melilit di pinggang.
"Anda mau apa, Tuan?" Mira meringsut mundur, dan mencoba turun dari tempat tidur.
Dia seolah tahu apa yang akan terjadi jika dirinya masih berada di sana.
Namun, dengan gerakan cepat, Lingga menangkap tubuh wanita itu, dan kembali menggulingkannya ke atas ranjang.
"Ah …," pekik Mira yang lagi-lagi merasa terkejut dengan perlakuan dari Lingga.
"Kau sendiri yang meminta hukuman, jadi terimalah hukumanmu!" ucap Lingga dengan nada datar dan wajah dinginnya.
"Tidak. Tuan, tolong jangan begini!" teriak Mira.
Lingga duduk mengangkangi Mira, dan menarik kedua tangan wanita itu ke atas. Dengan gespernya, ia mengikat kedua tangan Mira dan menautkannya di salah satu tiang ranjang.
"Tuan, kalau Anda mau, Saya bisa melakukannya dengan suka rela. Tapi tolong jangan seperti ini. Ini namanya pemer*ko*saan!" ucap Mira yang berusaha bernegosiasi dengan Lingga, yang sama sekali tak mempedulikan dirinya.
Lingga mencengkeram kedua pipi Mira dengan sebelang tangannya yang kekar, dan mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu.
Nafas mereka saling menerpa wajah masing-masing, dan sorot tatapan mereka saling menatap tajam.
"Kalau kamu melakukannya seperti biasa, itu namanya bukan hukuman, tapi pelayanan. Aku hanya ingin melihat, bagaimana seorang pe*lacur yang tak bisa mendesah seperti ini, menghadapi ku yang adalah seorang penakluk wanita," ucap Lingga dengan seringainya.
"Ehm …," bibir Mira terbungkam seketika oleh bibir Lingga yang me*lu*matnya dengan buas.
Mira tak mau membalas, dan menutup mulutnya rapat-rapat. Namun, Lingga yang adalah seorang player, sangat tau apa yang bisa membuat wanita itu membuka mulutnya.
Ia menghentikan ciu*man*nya, dan beralih ke telinga wanita itu.
"Terimalah hukumanmu," ucap Lingga sembari menggigit kecil ujung cuping telinga Mira.
"Eng …," Mira mengerang kecil karena rang*sangan yang dilakukan oleh Lingga.
__ADS_1
Seperti biasa, Mira selalu menutup matanya, setiap kali mendapatkan fore*play dari lawan mainnya, dan menggigit bibir bawah agar suara-suara yang memalukan tak keluar dari mulutnya.
Lingga terus menjelahi tubuh Mira, dan kini turun ke leher jenjang wanita itu. Kecupan demi kecupan yang disertai hisapan kecil, membuat tubuh Mira semakin memanas.
Kaki mulusnya terus menendang-nendang sprei yang ada di bawanya, untuk menekan sensasi aneh pada area sensistif di pangkal pahanya yang mulai basah.
Lingga turun hingga ke pundak mulus Mira, dan memberikan gigitan kecil di sana.
"Aaaahhhh …," sebuah suara indah lolos dari mulut wanita itu, namun, Mira kembali menutup rapat mulutnya dengan menggigit bibir bawahnya.
Lingga mendengar itu dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat ke atas.
"Men*de*sah*lah, Mari. Ayo keluarkan suara indahmu," batin Lingga.
Lingga semakin menjelajah ke bawah. Ia merobek ujung tali bahu yang melingkar di belakang leher Mira, karena membuatnya kesulitan untuk menjamah kedua gunung kembar di hadapannya.
"Hei! Itu gaun baru!" pekik Mira kala melihat pria yang tengah menguasainya, dengan sengaja merobek pakaian barunya.
"Eng …," Mira kembali dibuat bungkam, kala bibir Lingga tiba-tiba mendarat di ujung dadanya yang tak terhalang apapun. Buah mungil yang selalu digilai oleh bayi, kini disesap dengan rakus oleh Lingga.
Dengan lidahnya yang bergerak lincah, Lingga membuat Mira menggeliat-geliat di bawahnya. Rasa gelenyar yang diciptakan oleh pria itu, sungguh membuatnya hampir tak bisa bertahan.
"Gila! kenapa rasanya nikmat banget? Ini pertama kalinya gue ngerasa nggak bisa menguasain diri gue," batin Mira.
Ketika Lingga menarik pelan buah mungil merah muda itu dengan bibirnya,
"Aaaahhhh …," Mira telah dikuasi penuh oleh naf*su*nya hingga ia tak bisa lagi mengontrol kesadarannya lagi.
"Kenapa dia nggak mulai-mulai? Kenapa fore*play terus sih? Kalau kaya gini, gue bisa gila gara-gara keenakan. Mati gue," batin Mira yang terus menikmati setiap sentuhan dari pria yang tengah menyentuhnya
Dia terus menyesap dan memilin ujung mungil itu dengan lidahnya, dan satu tangannya lagi me*rem*as gundukan lainnya.
"Eeeeengggg … Aaaaahhhhh …," Mira semakin hilang kendali.
