
Kedai kopi JOY, itu lah nama yang diberikan oleh Mia dan suaminya untuk tempat usaha yang meraka bangun.
Sebuah tempat ngopi yang terletak di depan sebuah Universitas ternama di ibu kota, di mana setiap harinya akan selalu ramai oleh para mahasiswa yang berkumpul bersama di sana.
Kedai itu dibagi menjadi dua area, yaitu area indoor di bagain depan, dan area out door yang terdapat di kebun belakang. Di area indoor, terbagi menjadi dua lantai, di mana lantai atas hanya setengah saja dari seluruh luas ruangan kedai. Warna coklat dan merah bata mendominasi kedai milik pasangan itu.
Banyak foto-foto keluarga yang tergantung di bagian kasir. Sedangkan terdapat sebuah papan buletin di salah satu sisi ruangan, yang memang sengaja disediakan untuk pengunjung yang ingin meninggalkan kenangan mereka di tempat itu, atau sekedar menyumbangkan foto polaroid mereka. Banyak juga sticky note yang tertempel di sana dengan banyak sekali pesan-pesan yang ditujukan untuk seseorang. Buletin itu juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri dari tempat nongkrong itu.
Kemudian di area out door, terdapat beberapa meja, lengkap dengan kursi yang berbentuk bangku taman memanjang. Lampu-lampu hias kecil nan kelap kelip nampak menggantung di atasnya, dan tanaman sulur pun turut mempercantik suasan tempat itu.
Area ini dikelilingi oleh pagar besi yang dipenuhi oleh tanaman-tanaman rambat yang menjalar hingga ke atas dan melilit kawat penopang lampu.
Mira yang kebetulan berada di sana pun, tampak takjub dengan tempat usaha seniornya itu.
"Kak, oke juga ya kedainya," puji Mira setelah melihat sekeliling tempat usaha itu bersama dengan Joy.
"Ini usaha, sudah kami rintis lumayan lama, Mir. Panas perih aku sama suamiku bangun usaha ini dari nol," sahut Mia yang saat itu sedang berada di dapur yang terdapat di area indoor kedai.
Mira duduk di depan meja, di mana biasanya barista meracik kopi pesanan pelanggan. Sedangak Joy, gadis kecil itu sudah kembali bermain dengan mainannya yang ada di salah satu sudut kedai.
"Panas apa dingin, Mir?" tawar Mira yang tengah menggiling biji kopi.
"Eh … nggak, Kak. Aku lagi nggak minum kopi. Hehehe …," jawab Mira.
"Lho … kenapa? Kayaknya kemarin pas ketemu di mall juga kamu ngopi kan," tanya Mia.
"Ehm … yah, sekarang lagi mau ngurangin kafein aja, Kak. Hehehe …," sahut Mira tertawa kaku.
Mia nampak menghentikan gerakan tangannya yang sedang memasukkan hasil gilingan ke dalam wadah.
"Kamu masih merokok?" tanya Mia sambil melanjutkan kembali kegiatannya.
"Udah nggak, Kak. Aku lagi pengin ngelakuin gaya hidup sehat," jawab Mira, dengan kedua tangannya yang menyangga dagunya.
"Wah … bagus tuh. Tapi, susah lho ngilangin kebiasaan yang satu itu," sahut Mia menoleh sekilas ke arah Mira, dan tersenyum.
Ibu satu anak itu pun kembali melihat ke bawah, dan mulai menyeduh kopi untuk suaminya.
"Kalau alkohol, udah nggak juga?" tanya Mia lagi.
"Aku udah berhenti minum sejak dua mingguan yang lalu, Kak. Susah sih, tapi aku cuma mau lebih sehat aja," jawab Mira.
"Ehm … kamu masih kerja di tempat Mom Winda kan?" tanya Mia yang berjalan menuju ke tempat suaminya berada, sambil membawakan kopi.
Dia lalu kemudian kembali menuju ke dapur, dan membuatkan minuman untuk Mira.
__ADS_1
"Aku udah ngumumin kalo mau keluar, tapi belum resmi sih. Soalnya, aku belum kasih uang tebusan buat Mom Winda," jawab Mira.
"Berarti, kamu udah nggak kerja di sana lagi kan?" tanya Mia yang terus menanyakan perihal Mira.
"Udah nggak, kak. Sejak kekitar lebih dari sebulan yang lalu," jawab Mira.
Mia kemudian menyuguhkan segelas strawberry yogurth smoothy untuk Mira.
"Minumlah. Ini baik untuk ibu hamil," ucap Mia.
Mira pun seketika membulatkan matanya, mendengar perkataan seniornya itu.
