
...Jangan lupa like, komen dan amunisinya ya guys💋💋💋💋...
...*******...
...*Jika terlalu sulit bagimu untuk memilih, maka aku bisa membantumu dengan mundur....
...Lagi pula aku tak ingin menjadi sebuah pilihan ganda. Aku ingin menjadi jawaban satu-satunya untuk segala keraguanmu. Bukan menjadi satu dari dua atau tiga pilihan yang kau miliki, aku tidak sanggup.*...
...*******...
Di sisi lain...
"Dor!"
Pria itu terkejut, kemudian menoleh ke belakang dengan kesal, untuk melihat siapa orang yang sudah mengagetkannya itu. Dia pun kesal setelah melihat siapa orangnya.
"Sialan lo! Ngapain sih pake ngagetin gue? Jantung gue hampir copot nih gara-gara lo, setan emang lo!" umpatnya dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
"Ya elah santai aja kali Vin... lagian lo tumben banget lo malah di sini, mana ngelamun sendirian lagi. Biasanya pas kita lagi kumpul gini, juga lo yang paling cerewet san aktif. Lo ada masalah?" tanya sahabat Kevin yang bernama Ciko itu.
"Nggak apa-apa Ko, gue cuma lagi mikir sesuatu aja kok."
Melihat Kevin yang sepertinya memang butuh waktu untuk sendiri, Ciko pun akhirnya kembali ke tempat teman-temannya yang lain, dan membiarkan Kevin kembali tenggelam dengan lamunannya sendiri yang entah apa itu.
Di lihat dari wajah baby facenya itu, terlihat wajah sedih, bingung, juga marah di saat bersamaan. Dia sedih karena Marisa menikah dengan kakaknya, dan bahkan tanpa dia atau keluarganya tau. Tapi dia juga marah pada dirinya sendiri, karena malah sedih melihat kakaknya bahagia dengan wanita yang sempat mengisi hari-harinya. Dan yang paling menguasainya adalah bingung. Dia bingung dengan perasaannya sendiri.
Kalai memang dia benar-benar mencintai Marisa, harusnya rasa sedih yang dia rasakan akan lebih dari ini, juga pastinya ada rasa kecewa di sana. Tapi dia tak mendapati itu. Lalu dia juga tidak marah pada Marisa atau Kenzo, tapi justru pada dirinya sendiri yang bahkan tak bisa mengartikan perasaannya sendiri.
Lalu yang dia rasakan pada Marisa yang kini menjadi kakak iparnya itu perasaan apa? Apakah benar seperti kata mamanya, itu hanya sekedar perasaan kagumnya pada wanita yang dia anggap berbeda dari wanita lainnya? Mungkin saja.
Kevin pun berdiri dan berjalan ke arah teman-temannya yang sedang berkumpul dan tampak asik main game bersama, alias mabar. Dia menyambar jaket dan tasnya, kemudian berpamitan dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Gue duluan ya guys, ada urusan."
"Ok!" jawab teman-temannya dengan acungan jempol pada Kevin.
Setelah itu Kevin pun keluar dari tempat yang menjadi basecampnya dan teman-temannya saat berkumpul, untuk sekedar mengobrol, bersantai, ataupun mabar.
"Itu si Kevin kenapa sih Ko? Tadi lo tanyain nggak, dia kenapa? Tumben banget tuh anak diem mulu dari tadi." Tanya Rudi pada Ciko.
"Nggak tau juga, dia nggak cerita apa-apa ke gue. Dia cuma bilang lagi mikirin sesuatu aja gitu katanya." Jawab Ciko, yang tak melepaskan fokusnya dari layar kecil canggih miliknya.
Di sepanjang jalan, Kevin masih terus memikirkan hal yang sama. Membuatnya tidak bisa fokus menyetir motornya, hingga dia tak sadar jika ada seseorang yang menyeberang jalan.
Dengan panik, Kevin menginjak rem motornya. Dan untungnya dia belum sempat menabrak orang itu. Kevin pun menepikan motornya dan turun untuk menghampiri orang yang hampir saja dia tabrak.
