My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 137


__ADS_3

...Kita memasuki zona bertegangan tinggi guys🥳🥳...


...Harap siapkan kipas angin, es teh, dan pendingin ruangan kalian🤣...


...Untuk bocil-bocil yang masih suka beli ciki berhadiah, di harapkan untuk menyingkir dulu, ini bukan saatnya bagi kalian untuk muncul🤣🤭...


...Kencangkan sabuk pengaman, dan mari kita berangkat...💋...


...*********...


Maria merasa jika karakter asli Johan sangat berbeda dari sosok Johan yang dia kenal. Johan yang begitu sederhana, humoris, dan juga apa adanya. Tapi kini yang ada di hadapannya seperti sisi lain dari diri Johan, sosok pria yang begitu mendominasi, berwibawa dan sangat menawan. Benar-benar seperti dua sosok yang berbeda.


"Aku tidak berubah, tapi memang aku tidak mungkin memperlihatkan sifat bawaanku yang mendominasi dengan statusku kan, sayang. Jadi jangan pernah anggap aku berubah, aku tetaplah Johan yang dulu, Johan yang selalu menyayangi dan melindungimu sepanjang waktu."


Meleleh sudah hati Maria mendengarnya. Tapi memang benar, Johan tetaplah Johan. Tak ada yang berubah darinya.


"Aku ingin menjenguk anak kita, apa boleh?"


Tubuh Maria menegang saat Johan tiba-tiba saja menggigit kecil telinganya, memberikan sensai geli, hangat, dan basah di saat yang sama.


"Emh..." Maria menggeliat kegelian, terlebih saat Johan mulai menyentuh setiap bagian tubuhnya.


Maria terlena dengan perlakuan lembut pria yang kini sudah berstatus suaminya itu. Dia benar-benar di perlakukan bagai barang berharga yang mudah pecah, dia di perlakukan dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.


Bagaimana bisa ada pria sesempurna ini? Pria tampan, baik, bertanggung jawab, pria yang sangat menyayangi istri dan anaknya. Maria benar-benar merasa beruntung mendapatkan suami seperti Johan, rasanya keberuntungan seumur hidupnya sudah habis untuk mempertemukannya dan Johan.

__ADS_1


Johan mengangkat tubuh Maria dan mendudukkannya di atas piano itu, kemudian mulai bermain dengan setiap inci tubuh istrinya. Sampai-sampai Maria tak sadar, kapan dirinya sudah tak lagi mengenaikan gaunnya. Kini hanya tersisa kaca mata pelindung dan segitiga pengaman miliknya, yang masih setia melindungi dua aset berharga miliknya.


Desa*han dan erang*an kenikmatan, meluncur dengan begitu mulus dari bibir sexy Maria. Dia benar-benar menikmati setiap sentuhan Johan dia setiap bagian tubuhnya. Bagai tersengat aliran listrik bertegangan tinggi, membuat tubuhnya terus menggelinjang menahan rasa geli yang bercampur dengan nikmat saat bibir dan tangan Johan mulai bermain dengan lincah di kedua bukit kembarnya.


"Aaaaah..."


Melihat wanitanya berada dalam posisi yang tidak begitu nyaman, Johan dengan hati-hati menggendong tubuh Maria ke atas sofa besar yang ada di ruangan itu.


Dia membaringkan perlahan tubuh Maria, kemudian melanjutkan kegiatan yang tadi sempat terhenti. Johan mencium bibir sexy Maria dengan penuh gai*rah, ciuman yang kemudian berubah menjadi sesa*pan dan luma*tan yang begitu membuai dan membuat Maria merasa terbang ke angkasa.


Tangan Johan bermain dengan lihainya, menyentuh setiap inci tubuh Maria dan membuat suara kenikmatan terus meluncur dari bibir sexy itu.


Meskipun ini bukan kali pertama dia melihat, menyentuh dan menikmati tubuh mulus istrinya, namun kali kedua ini berbeda. Mereka akan melakukannya dengan status mereka yang sudah berubah, menjadi sepasang suami istri.


Johan melahap kedua gundukan itu dengan rakus, bergantian kanan dan kiri. Sesekali dia juga menggigit kecil pucuk merah meda yang sudah mengeras itu, membuat Maria membusungkan dadanya, seolah membantu Johan agar lebih mudah menikmatinya.


