
[Selamat siang, Tuan Moris. Ini aku, Mira,] sebuah pesan yang dikirimkan Mira kepada pengacara mendiang Thomas.
Wanita itu tak sengaja menyimpan nomor yang tertera di kartu nama, yang ditinggalkan oleh Moris saat menyampaikan surat wasiat dari Thomas, sebelum terjadinya penculikan yang dilakukan oleh Soraya dan Erik.
Mira nampak meletakkan kembali ponselnya. Dalam hatinya, dia ragu akan apa yang telah dia lakukan.
Buat apa gue hubungin tuh pengacara? Emangnya gue mau minta bantuan apa sama dia? Batin Mira.
Wanita itu melirik sekilas ke arah ponselnya, dan tak ada balasan sama sekali dari sana. Sampai akhirnya, Mira pun membalik ponselnya dan meninggalkan benda tersebut di samping Tania.
Sementara dirinya, pergi ke kamarnya untuk membereskan barang-barang yang telah dibawa pulang dari rumah sakit.
Sore harinya, Tania yang harus kembali ke paradise fall pun meminta ijin kepada Nicholas agar diperbolehkan meninggalkan Mira di apartemen sendirian.
“Boleh kan, Nick? Aku harus kembali ke sana sekarang. Kalau tidak, hutang ku pada Mom Winda akan bertambah,” ucap Tania dalam sambungan telepon.
“Memangnya, berapa hutangmu? Apa kamu tidak bisa pergi dari sana saja dan cari pekerjaan yang lebih baik lagi?” gumam Nicholas.
“Ya?” tanya Tania yang mendengar sayup-sayup gumaman pria itu.
“Tidak ada apa-apa. Pergilah. Biar anak buahku yang akan menjaganya,” sahut Nicholas ketus.
“Terimaka ... sih ...,” sambungan ditutup begitu saja oleh Nicholas, sebelum wanita itu selesai berucap.
“Di tutup gitu aja? Si*lan! Dasar manusia kayu. Kenapa sih ada orang kaya gini. Nyebelin parah. Sumpah,” gerutu Tania.
Mira yang baru saja selesai mandi, dan turun ke lantai bawah, mendengar gerutuan dari temannya itu.
“Kayaknya masih jalan di tempat ya,” ucap Mira.
Wanita itu nampak berjalan ke dapur, dan mengambil air minum untuk dirinya sendiri.
“Hah... Udah gue bilang kan, dia itu manusia kayu. Kaku banget orangnya. Heran gue, kok ada ya orang kayak gitu,” keluh Tania.
Mira meminum air putih, dan mengosongkan gelasnya sekaligus. Lalu kemudian, berjalan ke arah ruang tengah di mana temannya berada.
“Emangnya, pe de ka te elu udah kayak apa sih? Penasaran gue,” selidik Mira.
Tania menyandarkan punggungnya di sofa yang sudah kembali ke bentuk semula. Dia mendengus kesal terlebih dulu sebelum memulai ceritanya.
“Lu inget waktu Tuan Lingga nyuruh Nick buat jemput gue di kontrakan, yang waktu elu baru aja sadar pas habis operasi kemarin itu lho,” ucap Tania mengawali ceritanya.
__ADS_1
Mira hanya manggut-manggut menanggapi pertanyaan dan pernyataan dari temannya itu, dan terus menyimak setiap perkataannya.
“Pas itu, seperti biasa gue selalau pake kolor super pendek dan tangkop doang kalo di kontrakan, karena itu pakaian paling nyaman buat gue. Lah, gue kan nggak tau kalau Nick mau dateng jadi gue ya nggak sempet buat ganti baju.”
“Pas ada orang ketuk pintu, ya gue langsung bukain aja kan. Eh, nggak taunya si Nick dateng. Lu tau apa reaksinya lihat gue pake begituan?” tanya Tania
“Gimana?” tanya Mira balik.
“B aja. Datar, kayak papan triplek. Sumpah!” tutur Tania.
“Masa sih? Nggak ada gitu melongo dulu lihat cewe bohai pake pakean mini gitu? Paha mulus kemana-mana sama tuh belahan dada yang menggoda. Gue nggak percaya ah. Bohong kali lu,” elak Mira sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah.
“Beneran gue nggak bohong, Mok. Nggak sampe situ aja. Gue suruh masuk kan dia. Secara tamu masa iya dibiarin gitu aja berdiri di luar. Ya kali,” lanjut Tania.
