
Mira mengulurkan tangannya, dan menyerahkan sebotol kaldu jamur yang diminta oleh Lingga.
"Kalau butuh bumbu, cari saja di atas," ucap Mira yang kemudian pergi menuju ruang tengah.
Ia memilih untuk menghindari Lingga, dan menyaksikan acara televisi.
Sekitar sepuluh menit kemudian, semerbak aroma sup ayam yang mengepul dari arah dapur, membuat Mira mematikan TV-nya dan berjalan ke arah meja makan.
"Apa sudah siap?" tanya Mira yang duduk, dengan kedua lengannya bertumpu di atas meja, dan menyangga kedua pipinya sambil melihat ke arah Lingga.
"Sudah. Bisa tolong ambilkan mangkuk dan juga sendok?" tanya Lingga sambil membawa panci berisiskan sop buatannya menuju ke meja makan.
Mira berjalan ke arah lemari di bawah dapur, dan mengambil dua buah mangkuk, sendok serta garpu. Tak lupa, ia juga mengambil dua buah mug keramik.
Mira menatanya untuk Lingga dan juga untuk dirinya sendiri. Tak lupa, ia pun menuangkan air dari dispenser ke dalam masing-masing mug, dan kemudian kembali duduk di tempatnya.
Lingga telah memasak sup ayam dan juga telur dadar gulung sebagai pelengkap sarapan menjelang makan siang mereka.
Pria itu lalu menuangkan sup, dan mengambilkan potongan paha ayam ke dalam mangkuk milik Mira, dan ke dalam mangkuknya.
"Ayo makan," ajak Lingga.
__ADS_1
Mira pun lalu menyendok sedikit kaldu dari supnya.
"Ehm ... enak. Anda pandai memasak juga ternyata," ucap Mira memuji keahlian dapur Lingga.
"Aku sudah biasa hidup sendiri. Jadi, sudah tentu harus bisa masak kan," jawab Lingga sedikit menyombongkan diri.
"Cck! Sombongnya kumat," gumam Mira.
Lingga tak menimpali, namun hanya tersenyum tipis saat mendengarnya. Dia dan mira pun makan dengan tenang, tanpa ada perbincangan apapun lagi.
Ia tak mau merusak momen kebersaannya itu, dengan pertanyaan-pertanyaan konyol seputar masa lalunya, yang hanya akan mebuat Mira emosi dan semakin menjauhi dirinya.
Saat di tengah acara makan, Terdengar bunyi dering dari handphone Lingga, yang berada di atas meja makan.
"Halo, Nick! Ada apa?" tanyanya.
Ketika Lingga sedang berbicara denga Nicholas dari sambungan telepon, Mira diam-diam mencuri pandang ke arahnya. Ia memperhatikan bagaimana pria itu berbicara dengan sang asisten pribadi.
"Baiklah. Aku akan ke sana setengah jam lagi," ucap Lingga yang lalu menutup panggilannya.
Dia lalu kembali menyantap sup ayam buatannya sendiri.
__ADS_1
"Makanlah semua. Jika masih ada sisa, kau bisa memanaskannya kembali nanti. Aku harus segera ke kantor. Ada hal penting yang perlu di urus," ucap Lingga kepada Mira, yang masih mengaduk-aduk sup di depannya.
"Apa peduliku," ucap Mira digin.
Lingga lagi-lagi hanya bisa bersabar menghadapi sifat Mira yang bak gunung es. Terlalu angkuh dan juga keras.
Setelah menghabiskan supnya, Lingga pun menaruh piring kotornya di washtafle, sambil mencuci tangannya.
"Aku tak akan mengajakmu makan siang. Tapi nanti malam, kau akan ku jemput untuk makan bersama di luar," ucap Lingga sembari berjalan ke arah Mira.
"Baik-baik di rumah yah," seru pria itu sembari mengusap lembut puncak kepala Mira, dan mengecupnya sekilas, hingga membuat wanita itu pun merasakan debaran aneh.
Mira menghentikan gerakan tangannya yang terus mengaduk-aduk makanannya dan menoleh ke arah Lingga yang tengah berjalan menuju pintu keluar, dengan tatapan yang sulit diartikan.
.
.
.
.
__ADS_1
Nah lho ... deg-deg seeeeerrrrr kan🤭
yuk di like dan komen guys😁