My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 94


__ADS_3

"Seperti yang aku inginkan ya? Sejak tadi kau selalu menolak panggilan yang kubuat! Dan sekarang kau bilang, terserah padaku?!" batin Marisa yang seolah ingin menelan Kenzo hidup-hidup sekarang, "Ehm... baiklah aku akan memanggilmu, Shujin."


"Tidak ma—".


"Sekali lagi kau menolak, aku tidak akan pernah memanggilmu! Itu sudah yang paling bagus untukmu. Orang jepang memanggil suami mereka dengan panggilan itu, dan itu adalah panggilan yang paling sopan."


"Terserah kau saja," Akhirnya Kenzo memilih untuk mengalah.


Marisa pun mengeluarkan ponselnya. Doa mengambil gambar buku nikahnya dsn mengirimkannya pada Maria.


Maria sedang beristirahat, setelah pemotretan yang melelahkan. Kini dia tengah meminum jus dan menikmati buaya, alias buah anggur dan pepaya.


Namun tepar saat Dimas datang menghampirinya, Maria juga tengah membaca pesan yang twin durjananya kirim.


"Hai nona, Mar—"


Byur!!


Belum sempat Dimas menyelesaikan Sapaannya, dia justru mendapatkan hadiah dadakan dari Maria. Yaitu sebuah semburan ala mbah dukun.


"Astaga... pak Dimas? M-maaf saya tidak sengaja. Saya tadi sedang membaca pesan dan kaget karenanya, makanya jusnya jadi kesembur ke wajah pak Dimas. Mohon maaf sekali lagi pak," ucap Maria dengan panik, sambil mengucapkan kata maaf berkali-kali pada Dimas.


"Sial! Baru mau menyapa saja sudah kena sembur?!" batinnya kesal, "Ehm... tidak apa-apa, nona Maria. Aku punya baju ganti di mobilku, aku akan mengganti bajuku sekarang," ucapnya pads Maria.


"Sekali lagi maafkan saya pak, saya benar-benar tidak bermaksud membuat jas anda kotor,"


"Tidak apa-apa, nona Maria. Hanya insiden kecil saja," Dimas pun akhirnya memilih kembali ke mobilnya dan mengganti bajunya yang sudah basah.


Sedangkan di sisi lain, Johan tengah tertawa terbahak-bahak.


"Bwahahaha... rasain lo! Siapa suruh sok akrab, kena sembur kan lo!" gumamya sambil bersembunyi di balik pohon.

__ADS_1


Namun tiba-tiba saja...


"Apakah sangat menyenangkan?"


Deg!


Johan pun menoleh kesamping, dan mendapati Maria yang sudah melipat tangannya di depan dada.


"Eh, kok lo di sini Mar? Bukannya lo tadi ada di sana ya?" tanya Johan canggung.


"Bukankah seharusnya aki yang bertanya padamu, bapak Johan yang terhormat?" tanya Maria dengan nada bicara yan sudah Johan tau apa artinya.


Johan pun langsung menutupi kedua telinganya. Dan benar saja, beberapa sat kemudian...


"Johan...!" seru Maria dengan suara sekeras toa masjidnya, sambil menjewer telinga Johan, "Bukannya tadi ku sudah pergi bekerja? Kenapa ku masih di sini?" tanya Maria dengan marah.


"Aku hanya mengkhawatirkanmu, apa itu salah? Jika iya, maka maafkan aku."


Kata-kata yang seolah mengandung kesedihan di dalamnya, yang entah kenapa bisa membuat Maria merasa bersalah.


"Johan tung—"


"Maria? Ayo lanjut!" seru sang asisten fotografer padanya, sambil melambai dari kejauhan.


"Aduh...! Ya udah deh, nanti gue samperin dia aja ke rumahnya," gumam Maria sambil berjalan kembali ke lokasi pemotretan.


Sedangkan Johan sedang berjalan ke arah mobilnya dengan perasaan lega, "Untung aja gue jago akting, jadi gagal kena omel sama Maria," gumamnya sambil mengutak-atik ponsel di tangannya.


Dan karena Johan terlalu fokus pada ponselnya dan berjalan dengan kepala menunduk, dia pun menabrak seseorang.


Bruk!

__ADS_1


"Siapa yang tidak punya mata!?" seru Dimas dengan murka, karena Johan menabraknya.


Deg!


"Suara Dimas?" batin Johan.


"Apa kau buta, hah!? Apa kau tidak tau siapa aku!? Berani-beraninya kau menabrakku!?"


"Maaf tuan, saya tidak sengaja," ucap Johan dengan kepala menunduk.


"Maaf kau bilang!? Cih! Kata maaf itu tidak berarti!" serunya. Namun sedetik kemudian dia nampak berpikir, "Tunggu! Suara orang ini kenapa terdengar tidak asing?" batinnya.


"Saya sungguh minta maf tuan, saya permisi," dengan langkah cepat dan kepala yang masih terus tertunduk, Johan pun menuju mobilnya.


Dan saat Dimas tersadar dari pikirannya, dia pun mendapati orang yang menabraknya tadi sudah tak ada di hadapannya.


"Keman orang itu?!" tanyanya pada sang asisten.


"Dia ke arah sana, tuan."


"Dimas pun menolehkan kepalanya dan mendapati pria itu sudah masuk ke dalam mobilnya.


Dengan cepat, Dimas berusaha menghampiri pria itu. Dia berteriak meminta pria itu untuk tidak pergi, "Tunggu! Jangan pergi!"


Namun tentu saja, John tak akan mendengarkan perintah Dimas. Dia justru melajukan mobilnya secepat yang dia bisa.


"Sial!" seru Dimas.


"Ada apa tuan?" tanya asistennya dengan bingung, "Masa iya, hanya karena tidak sengaja menabrak sja jadi masalah?" batinnya.


"Siapa orang itu? Suaranya benar-benar mengingatkanku padanya!" batin Dimas dengan tangan terkepal erat, sambil memandangi ke arah perginya mobil Johan.

__ADS_1


__ADS_2