
Di sisi lain...
"Ken, kenapa kau membiarkan bajing*an itu membawa Kara pergi!? Aku kira kalian menyiapkan rencana lain, tapi ternyata kau justru menyerahkan sepupumu sendiri!?" seru Marisa saat Ando membawa pergi Karamel.
"Itu keinginan Kara sendiri. Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada paman Cleric."
"Apa!?"
Kenzo pun menjelaskan semuanya, hingga akhirnya Marisa pun mengerti.
"Tapi aku tetap merasa tidak tenang. Ando bukan pria yang penyayang, bagaimana jika Kara di sakiti olehnya."
"Ehmm... kalau soal itu, aku justru lebih mengkhawatirkan Ando. Dia belum tau seperti apa sepupuku itu. Dari luar saja dia sudah terlihat bar-bar, tapi sebenarnya dia lebih mengerikan dari apa yang terlihat," jelas Kenzo.
"Benarkah?" tanya Marisa tidak percaya.
"Lihat saja sendiri." Kenzo menunjuk ke arah para bawahan ayahnya dan paman Cleric yang sedang menggotong mayat para bawahan Ando.
"Mereka semua pingsan? Mereka di kalahkan oleh Kara?" Marisa menautkan alisnya.
"Ehm... lebih tepatnya mereka semua mati, bukan pingsan."
"What!? Mati!? Lalu sekarang bagaimana? Apa Kara akan menjadi buronan juga?!" tanya Marisa dengan panik.
"Tentu saja tidak. Paman Cleric yang akan mengurusnya, tidak akan ada masalah. Sekarang yang terpenting adalah menemui kakak iparku, sebelum dia curiga."
"Astaga, Maria. Ayo cepat, dia pasti sangat khawatir!"
"Aku sudah berbohong padanya, jadi mungkin dia tidak sepanik yang kau pikirkan."
"Benarkah? Baguslah kalau begitu,"
Mereka pun kembali dengan mengendarai helikopter, menuju ke markas besar.
Sedangkan beberapa anak buah Ayahnya, yang menggunakan jalur laut, kini masih terus mengikuti kapal yang di tumpangi oleh Ando dan Kara.
Meskipun keduanya sudah tau, tapi mau bagaimana lagi? Cleric juga bicara sendiri, asal Ando tak menyakiti Kara maka Cleric juga tak akan bertindak berlebihan. Tapi dia akan terus memantau keduanya, bahkan secara tidak langsung, dia sudah memberikan restunya untuk pernikahan mereka berdua.
__ADS_1
Pernikahan antara dua orang yang tak mempercayai cinta dan pernikahan. Dua orang yang pernah tersakiti karena cinta. Cinta seorang kekasih, maupun Ando yang tersakiti dengan cinta palsu ayahnya pada mendiang sang ibu.
Tapi mungkin membiarkan Kara dan Ando bersama, bukanlah hal buruk. Mungkin saja dua orang itu, bisa menyembuhkan rasa sakit hati mereka di masa lalu.
Singkat cerita, kini Marisa dan Kenzo sudah berada di rumah Maria untuk menjemputnya.
"Markonah..." panggilnya saat memasuki rumah.
"Lo kebiasaan banget sih, Marjan! Suka banget teriak-teriak kayak tarzan wati!" umpat Maria yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ya kan itu udah kebiasaan gue, hehe..."
"Kenapa lo? Cengar-cengir, nggak jelas banget!"
"Gue tuh cuma—" Marisa tak sempat menyelesaikan ucapannya, karena Maria yang terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi lagi, "Woy! Markonah! Bener-bener lo ya!" umpatnya sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Namun dia pun berhenti, kala samar-samar dia mendengar suara Maria yang sedang muntah di dalam sana.
"Mar! Lo kenapa? Mar!" Marisa terus memanggil Maria sambil menggedor-gedor pintu itu.
"Lo kenapa sih, Mar? Lo sakit?"
"Masuk angin doang kok, biasa. Gue kerja sampe malem kemarin, makanya jadi sakit," ujarnya dengan wajah yang terlihat pucat.
"Terus gimana? Lo jadi ikut gue pergi nggak nih? Ntar lo pingsan di jalan, kan repot."
"Nggak lah, cuma masuk angin doang lebay banget sih lo!"
"Ya udah yok berangkat, nanti sekalian kita mampir ke rumah sakit buat periksa!"
"Nggak!" tolak Marisa dengan cepat.
"Kenapa enggak? Lo kan lagi sakit, Maria...! Jadi kita harus periksain lo ke dokter."
"Ehm... Gue mai beli obat masuk angin aja di apotek. L-lo kan tau sendiri, gue paling takut sama yang namanya jarum suntik. Ogah gue ketemu sama itu benda!" Kilahnya.
"Ya udah ntar kita mampir ke apotik, beli obat. Udah yuk buruan, ntar nenek kelamaan nunggu, nggak enak."
__ADS_1
Marisa pun menggenggam tangan Maria dan membawanya ke mobil Kenzo.
"Marisa... Kakak kamu kenapa? Sakit? Muka kakak kamu pucet banget, mau ke rumah sakit dulu?" tanya Kenzo.
"Nggak, ke apotik aja. Dia takut jarum suntik, ntar dia pingsan dengan terhormat lagi gara-gara liat itu benda." Seloroh Marisa.
"Ok."
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Maria juga memperbaiki makeupnya, agar wajahnya tak terlihat pucat lagi.
"Ini sebenernya kita mau kemana sih?" tanyanya.
"Ketemu nenek, kan gue tadi udah bilang sama lo."
"Nenek? Nenek siapa? Nenek gayung?"
"Nenek kebayan!" jawab Marisa dengan sengaknya.
"Yaelah gue kan bercanda doang, sensi amat sih lu!" ujarnya, "Emangnya kenapa nenek lo pake nyuruh gue ikut segala? Yang cucu menantunya kan si Marisa, kenapa gue di suruh ikut?"
"Aku juga belum tau kenapa. Nenek tiba-tiba saja meminta untuk bertemu dengan kalian berdua, entah untuk apa. Tanyakan saja sendiri padanya, nanti."
"Ooh... Ok," jawab Maria.
Mereka pun berhenti di sebuah apotik, untuk mengantar Maria membeli obat.
"Ayo, turun." Ajak Marisa.
"Gue sendiri aja, lo di sini temenin laki lo. Ntar di gondol tante girang, baru tau rasa lo! Lagian gue tu udah gede, gue bisa sendiri."
"Ya udah sana cepetan," ujar Marisa, "Gue curiga sama si Markonah!" batinnya.
Setelah Maria turun dan masuk ke apotik, Marisa pun menyusulnya. Dia dan Maria adalah saudara satu tali puser, dan bisa di bilang koneksi di antara mereka sangatlah besar. Itulah kenapa Marisa merasa kalau Maria menyembunyikan sesuatu darinya.
Dia pun melihat dari jauh, dan dia membelalakkan matanya saat melihat obat apa yang Maria beli.
"Apa jangan-jangan dia...!?"
__ADS_1