My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 84


__ADS_3

"Dasar sirup Marjan! Awas aja kalo lo nggak kasih gue penjelasan yang memuaskan. Gue jual lo tukang es buah!" geram Johan, "Aduh... si Bejo jadi sekarat begini gara-gara si Marjan! Kalo gue ganti mobil bisa-bisa—" Johan meraup kasar wajahnya.


Setelah kejadian itu, hari-hari Marisa sedikit tenang. Orang itu juga belum terlihat lagi setelah kekalahannya melawan Marisa malam itu, dan Johan juga percaya dengan kebohongan yang Marisa buat untuk menutupi hal yang sebenarnya.


Hingga akhirnya hari keberangkatan Kenzo, Arka, dan Marisa ke Hawaii pun tiba.


"Loh Mar, lo mau kemana?" tanya Maria bingung kala Marisa mengemasi bajunya ke dalam koper.


"Lah kan gue mau ke Hawaii," jawab Marisa.


"Kok lo nggak bilang sih ke gue?! Terus gue di rumah sendirian dong selama lo di sana!" Maria kesal karena Marisa tidak memberitahunya tentang rencananya pergi ke Hawaii.


"Lah? Emang gue belum bilang sama lo ya? Perasaan udah deh," ucap Marisa yang merasa dirinya sudah memberitahu Maria masalah ini.


"Dasar Opik! Otak pikun! Lo belum ngasih tau gue, Bambang!"


"Belum ya? Ya maap... maklum otak gue masih versi lama," kekehnya membercandai Maria.


"Ya maaf sih maaf, tapi kan gue bakal gabut kalo di rumah sendirian terus."


"Ya elah, belum juga gue berangkat. Udah kangen aja lo," godanya.


"Anggep aja nyicil dulu kangennya," jawab Maria.


"Ya udah, gue minta Gea buat nginep di sini lagi aja sama lo. Atau lo aja yang mau ke apartemen Gea?"


"Ehm... gue aja deh yang ke apartemennya si Gea. Sekali-kali kan gue nginep di sana, buat nyari tau senyaman apa apartemen Gea sampe bisa bikin lo ketagihan buat nginep di sana," ucapnya dengan nada menyindir Marisa.


"Ya udah gue cabut dulu ya, takut telat nih!" Marisa menengok jam di pergelangan tangannya.


"Ya udah sana! Jangan lupa oleh-olehnya ya, adek cantik..."


"Giliran minta oleh-oleh aja lo baik-baikin gue. Mau gue bawain apa? Kue pia patok atau dodol?"


"Nggak sekalian aja lo bawain gue lumpia, kerak telor, atau martabak?! Lo mau ke Hawaii tapi mau bawain gue oleh-oleh khas Jogja! Adek lucknut emang!" candanya.


"Sensi amat, buset dah! Iya! Iya! Ntar gue beliin oleh-oleh buat lo."

__ADS_1


"Good sister!"


"Gue berangkat ya, bye!" Marisa mencium pipi saudari kembarnya dan melenggang pergi untuk segera menuju rumah Kenzo.


Taksi online yang dia pesan juga sudah datang sejak tadi.


"Ayo pak, jalan."


Setelah beberapa menit perjalanan, Marisa pun sudah sampai di rumah Kenzo. Dan Kenzo serta Arka juga sudah selesai bersiap.


"Semuanya sudah siap kan?" tanya Kenzo.


"Sudah," jawab Arka dan Marisa bersamaan.


"Eh Marisa?" tiba-tiba Stella keluar dari rumahnya dan menyapa Marisa.


"Eh, tante. Apa kabar tante?"


"Baik. Kalian sudah mau berangkat?"


"Iya ma, kita udah mau berangkat."


"I-iya tante."


"Ya udah ma, kita berangkat dulu."


Mereka pun berpamitan dengan Stella dan masuk ke mobil dengan pak Tejo yang sudah siap mengantar mereka ke bandara.


Mobil pun melaju meninggalkan rumah Kenzo. Tapi dari lantai atas rumah itu, tepatnya di depan sebuah jendela. Tampak seorang pria yang menatap mobil itu dengan sedih.