"Ba … bagaimana …," tanya Mira terbata.
Mia berjalan memutar, keluar dari dapur, dan duduk di samping Mira. Dia menumpukan kedua lengannya di atas beja barista, dan tersenyum ke arah juniornya itu.
"Mir, kamu itu satu-satunya ladies Mom Winda yang tidak bisa dibilangin. Kamu selalu saja membangkang setiap apa yang diperintahkan kepadamu, bahkan untuk urusan sepele sekali pun. Tapi sekarang, rokok, alkohol dan bahkan kafein, justru kau hindari sendiri. Pasti ada hal penting yang ingin kau jaga kan," papar Mia yang membuat Mira terdiam.
"Ditambah lagi, hubungan mu dengan pria tadi, sepertinya bukan hubungan yang biasa, selayaknya saat kamu bersama dengan Thomas dulu. Aku bisa melihat cinta di matamu, Mir. Mata yang selalu dingin, kini terlihat begitu hangat," tambahnya.
Mia menatap lekat wajah wanita yang sudah seperti adik baginya.
"Benarkan yang ku katakan?" tanya Mia memastikan.
"Kenapa Kakak …," tanya Mira.
"Bisa tahu?" sela Mia.
Mira pun mengangguk, mengiyakan.
"Aku pun wanita dan pernah ada di posisimu, Mir. Aku tau yang kamu rasakan sekarang, terlebih jika mengingat perbincangan kita tempo hari di mall," papar Mia.
"Jadi, semudah itu ditebak ya," ucap Mira tersenyum tipis.
"Apa pria itu sudah tau?" tanya Mia.
"Ehm … dia sudah tau. Lebih tepatnya baru beberapa hari yang lalu tahu," sahut Mira.
Wanita hamil itu mulai menikmati minuman buatan Mia.
Ehm … ini sangat segar, batin Mira saat mencicipi yogurth smoothy itu.
"Lalu, apa dia mau menikahimu?" tanya Mia lagi.
"Yah, dia sudah janji akan meminangku beberapa bulan lagi," jawab Mira.
__ADS_1
"Bagaimana dengan orang tuanya?" pertanyaan Mia, praktis membuat Mira kembali diam.
Tangannya yang sedari tadi mengaduk sedotan stainless pun terhenti karena perkataan seniornya.
Mia pun bisa paham, saat melihat raut wajah Mira yang terlihat muram.
"Apa mereka juga menolakmu?" tanya Mia.
Mira menggeleng.
"Kami bahkan belum memberitahukannya kepada mereka," sahut Mira lirih.
Sekarang, Mia tau apa yang menjadi kegelisahan wanita di sampingnya itu.
"Mir, aku sudah pernah bilangkan padamu. Latar belakang kerjaan kita, sangat sulit untuk di terima oleh orang lain, terlebih calon mertua kita. Tapi, kita harus tetap percaya pada cinta. Karena dengan cinta, kita bisa melalui semuanya bersama orang yang kita cintai," seru Mia.
Mira pun mengangkat kepalanya dan menatap wajah Mia. Senyum tipis terlukis di bibir wanita cantik itu.
"Aku tau, Kak. Bahkan, aku pun sudah memperisapkan diriku untuk kemungkinan terburuknya, jika nantinya aku harus berdua saja dengan anak ini. Tapi pria itu, dia begitu memperhatikan kami, dan menyayangi kami," tutur Mira.
"Syukurlah," sahut Mia.
Mereka pun saling mengulas senyum. Namun, senyun Mia tiba-tiba menghilang kala matanya menangkap bayangan orang yang sedari tadi mengawasi kedainya dari luar jendela.
"Kak, ada apa?" tanya Mira yang melihat raut wajah Mia berubah tegang.
Dia pun kemudian mencoba berbalik dan melihat apa yang sedang di saksikan kakak seniornya itu.
"Oh … ehm … nggak papa, kok." Mia kembali menatap Mira dan mengalihkan perhatian wanita di hadapannya itu.
Mereka kembali berbincang, dengan sesekali Mia memperhatikan sosok yang masih mengintai itu dari dalam kedai.
.
.
.
.
Jangan tanya siapa? Karena nanti juga tau🤭🤭🤭🤭🤭
Lama nunggu ya😅maaf ya, guys, semalam pusing pala berbie🤭jadi baru bisa up si nyai sekarang, belum lagi ngurus novel ku yang satunya lagi😁tapi tetep ku usahain buat up tiap hari kok, meskipun waktunya nggak pasti🙏
Jangan lupa like dan komen yah😊 kembang ma kopi juga boleh banget😁
__ADS_1