
Dua bulan berlalu, Mira saat ini sedang berada di ruang bersalin dengan ditemani Lingga, yang langsung meluncur ke rumah sakit meski sedang berada di tengah-tengah rapat penting, demi menemani sang istri melahirkan.
“Kak, sakiiit,” rintih Mira.
Dia terus menggenggam erat tangan sang suami yang dengan setia menemaninya. Aletta sengaja membiarkan putranya menemani sang istri, agar Lingga tau perjuangan menjadi seorang ibu seberat apa.
Sehingga nanti, kadar cintanya kepada Mira akan lebih besar lagi dari sebelumnya.
Di luar ruang bersalin, Aletta memberitahukan kabar tersebut kepada suami dan juga putrinya, agar mereka segera datang ke Paris.
“Cepatlah ke mari. Cucumu akan segera lahir!” seru Aletta kepada suaminya.
“Setelah selesai rapat, aku akan langsung terbang ke sana. Apa Riri sudah di beritahu?” tanya Tuan Wijaya.
“Sudah. Dia bilang akan ke mari bersama Samuel sore ini,” sahut Aletta.
“Baiklah. Sampai jumpa di sana,” ucap Tuan Wijaya.
“Sampai jumpa, Honey,” sahut Aletta.
Sambungan pun terputus.
Dari kejauhan, terlihat seorang wanita cantik datang menghampiri Aletta yang masih duduk di depan ruang bersalin.
“Nyonya, apa kabar? Bagaimana kondisi Mira?” tanya Tania yang baru saja tiba.
“Tania. Kabarku baik. Apa Nick yang memberitahumu?” tanya Aletta.
“Iya, Nyonya. Aku segera ke mari saat mendengar kabar dari Nick, kalau Mira akan segera melahirkan. Apa dia masih di dalam?” jawab Tania.
“Iya, Mira masih di dalam. Tadinya, aku menyarankan untuk melakukan operasi saja, agar dia tidak merasakan kontraksi hebat. Tapi dia bilang, ingin merasakan apa yang dialami ibunya saat melahirkannya dulu. Haaah,” tutur Aletta.
“Dia memang keras kepala. Kita doakan saja semoga dia bisa melewatinya,” sahut Tania.
Tak berselang lama, sebuah jeritan terdekat dari dalam ruangan bersalin, membuat Tania dan Aletta yang sedari tadi duduk tenang, seketika berdiri dan mendekat ke arah pintu.
“Ada apa itu? Kenapa berteriak?” tanya Aletta gusar.
“Tapi, sepertinya itu bukan Mira, Nyonya. Suaranya seperti laki-laki. Mungkin Tuan Lingga. Tapi kenapa dia sampai berteriak seperti itu?” tanya Tania yang juga tak tahu.
Aletta seketika tersenyum dengan menutup mulut, menyembunyikan tawanga.
“Spertinya aku tau,” gumamnya.
Dia kemudian kembali duduk tenang, membuat Tania kebingungan.
Tau rasa kamu sekarang, Anak nakal. Dari dulu, selalu menanam benih di rahim banyak wanita. Sekarang, rasakan saat benihmu tumbuh dan minta keluar, dia akan menyiksamu sampai berteriak sekencang itu. Hahahah, ejek Aletta dalam hati.
...💋💋💋💋💋...
Di dalam ruang bersalin, Mira yang semakin merasakan jika kontraksinya datang dengan cepat dan durasi yang panjang, membuat genggaman tangannya semakin erat, hingga kuku-kuku jari tangannya yang panjang, menancap dalam di punggung tangan Lingga.
__ADS_1
Awalnya, Lingga bisa menahan agar teriakannya tak sampai keluar. Namun semakin lama, Mira semakin kuat mencakarnya hingga dia pun seketika berteriak karena rasa sakit yang teramat.
Saat kontraksi hilang, Mira terus meminta maaf kepada suaminya, karena sudah melukai pria itu begitu banyak hinga berdarah.
“Kak, maaf," ucap Mira.
Namun, Lingga hanya membalasnya dengan senyum, dan sebuah kecupan di kening sang istri.
Saat kontraksi kembali, Lingga pun kembali berteriak seiring menancapnya kuku jari Mira yang semakin dalam.
Seorang perawat datang dan memeriksa kondisi Mira. Saat itulah, Mira diminta untuk terlentang dan menekuk kedua kakinya hingga terbuka lebar.
"Nyonya, tolong mengejan sekuatnya. Usahakan jangan bersuara, tapi fokus untuk menyalurkan tenaga ke bawah. Paham ya," seru perawat tersebut.
Mira pun kembali meraih tangan Lingga, saat dorongan dari bawah kembali muncul. Ketika Mira berusaha mengejan tanpa bersuara, Lingga lah yang mewakilinya berteriak mewakili sang istri.
Sekitar kurang dari satu jam, proses persalinan itu berlangsung. Akhirnya, sebuah teriakan Lingga yang sangat keras, mengiringi suara tangisan bayi yang begitu menggema keras di seluruh area ruang bersalin.
Bahkan, Aletta dan Tania pun bisa mendengarnya dengan jelas. Kedua wanita itu saling berpegangan tangan, dan merasa terharu dengan suara mungil yang sudah berjuang untuk keluar dari rahim ibunya.