“Terus-terus,” seru Mira.
“Gue bikin minum lah. Dan rambut gue yang tadinya digerai, gue iket cepol ke atas. Kelihatan kan leher mulus gue. Kaki gue pun sengaja gue silangin ke atas biar paha montok gue terekspos. Tapi, Lagi-lagi nggak ada reaksi. Gue curiga, Jangan-jangan dia nggak normal lagi. Ati-ati lu, Mok. Ntar babang Lingga lu diembat ama dia lho,” ungkap Tania.
Seketika itu, sebuah bantal mendarat di kepala ladies itu, yang berasal dari Mira.
“Sialan lu ngatain babang tamvan gue ikutan hombreng. Cowo gue tuh tulen, paten, buktinya bisa buntingin gue tuh,” sanggah Mira.
“Ya kan, kali aja. Secara ke mana-mana selalu sama-sama. Gue kan cuma kasih prediksi buat lu, Mok,” kilah Tania.
“Ampun DJ. Ogah banget gue GB. Kerja borongan tuh nggak enak tau. Mending satu-satu aja. Semalem dapet lima orang, lumayan dua setengah juta di kantong. Dari pada GB, mau lima mau sepuluh, tetep aja dapetnya segitu. Capek lagi. Ogah,” jawab Tania sambil memakai tasnya.
“Tapi enak tau. Hahahaha...,” kelakar Mira.
“Kalo yang bilang enak itu elu, gue nggak bakal percaya. Ndes*h aja kagak, dari mana enaknya. Aneh lu,” sahut Tania.
“Si*lan lu. Udah sana balik. Nyekakmat gue mulu dari tadi,” keluh Mira.
“Hahahaha... Tania mau dilawan. Udah ya, gue balik dulu. Baek-baek lu di rumah. Anak buah Nick yang bakal jagain elu di luar,” seru Tania.
“Lu juga hati-hati, Puk!” sahut Mira.
Tania pun pergi dari apartemen Lingga meninggalkan Mira seorang diri.
Mentari terlihat bergulir semakin turun di ufuk sana. Mengundang rembulan untuk menggantikannya menguasai langit malam.
Mira duduk termenung di balkon atas, sambil menunggu Lingga pulang. Tak lama kemudian, sebuah pean masuk ke dalam ponselnya.
__ADS_1
Mira pun segera masuk ke kamarnya dan meraih benda pipih yang ia letakkan di atas nakas.
Dia sangat senang, karena mengira itu pesan dari Lingga. Namun, binar di matanya menghilang saat melihat siapa yang mengirim pesan.
“Ku kira dari dia,” gumamnya.
Mira pun membuka pesan dari asisten Lingga, Nicholas, yang berisikan pesan bahwa makan malam akan segera sampai dalam beberapa menit lagi melalui via pesan antar.
Wanita itu kemudian mengetikkan sebuah pesan balasan kepada Nicholas, dan menangakan tentang Lingga.
[Apa dia masih lama pulangnya?] Mira.
[Tuan Lingga belum bisa pulang. Ada urusan yang masih harus beliau selesaikan. Mohon jangan tunggu, karena besok baru beliau akan kembali,] balas Nicholas.
Rasa nyeri menyergap di dada Mira saat membaca pesan tersebut. Tak terasa, pandangannya buram dan lelehan menetes di pipinya.
“Kamu bahkan nggak pulang. Ada apa sebenarnya denganmu? Apa ini ada kaitannya dengan kedatangan Mami mu? Apa beliau tidak merestui hubungan kita? Apa karena itu?” gumam Mira pada dirinya sendiri.
Tak berselang lama, ponselnya kembali menyala, dan tampak sebuah pesan masuk dari nomor asing.
Mira pun membukanya, dan betapa terkejutnya dia dengan pesan tersebut.
[Hai, Nona Mira. Ini saya Moris. Apa Anda sudah punya jawaban atas wasiat dari Tuan Thomas?] Moris.
“Di... Dia membalas,” gumamnya.
Mira kemudian mengetikkan sebuah pesan balasan untuk pengacara tersebut.
[Tuan Moris. Maaf, aku belum bisa memutuskan hal itu. Tapi, aku punya sebuah permintaan,] pesan Mira.
[Silakan, Nona. Katakan saja, apa itu?] Balas Moris.
Sepertinya, aku harus membantumu mengambil keputusan, Kak, batin Mira.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah😊