"Maaf, gue nggak sengaja. Tadi gue nggak fokus bawa motornya, lo nggak apa-apa kan?" tanya Kevin pada wanita itu.
Wanita itu pun berkata, "Tidak apa-apa, saya baik-baik saja." Tapi yang aneh, dia tak menghadap ke arah Kevin, melainkan ke arah lainnya.
Kevin merasa iba melihat gadis tunanetra yang tampaknya masih muda, mungkin seumuran dengannya itu.
"Lo mau kemana? Biar gue anterin." Tawar Kevin.
"Saya mau pulang. Dagangan saya juga sudah habis, jadi saya bisa pulang cepet hari ini," ucapnya sambil tersenyum.
Kevin sempat terkesima melihat senyuman manis gadis itu. Senyuman yang begitu meneduhkan hati, dan terlihat sangat tulus. Membuat jantung Kevin berpacu sangat cepat, dengan pandangan yang tak bisa beralih dari gadis cantik itu.
"Mas? Mas? Kok malah diam saja?" Beberapa kali gadis itu memanggil nama Kenzo, hingga akhirnya si empunya pun tersadar dari lamunannya itu.
"Ah, maaf tadi gue malah ngelamun."
Kevin pun akhirnya menuntun gadis itu dan membantunya naik ke atas motor gedenya.
__ADS_1
Gadis itu berpegangan di ujung jaket Kevin, membuat Kevin entah kenapa tersenyum melihatnya.
Motor pun mulai melaju dan membelah keramaian jalan kota besar itu. Gadis itu mengatakan di mana rumahnya yang letaknya tidak terlalu jauh dari sana, pada Kevin.
Hingga mereka sampai di sebuah pemukiman yang bisa di lihat daru rumahnya, jika semua penghuni kampung ini adalah kalangan menengah ke bawah. Dan Kevin pun berhenti di depan sebuah rumah kecil, yang tampak sudah sangat tidak layak huni.
Dia membantu gadis itu turun, dan mengantarnya sampai ke depan rumah.
"Silahkan masuk mas," ujarnya setelah membuka pintu rumahnya.
Awalnya Kevin ragu-ragu untuk masuk ke dalam rumah yang bahkan tidak lebih besar dari kamarnya di rumah. Namun dia juga tidak enak hati untuk menolak tawaran gadis itu, hingga dia pun masuk ke dalam rumah kecil itu, dan melihat isi di dalamnya.
Rumah itu memang kecil, tapi terlihat sangat rapi dan bersih. Tapi perhatian Kevin tertuju pada seorang anak kecil, yang terbaring lemah di atas kasur dipan yang ada di depannya.
Karena rumah itu memang kecil, jadi hanya dua ruangan di sana. satunya ruang tamu dan satunya lagi kamar tidur. Sedangkan kata si pemilik rumah, kamar mandi ada di belakang rumah ini.
"Lalu di mana kalau kau memasak? Kenapa tidak ada kompor di sini?" tanya Kevin sambil celingukan ke kanan dan kiri. Pasalnya memang hanya ada sebuah meja yang terdapat gelas, piring dan juga satu teko air di sana, tapi dia tak melihat adanya alat untuk memasak.
"Kompor? Saya tidak punya kompor, mas. Saya masih memasak menggunakan kayu bakar, karena lebih murah." Jawabnya tanpa ragu.
Kevin membulatkan matanya dengan tidak percaya. Di zaman yang sudah begitu maju ini, ternyata masih ada orang yang tidak menggunakan kompor untuk memasak? Dia bahkan baru tau hal itu, hari ini.
"Lalu siapa yang ada di kamar itu? Apa dia adikmu?"
"Iya, mas. Dia adik saya, Devi. Tapi dia sedang sakit parah saat ini."
...*********...
...Weh weh weh babang Kevin nemu eneng geulis baru nih ceritanya?ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤”...
...Kasihan banget itu si eneng geulisnya. Hidupnya berat banget, kayak timbangan dosa author.🤣🤣...
__ADS_1