Setiap sentuhan Johan benar-benar bagai dahaga yang tak berujung, Maria terus menginginkan hal itu lagi-lagi. Dia ingin Johan terus menyentuh, mengelus dan memberinya kenikmatan.


Jika saja otaknya masih bisa berfikir, dia pasti akan meminta Johan untuk segera melakukan penyatuan. Tapi kini nafsu*nya mengambil alih kontrol pada tubuh dan otaknya, membuatnya hanya bisa pasrah dan menikmati setiap perlakuan Johan padanya.


Johan menurunkan ciumannya, memberikan tanda kepemilikan di setiap tempat yang dia lewati. Membuat tubuh putih itu berubah menjadi tubuh dengan pola polkadot. Hingga akhirnya ciuman Johan sampai di antara kedua pangkal paha Maria.


Johan membuka kaki Maria, lalu membenamkan wajahnya di sana. Menghirup dalam-dalam aroma wangi yang semerbak dari hutan gundul itu. Benar, gundul. Maria memang tipe wanita yang menyukai kebersihan, sehingga dia akan merasa sangat risih jika melihat sesuatu yang menurutnya kotor, termasuk rambut spsial itu.


Johan mulai menjilati lembah itu dengan lidah tak bertulang miliknya, mengoyak dan menyeruak masuk ke dalamnya. Maria mengangkat pinggulnya, saat lidah piawai Johan mengobrak-abrik intinya. Desa*han yang terus lolos dari mulut Maria, membuat Johan semakin bersemangat. Hingga akhirnya, Maria menge*rang panjang saat dia mencapai pelepasan pertamanya.

__ADS_1


"Apa kau sudah siap, sayang?" tanya Johan setelah dia membuka semua penutup tubuhnya, hingga membuat dirinya sama seperti Maria, polos bagai bayi baru lahir.


Maria membuka matanya, dan melihat ke arah Johan dengan senyum manis di bibirnya. Kini dia melihat lagi benda kekar yang sudah pernah memberinya kenikmatan tiada tara, dan itu membuat gai*rahnya kembali naik dan terus naik.


Maria mengangguk pelan sebagai jawaban. Johan memposisikan senjatanya di depan sarang, yang kini sudah basah karena ulahnya.


Johan mendorong perlahan pusakanya. Rasanya masih sedikit sulit, entah karena milik Maria yang terlalu sempit atau miliknya yang terlalu besar. Dengan perlahan tapi pasti, Johan terus menuntun adik kecilnya untuk memasuki gua kenikmatan itu. Hingga akhirnya, seluruh batang rudal miliknya pun amblas.


"Aaaah..." lengu*han keduanya terdengar, saat mereka kembali menyatu untuk kedua kalinya.


Johan mulai menggoyangkan pinggulnya dengan irama yang begitu membuai Maria. Dengan lihai Johan mengatur ritme permainannya, membuat nafas Maria semakin naik turun. Peluh juga sudah mulai bercucuran di tubuh keduanya, suara kenikmatan juga memenuhi seisi ruangan itu.


Ukuran junior Johan benar-benar membuat inti Maria terasa penuh sesak, namun itu juga menjadi nilai plus tersendiri. Johan semakin mempercepat ritme permainannya, namun dia tetap mengontrol nafsunya agar tak menyakini calon anaknya yang berada di perut Maria.


Johan sudah konsultasi tentang hal itu dengan dokter kenalannya, tentang bagaimana cara berhubungan yang aman saat masih mengandung. Dan apa saja yang boleh dan tidak boleh di lakukan selama masa itu.


"Jo... Aku hampir... sampai..." ucap Maria dengan suara terbata dan nafas yang tersengal-sengal.


"Sebentar lagi, sayang."


Johan juga merasakan bahwa dirinya juga sudah hampir mencapai puncaknya, hingga akhirnya suara desa*han panjang mengakhiri permainan panas mereka hari ini.


Jika di tanya apa Johan masih ingin melakukannya lagi? Jawabnya tentu saja iya. Tapi selama Maria hamil, dia hanya bisa melakukannya maksimal satu kali sehari. Dan jika bisa, juga tidak boleh terlalu sering. Itulah kenapa dia menekan hasrat dan keinginannya, karena istri dan anaknya lebih penting dari semua itu.


Johan menggendong Maria yang sudah lemas tak berdaya, ke kamar mereka. Dia merebahkan tubuh Maria, menyelimutinya, kemudian ikut membaringkan diri di samping sang istri sambil memluknya.

__ADS_1


__ADS_2