"Nyonya, cucu Anda sudah lahir," ucap Tania.
"Benar, Tania. Cucuku … cucuku," sahut Aletta yang tak bisa menahan tangis harunya.
Sekitar beberapa saat kemudian, seorang perawat keluar dan memberitahukan kepada Aletta dan Tania bahwa Mira sudah berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki sehat dengan selamat.
Kemudian, keduanya pun meminta ijin agar diperbolehkan masuk menemui Mira.
Tak berapa lama, sebuah box bayi yang terbuat dari kaca tebal, didorong keluar oleh seorang perawat dan hendak dibawa menuju ruang bayi.
Aletta dan Tania memilih untuk melihat bayi mungil itu terlebih dahulu, sebelum menemui ibunya.
"Eeehhmmm, mungil sekali kamu, Nak. Ini nenekmu," seru Aletta lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat, Nyonya. Anda sekarang sudah menjadi seorang Nenek," ucap Tania.
Aletta terus tersenyum sambil melihat ke arah cucu laki-laki pertamanya itu. Kulitnya yang masih merah, membuatnya terlihat begitu rapuh. Namun juga menggemaskan.
Meskipun belum puas memandangi sang cucu, Aletta pun harus kembali menemui Mira, dan melihat kondisinya.
"Mami," panggil Mira lirih.
Aletta pun menghampiri menantunya itu, dan memeluknya erat.
"Selamat ya, Sayang. Kamu sekarang sudah jadi ibu," ucap Aletta.
Mira mengangguk. Namun, dia justru menangis di pelukan mertuanya.
Aletta paham apa yang sedang dirasakan oleh Mira saat ini. Dia pun menepuk-nepuk punggung menantunya dengan lembut.
Dia pasti teringat ibunya. Perjuangan berat untuk melahirkan seorang anak, dan kini dia sudah merasakannya, batin Aletta.
__ADS_1
...💋💋💋💋💋...
Malam hari, semua anggota keluarga berkumpul di rumah sakit untuk melihat kondisi Mira pasca melahirkan, dan juga untuk menyambut kelahiran anggota keluarga baru mereka.
Nampak Cheria yang saat itu benar-benar datang dengan Samuel, dan juga Tuan Wijaya yang buru-buru terbang dari negeri pandai ke kota menara Eiffel ini.
Bayi mungil itu pun sudah diperbolehkan bertemu ibunya, dan mulai belajar menyusu. Mira yang sangat kamu, dibantu Aletta yang cukup berpengalaman dalam hal ini.
Setelah bayi mungil itu selesai menyusu, Aletta menggendongnya dengan posisi tegak agar pencernaannya lancar. Semua orang pun diperbolehkan untuk kembali masuk.
Cheria nampak begitu senang melihat keponakan kecilnya itu, hingga Aletta pun menyinggung hubungannya dengan Samuel.
"Seneng lihat bayi?" tanya Aletta.
"Iya, Mi. Lucu," seru Cheria.
"Minta Sam buat ngelamar kamu. Habis itu bikin sendiri yang lucu juga," sindir Aletta.
Cheria nampak memukul pelan pundak ibunya. Dia merasa malu dengan perkataan sang ibunya tadi.
Namun, Samuel justru terlihat serius. Dia yang kini duduk di samping Tuan Wijaya, mulai membuka suara.
"Kebetulan, Nyonya menyinggung masalah ini. Kalau diperbolehkan, saya memang ingin melamar Cheria, untuk saya jadikan istri," ucap Samuel.
Semuanya terkejut, tak terkecuali Cheria sendiri. Dia tak tau sama sekali jika Samuel memiliki niatan seperti itu.
"Apa kamu benar-benar serius dengan Riri? Apa kamu yakin bisa membahagiakan anak manja itu?" tanya Tuan Wijaya.
"Saya tau, kalau saya hanyalah pemilik restoran kecil. Tapi saya berjanji, akan selalu membuat Riri tersenyum dan hanya akan ada bahagia di setiap harinya," sahut Samuel dengan begitu serius.
"Tunggu! Tunggu! Jadi, selama ini kalian berpacaran?" tanya Aletta memandang Samuel dan Cheria bergantian.
"Tidak, Nyonya. Kami. Memang tidak berpacaran. Hanya saja, saya sudah lama menaruh hati pada Riri, tapi tidak ingin menodai perasaan ini dengan hal-hal yang tidak seharusnya kami lakukan," jawab Samuel.
"Iya, Mi. Kami emang nggak pacaran kok. Cuma, Riri juga sebenernya suka sama Sam," sahut Cheria malu-malu.
"Jadi, bagaimana menurutmu, Ri? Apa kamu mau menerima lamaran ajakan Samuel ini?" tanya Tuan Wijaya.
"Eeehhhmmmm... ehm," jawab Cheria dengan anggukan malu-malu.
"Baiklah. Kamu tentukan kapan mau mendatangkan keluarga mu untuk melamar Riri. Kami akan menerima kedatangan kalian semua dengan baik," ucap Tuan Wijaya.
"Eeeehhh, tapi kalau bisa, kita urus dua orang itu dulu," seru Aletta, sambil menunjuk ke arah Mira dan Lingga yang sejak tadi terus berpelukan.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