My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 10


__ADS_3

..."Perjuangkan dia jika memang kau mencintainya. Tapi ingatlah untuk berhenti, ketika perjuanganmu tidak di hargai."...


...By: Rosemarry...


...******...


"Marjan!!" teriak Maria dengan keras menyambut kepulangan Marisa.


Dia sudah siap menunggu kepulangan Marisa, dengan wajan di tangan kanannya dan spatula di tangan kirinya.


Ekspresinya sungguh mengerikan, seolah siap untuk menggoreng Marisa hidup-hidup saat ini juga.


"Stop! Stop! Stop! Liat nih gue bawa apa?" Marisa mengangkat tinggi-tinggi kantong plastik yang di bawanya, sambil menaik turunkan alisnya memberi kode pada Maria.


Maria pun tampak mengendus-endus bau makanan yang ada di kantong plastik itu, " BBQ?!" Maria dengan sigap menyambar kantong plastik itu.


Seketika raut wajahnya yang tadi bak iblis wanita itu pun berubah bagai malaikat, dia memberikan spatula serta wajan yang tadi di pegangnya pada Marisa.


Kemudian Maria pun melenggang pergi meninggalkan Marisa yang mematung menatap kepergiannya.


Marisa menatap kepergian kembarannya itu dengan mulutnya yang masih menganga, seolah sedang menunggu lalat bertamu ke dalam sana.


"Markonah! Dasar nggak ada akhlak! Giliran liat makanan aja ni spatula sama wajan lo warisin ke gue!" Marisa menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.


Marisa pun menaruh wajan yang ada di tangannya itu ke atas kepala, seolah ingin menjadikan topi wajan itu sebagai tren fashion terbaru.


"Wahai wajan keramat, tolong serap emosi gue yang udah sampai ke ubun-ubun ini!" gumamnya, "Hufft! Setidaknya gue gak perlu dengerin lo khotbah hari ini dan gendang telinga gue terselamatkan dari mara bahaya."


Marisa pun berjalan menuju dapur, untuk mengantarkan wajan dan spatula itu kembali ke habitat asli mereka. Setelah itu dia baru kembali ke kamarnya dan bersiap untuk mandi.


"Kok Marisa nggak ngabarin gue ya? Apa dia pulang sendiri, tapi naik apa? Bus? Nggak! Itu nggak mungkin, secara dia kan bilang ogah naik bus lagi."


"Apa gue telfon aja ya?" Kevin pun mengambil ponselnya untuk menelpon Marisa.


"Hah... segarnya! Seragam bodyguard gue yang lama masih ada nggak ya, semoga aja masih ada deh." Marisa pun mulai mencari seragam lamanya, yang seingatnya dia simpan di dalam koper miliknya.


"Huft! Untung masih ada." Marisa pun mengambil seragam itu dari kopernya, dan meletakkannya di atas kasur.

__ADS_1


Drtt... Drtt... Drtt...


"Siapa sih yang telfon?" Marisa pun mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas nakas.


"Halo?" sapa Marisa.


"Woy Marjan! Lo kemana aja, hah!? Kakak lo bilang, kemarin lo kecelakaan pas balik dari apartemen gue. Kenapa lo nggak bilang sama gue sih!?"


Seseorang yang menelepon Marisa dari seberang sana, terus saja mencecar Marisa dengan berbagai Pertanyaan.


"Astaga Gea! Bisa nggak sih lo nggak usah kayak Maria? Kalo ngomong itu pake titik koma oke?!" seru Marisa.


"Iya! Iya! Ya udah lo ceritain ke gue apa yang terjadi sama lo kemarin."


"Nanti aja gue ke apartemen lo. Nggak enak ngobrol di telfon, berasa LDR." Marisa pun bergurau sambil terkekeh.


"Dasar sengklek! Lo kira gue belok? LDR sama lo lagi! Kalo pun gue belok nih ya, nggak akan gue belok ke lo!" balas Gea sambil tertawa renyah.