Tubuhnya terus meliuk-liuk seiring dengan permainan Lingga yang sangat memabukkannya.
Pria itu beralih dari satu gunung ke gunung satunya, sedangan tangannya yang bergerak semakin turun ke bawah, membelai perut yang masih tertutupi oleh baju yang dipakai Mira.
Ia menyingkap baju bagian bawahnya yang memang terbuka hingga pahanya, dan karena gerakan kaki Mira yang terus menendang sprei membuat ce*la*na dalamnya terlihat.
Dengan sekali tarikan, Lingga merobek kain tipis penutup daerah inti Mira.
Dia mengusap lembut bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitarnya, dan membuat Mira semakin meremang.
"Eeehhhmmmm … Stop … it … Aaaaahhhh …," rintih Mira di tengah de*sa*han nikmatnya.
Lingga semakin menggila dan tak mau mendengarkan Mira yang memohon. Tangannya semakin turun ke bawah, dan dengan sekali tekan, jari tengahnya masuk keliang lembah Mira yang telah basah.
"Aaaaahhhh … please … aaaaaahhhhh … stop aaaaahhhhhh …," de*sah Mira seiring Lingga yang terus memainkan jarinya di bawah sana, Masuk dan keluar liang, dengan ibu jarinya yang memainkan buah mungil yang tersembunyi di sana.
"Mendesahlah, Sayang. Keluarkan suara indah mu. Sebut namaku, Mir. Ayo sebut!" seru Lingga yang kini telah berada di bawah, tepat di depan paha Mira yang terbuka lebar.
__ADS_1
Mira menggeleng dengan cepat, namun bibirnya terus mengeluarkan suara indahnya.
Lingga memajukan wajahnya, dan seketika memasukkan lidahnya ke dalam liang lembah Mira.
"Aaaaahhhhh …," Mira mendongak ke atas karena merasakan sensasi nikmat yang luar bisa, yang diciptakan oleh Lingga.
Pria itu tersenyum melihat ekspresi Mira, yang sangat menikmati setiap sentuhannya.
Sementara lidahnya bermain di lembah, sebelah tangannya meraih dadanya yang begitu menantang di atas sana. Ia me*ram*asnya, seiring dengan sesapan dan jilatan lidahnya di bawah sana.
"Aaaahhhhhh … Kak!" pekik Mira yang secara tak sadar memanggil Lingga dengan sebutan 'Kak', yang membuat Lingga menatap wajah Wanita yang tengah meliuk-liuk indah itu lekat-lekat.
Pria itu semakin gencar memainkan lembah Mira dengan lidahnya, hingga si primadona paradise fall benar-benar merasa akan meledak.
"Aaaaaahhhh … Kak … Eeeehhhmmm … hentikan … Aaaaaahhhhh … aku … aku … Aaaaahhhhhhhh …," Mira men*des*ah panjang, seiring pelepasannya.
Lingga menyudahi aksinya saat merasakan milik Mira berkedut dan keluar lelehan hangat dari dalam sana.
Pria itu mengusap bibirnya dengan punggung tangan, sembari memandang wajah Mira yang memerah karena ga*irahnya.
Wanita itu memejamkan matanya dengan nafas yang tersengal-sengal, dan dada yang naik turun berayun membuat pangkal paha Lingga semakin terasa sempit.
Namun, pria itu tidak berniat untuk meniduri Mira. Dia hanya ingin memberikan wanita itu pelajaran, agar Mira tak lagi membantahnya.
Dia tahu sedikit jika wanita itu memliki harga diri yang sangat tinggi sebagai seorang pe*la*cur. Dia sangat menjaga predikatnya sebagai pe*la*cur yang tak bisa men*des*ah selama ini, sebagai bentuk menjaga kehormatannya.
Sekalipun dia sudah tak suci, namun setidaknya para pria hidung belang akan malu pada diri mereka sendiri, karena tak mampu meruntuhkan pertahanan yang Mira buat.
Dengan begitu, Mira masih memiliki kebanggaan terhadap dirinya, yang sudah tak bisa di banggakan oleh siapa-siapa lagi.
Lingga membuka ikatan tangan Mira, dan turun dari tempat tidur.
Mira yang melihat itu pun segera bangun dengan menumpukan kedua lengannya ke belakang.
"Kenapa pergi?" tanya Mira dengan suara yang masih terdengar parau.
Lingga berhenti. Dia menoleh sedikit ke samping.
"Heh … apa kau kecewa karena tak bisa merasakan monster milikku?" ucap Lingga sembari tersenyum sinis.
Dia berjalan menuju ke kamar mandi. Namun, sebelum dia masuk, dia berhenti terlebih dulu di ambang pintu.
"Bangunlah! Ada pakaian di dalam kotak itu. Kau bisa mengambilnya sebagai ganti pakaianmu yang rusak," ucap Lingga yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi, dan menuntaskan urusannya.
.
.
.
.
__ADS_1
🙈🙈🙈maaf ya, othor omes pagi2🤭disini ujankan, jadi dingin😁butuh yang anget2 dikit🤣
like dan komen aja yuk guys😊🙏