"Huft... Apa bener kata mama, kalau perasaan gue ke Marisa itu cuma sebatas kagu?" gumamnya, "Tapi memang benar. Gue marah saat Marisa bilang dia suka sama kak Ken, tapi hati gue nggak ngerasain sakit saat itu. Aarrghh...!" Kevin mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


Singkat cerita, mereka sudah berada di dalam pesawat yang akan mengantarkan mereka ke tempat tujuan.


"Kita terpaksa pakai pesawat reguler, karena pesawat pribadi sedang di pakai oleh kaisar," keluh Arka.


Biasanya mereka bisa dengan nyaman menikmati perjalanan udara semacam ini, karena Kenzo selalu menggunakan pesawat pribadi keluarganya. Tapi karena pesawat pribadi saat ini juga sedang dalam penerbangan, mengantarkan Gio ke Jepang untuk urusan bisnis. Mereka terpaksa menggunakan pesawat reguler.

__ADS_1


"Astaga Arka... lihat itu, bosmu saja tidak memgeluh sepertimu. Tapi malah kau yang banyak mengeluh sedari tadi."


Arka pun melihat Kenzo yang duduk di samping Marisa, "Ya iyalah dia anteng-anteng bae! Orang duduknya di sebelah gebetannya!" batin Arka, "Nha gue! Sebelah gue... hadeh...! Seenggaknya kalo di sebelah gue itu cewek cantik kaya Gea sih oke aja, nha ini malah di kasih lele dumbo! " Arka melirik penumpang pria dengan kumis tebal di sebelahnya yang sudah tertidur pulas, bahkan sebelum pesawat lepas landas tadi.


Perjalanan udara yang berjam-jam lamanya itu, membuat Marisa juga ikut mengantuk. Dia pun tertidur. Tapi karena dia duduk di dekat jendela, kepalanya pun hampir membentur jendela jika tidak segera di tahan oleh Kenzo.


"Aku akan meminjamkan bahuku untukmu, tapi jangan sampai kau menggambar peta Italia atau Amerika di bahuku!" batin Kenzo.


Akhirnya Kenzo pun ikut mengantuk dan akhirnya tertidur.


Hingga akhirnya perjalanan panjang yang melelahkan itu pun berakhir. Dan kini mereka sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke apartemen Kenzo yang ada di Hawaii.


Sesampainya di apartemen...


"Marisa, kau bisa tidur di kamarku. Dan aku akan tidur bersama Kenzo."


"Tidak! Itu kamarmu, dan aku tidak akan mengizinkannya tidur di kamarmu! Terlebih lagi, aku tidak mau kau tidur di kamarku! Kau itu jorok, kamarmu selalu berserakan dan aku tidak suka itu."


Arka meringis dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Lalu dia harus tidur di mana kalau bukan di kamarku? Tidak mungkin dia tidur di sofa kan?" kamar Arka memang selalu berantakan, dan jarang sekali rapi. Karena dia malas untuk membersihkan kamarnya, dan tidak pernah mengizinkan pelayan masuk ke kamarnya.


"Tentu saja tidak. Dia tidur di kamarku!"


"Hah? Kau bercanda? Kau bahkan tidak pernah mengizinkanku tidur di kamarmu, tapi kau inisiatif menyuruhnya tidur di kamarmu? Luar biasa..." Arka bertepuk tangan menggoda Kenzo.


"Tapi aku juga—"


"Kau tidak punya hak bicara di sini. Ikuti saja pengaturanku!" sahut Kenzo.


"Hobi membuat barang orang lain berantakan," sambung Marisa dalam hati, karena Kenzo tidak mengizinkannya membantah.


Bahkan Maria saja kewalahan menghadapi si biang rusuh ini, apalagi Kenzo.


"Ikut aku."


Maria pun mengikuti Kenzo naik ke lantai atas, di mana kamar Kenzo berada.


"Tunggu! Tapi di kamarmu ada ranjang lain kan, bos?" tanya Marisa yang baru ingat hal penting ini.

__ADS_1


"Tidak ada," jawabnya santai.


"Hah? Lalu aku tidur di mana?" tanyanya lagi.


__ADS_2