"Dasar Bestie lucknut! Gue yang udah secantik Angelina Jolie ini pun lo tolak? Mata lo minus, apa katarak hah?!"


"Wah bener-bener temen nggak ada akhlak lo Mar! Mata gue ini normal, makanya gue gak mau belok sama lo!" Gea pun terkekeh dengan bahagianya, hanya karena bisa mengejek Marisa.


"Dasar bocah gemblung, main matiin aja gak pake permisi." Gea melihat teleponnya yang terputus begitu saja dengan wajah kesal.


Marisa pun mengambil hoodie hitam kesayangannya, dan memakai celana sobek-sobek khas anak zaman now


Setelah itu, Marisa pun memesan ojek untuk mengantarnya menuju ke apartemen Gea.


"Kok nomernya Marisa sibuk terus ya?" gumamnya setelah mencoba menelfon Marisa tiga kali, tapi selalu saja sibuk.


"Huft! Udahlah nanti aja deh gue telfon lagi." Kevin pun kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar miliknya itu.


Di tempat lain...


"Arka, apa aja jadwal gue setelah ini?" tanyanya pada sang asisten pribadi.


"Kita ada meeting sama Firma Group." Jawabnya sambil membaca jadwal Kenzo hari ini.

__ADS_1


"Habis meeting sama Firma Group, kita ada acara kunjungan lapangan di proyek kita sama DS Corp. Malamnya ada undangan ulang tahun dari Blue Company." Jelas Arka dengan lengkap.


Kenzo pun menghela kasar nafasnya, "Huft! Blue Company? Ulang tahun Raisa?"


"Ya, ulang tahun Raisa. Apa perlu gue tolak aja, Ken?" Arka pun menawarkan untuk menolak undangan dari Blue Company.


"Nggak bisa, gimana pun Blue Company itu partner kerja sama perusahaan kita, jadi gue tetap harus datang walaupun gue males."


"Gue punya ide bagus, gimana kalau lo bawa pasangan aja ke acara itu. Ya... seenggaknya kalau lo dateng sama pasangan lo, dia nggak akan nempel kayak lintah darat kan?"


Raisa adalah putri tunggal pemilik Blue Company, seorang konglomerat di kota itu. Kekayaanya hanya satu tingkat di bawah kekayaan keluarga Kenzo.


Dia sangat menyukai Kenzo sedari dulu, namun Kenzo selalu merasa terganggu karena wanita itu terus menempelinya seperti lintah yang tidak bisa lepas.


Dan tentu saja hal itu membuatnya risih.


"Terus menurut lo siapa yang bisa gue ajak kesana, Arka? Apa lo punya kandidatnya?" Kenzo menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya, "Lo tahu kan, gimana sifat Raisa? Jadi pasangan gue itu harus yang tahan banting, kalau perlu orang itu harus bisa bikin si Raisa itu ngejauh dari gue selamanya."


Perkataan Kenzo pun membuat Arka terdiam sejenak dan berfikir, siapa kira-kira kandidat yang cocok untuk misi itu.


"Bukannya kandidat bodyguard lo yang lolos interview hari ini tuh cewek? Kenapa nggak dia aja?"


Kenzo pun nampak berfikir, dia tengah mempertimbangkan usulan Arka.


"Dia kan cewek. Lagipula dia itu bodyguard profesional, jadi gue rasa dia bisa naklukkin si Raisa."


Arka teringat kalau tadi bagian personalia mengabarinya, kalau ada satu kandidat bodyguard yang lolos hari ini dan dia adalah seorang wanita.


"Terserah lo aja, lo urus semuanya gue nggak mau ambil pusing." Kenzo pun memejamkan mata dan bersandar pada sandaran jok mobilnya.


Rasa lelah membuat matanya terasa berat dan mengantuk, tapi dia tetap masih harus melanjutkan kegiatannya hari ini.


"Siap!" Arka pun mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang.


Sementara itu...


Saat ini Marisa sudah sampai di depan pintu apartemen Gea.

__ADS_1


Tit... Tit... Tit...


Cklak!!


__ADS_2