
...Mengalah bukan berarti kita kalah...
...Diam tidak selalu karen sebuah ketakutan...
...By: Rosemarry...
...*****...
Uhuk! Uhuk!
"Lo nggak apa-apa Jo? Aneh banget sih lo, makan enggak minum enggak kok bisa keselek? Keselek jigong lo ya?" ejek Maria.
Johan pun hanya menanggapinya dengan senyum canggung dan wajah yang seolah sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Oh iya Mar, gimana soal kerjasama lo sama King Jewelry itu?" tanya Johan mengalihkan pembicaraan.
"Hmm... Katanya sih besok gue di suruh ke kantornya buat persiapan gitu, soalnya minggu depan kita udah harus mulai." Jawab Maria.
"Besok? Mau gue anterin nggak?"
"Lah? Emang lo nggak kerja besok? Kalau gue kan emang nggak ada jadwal pemotretan besok." Tanya Maria.
"Ehm, gue bisa ijin kok tenang aja."
"Yakin?"
"Yup!"
"Oke deh, besok lo jemput gue jam 8 ya."
"Siap, My Queen." Jawab Johan dengan senyum manisnya.
Maria pun terkekeh mendengar candaan Johan.
"Jo..." Panggil Maria.
"Ya?"
__ADS_1
"Lo kan ganteng nih ya, pasti banyak kan cewek-cewek yang suka sama lo. Tapi kenapa lo masih aja menjomblo sampe sekarang?"
"Karena gue udah punya orang yang gue suka." Jawabnya sambil mencuri pandang pada Maria.
"Hah? Yang bener?" tanya Maria kaget.
"Bener."
"Siapa?" kepo Maria.
"Cewek."
Pletak!!
Pletak!!
"Ouch! Sakit sayang..." Keluh Johan sambil melirik sekilas pada Maria.
"Dih! Pake sayang-sayang lagi. Siapa suruh lo jawabnya ngeselin! Gue juga tau kalo yang lo suka itu cewek, nggak mungkin kan lo suka mang Udin tukang bersih-bersih di kantor! Tapi dia juga pasti punya nama kan, Jojo kampret...!?"
Maria pun menatap dengan raut wajah tidak percaya pada Johan, plus dengan alisnya yang bertaut.
Pletak!
Johan pun menyentil kening Maria tanpa mengalihkan fokusnya dari jalanan.
"Sakit Jojo!"
"Lagian lo serius banget sih, gue cuman bercanda Maria..."
"Lagian lo bercanda sama serius sama aja, muka lo datar!" Ucap Maria.
"Andai aja lo tau kalau gue nggak lagi bercanda, Mar." Batin Johan sambil melirik pada Maria.
"Lagian, pengen tau banget lo siapa cewek yang gue suka? Ngerasa punya saingan?" Goda Johan menengok sekilas pada Maria sambil menaik turunkan alisnya.
"Ya... gue kan cuma bingung aja, secara lo itu ganteng ter—"
__ADS_1
"Makasih." Sela Johan.
"Hah?"
"Karena lo udah ngakuin kalo gue ganteng." Kekeh Johan yang mendapat hadiah cubitan manja di pinggangnya.
"Aw! Aw! Aw! Sakit Mar, lagian bahaya tau... Gue kan lagi nyetir." Seru Johan.
"Siapa suruh lo kepedean? Gue kan belum kelar ngomong. Maksud gue, lo itu kan ganteng walaupun dikit terus lo juga baik walaupun kadang juga lo ngeselin. Banyak juga cewek yang nyantol di elo, tapi kenapa lo masih jomblo?"
"Maria sayang... Tolong ya, lain kali sebelum lo ngatain orang lain mendingan ngaca dulu. Lo sendiri aja masih anggota Joker alias jomblo keren, sama kayak adek lo itu." Sahut Johan.
"Wait! Wait! Wait! Maaf-maaf nih ya ferguso...! Kita berbeda, kalo gue kan emang belum pengen pacaran. Tapi lo kan enggak."
"Gue juga masih banyak hal yang harus gue lakuin sebelum gue mikirin soal cewek, dan lagi... bagi gue asalkan masih ada lo di hidup gue... Jomblo juga bukan masalah." Imbuh Johan sambil terkekeh.
"Sialan lo! Lo selalu aja jadiin gue tameng hidup buat ngusir cewek-cewek yang mau deketin lo!" ujar Maria dengan bibir manyunnya.
"Hehe... Piss." Johan menunjukkan dua jarinya sebagai tanda damai sambil memperlihatkan senyum pepsodentnya yang menampilkan deretan giginya yang putih dan rapih itu.
"Dasar Jojo kampret!" seru Maria.
Hingga tanpa terasa, mobil yang mereka tumpangi pun sudah berhenti di depan bangunan, tempat mereka bekerja.
Begitu pula dengan Marisa dan Kenzo yang juga baru saja tiba di perusahaan, Marisa turun dan kemudian berlari untuk membukakan pintu untuk Kenzo.
Namun saat Kenzo baru saja melangkah turun dari mobil, Marisa merasa seperti sedang di awasi oleh seseorang dari kejauhan.
Dengan feelingnya yang kuat, Marisa pun mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Tatapannya terhenti pada sebuah mobil berwarna hitam, dengan seorang pria berhoodie yang berdiri di depannya.
Dengan cepat Marisa mengetikkan plat nomor mobil tersebut ke dalam pesan teks dengan ponselnya dan mengirimnya pada seseorang.
Marisa pun kembali ke dalam mobil untuk membawa mobil itu ke tempat parkir perusahaan.
"Haish... lebih baik aku tidur sebentar, mungkin saja nanti malam aku harus begadang." Celetuk Marisa yang hendak memejamkan matanya namun sayangnya, apa yang dia lihat di detik setelahnya membuat Marisa urung menutup mata.
"Astaga itu—"
__ADS_1