
"Kenzo, awas!" seru Maria yang dengan sigap langsung mendorong Kenzo menjauh, namun naasnya justru Maria yang terserempet sepeda motor itu.
"Maria!" seru Kenzo dan Marisa bersamaan.
Tubuh Maria terpelanting cukup keras, Marisa dan Kenzo segera menghampiri tubuh Maria yang sudah terkapar tak berdaya. Darah segar sudah tampak mengalir dan menggenangi tempat Maria terbaring.
"Cepat kita bawa ke rumah sakit!" tanpa berpikir lama, Kenzo segera menggendong tubuh Maria dan membawanya masuk ke dalam mobil, "Biar aku saja yang bawa mobilnya!" Kenzo pun mengiyakan, dan duduk di jok belakang dengan kepala Maria yang berada di atas pahanya.
"Ini semua salahku!" gumam Kenzo.
"Ini bukan saatnya untuk menyalahkan dirimu sendiri! Tekan luka di kepalanya, jangan biarkan darahnya terus mengalir!" seru Marisa yang sudah mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Ya." Kenzo segera melakukan apa yang Marisa minta untuk dirihya lakukan, dia melepas jas mahalnya dan menggunakannya untuk menekan luka di dahi Maria.
Kenzo juga mengetikkan pesan di ponselnya dengan tangan yang gemetar.
Marisa menyetir seperti seorang pembalap. Bahkan sampai ada beberapa mobil polisi yang mengejar mobilnya, karena melanggar batas kecepatan.
"Sial! Apasih maunya tuh pakpol! Nggak tau apa gue lagi kejar waktu!" umpat Marisa yang semakin mempercepat laju mobilnya. Bukan karena para polisi yang mengejarnya, namun karena dia sangat mengkhawatirkan kondisi Maria.
Suasana tegang tercipta di dalam mobil itu. Dengan Maria yang sudah tak sadarkan diri dan bersimbah darah, juga dengan beberapa mobil polisi yang masih terus mengikuti mereka. Meskipun mobil para polisi itu masih kalah cepat dari Marisa, dan tertinggal cukup jauh.
Hingga akhirnya mobil yang Marisa kemudikan pun, sampai di depan rumah sakit terdekat. Para petugas medis langsung menghampiri mobil Marisa dan membawa Maria dengan brankar, untuk segera mendapatkan penanganan.
"Ken?" panggilnya pada sang suami.
Tapi ternyata saat dia menengok ke jok belakang, dia mendapati Kenzo yang juga pingsan di sana.
"Astaga...! Kenapa kau dan Arka itu sama saja?! Suka sekali menambah kepanikan di keadaan yang sudah panik!" Marisa pun membawa tubuh kenzo masuk ke dalam rumah sakit, hingga dia menjadi pusat perhatian.
Pasalnya hal itu mungkin tampak aneh bagi orang lain, karena biasanya si pria lah yang menggendong wanitanya. Tapi kini mata mereka terbuka lebar, saat melihat Marisa yang tengah menggendong prianya.
"Sus, tolong bantu saya," serunya pada seorang suster yang di lihatnya.
__ADS_1
Suster itu segera mengambil brankar dan membantu Marisa membaringkan tubuh Kenzo, di atas brankar itu. Marisa pun segera menyusul Maria ke ruang IGD.
Beberapa puluh menit sudah, dia menunggu dokter yang menangani Maria keluar, tapi sepertinya belum juga ada tanda-tanda penanganan sudah selesai.
"God! Please... jangan biarkan hal buruk terjadi pada Maria..." batin Marisa dengan tangan yang dia tangkupkan.
Tiba-tiba saja, terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang tampaknya sedang menuju ke arahnya. Dan hal itu pun membuat Marisa mengalihkan pandangannya, ke arah orang-orang itu.
"Papa... Mama..." sapa Marisa pada ayah dan mertuanya.
Tapi ternyata bukan hanya mereka berdua yang datang, ada juga Kevin, Riana dan Mentari, yang juga mendapatkan kabar dari Kenzo tentang kecelakaan yang menimpa Maria.
"Di mana Ken, kenapa dia tidak menemanimu di sini?" tanya Stella sambil celingukan mencari keberadaan putranya itu.
"Kenzo pingsan, ma. Sepertinya dia terkejut dengan caraku menyetir," jawab Marisa dengan canggung.
"Pantas saja, tadi di depan ada beberapa mobil polisi yang mengecek mobil Kenzo." Gumam Gio.
Dialah yang sudah mengurus para polisi itu, dan memberitahukan alasan kenapa anaknya sampai mengebut dan melewati batas max kecepatan berkendara. Hingga mereka pun memahami situasinya.
Marisa memandangi Mentari dengan bingung, karena dia belum pernah bertemu dengan Mentari sebelumnya. Tapi entah kenapa, dia memiliki perasaan yang akrab saat bertemu dengan wanita itu.
"Aku ibunya Arka," ujar Mentari, yang sepertinya mengerti kenapa Marisa menatapnya dengan aneh, "Kau benar-benar mirip dengannya," gumam Mentari.
"Apa?" beo Marisa, yang tak mendengar jelas gumaman Mentari, "Tadi tante bilang apa? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas."
"Tidak ada."
Pintu ruang penanganan pun terbuka, dan keluarlah seorang dokter.
"Bagaimana keadaan Maria, dok?" tanyanya.
"Pasien membutuhkan donor darah. Tapi stok darah yang sama dengan pasien, kebetulan sedang kosong. Apa di antara anggota keluarga ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?" tanya sang dokter.
__ADS_1
"Saya dok!" sahut Marisa cepat, "Kami kembar, jadi golongan darah kami sama."
"Baiklah, tapi pasien membutuhkan banyak darah. Apa ada anggota keluarga lainnya, yang golongan darahnya sama?" tanya sang dokter lagi.
"Golongan darah pasien apa dok?"
"Ab positif." Tanya Mentari.
"Saya Ab positif, dok. Gunakan darah saya," Mentari mengajukan dirinya, yang membuat Marisa terkejut.
"Baiklah, silahkan ikut untuk pemeriksaan.
Marisa dan Mentari pun melakukan pemeriksaan dan pengambilan darah. Setelah pengambilan darah di lakukan, Mentari pun membuka percakapan dengan Marisa.
"Namamu Marisa, benar?" tanyanya.
"Iya, tante. Nama saya, Marisa."
"Siapa nama ayah dan ibumu?" tanya Mentari.
"Kenapa tante ingin tau nama ayah dan ibuku? Apa tante mengenal mereka?" Bukan menjawab pertanyaan Mentari dengan jawaban yang dia inginkan, Marisa justru menjawabnya dengan pertanyaan lainnya.
"Mungkin saja, jika mereka memang orang yang sama."
Meskipun bingung, Marisa akhirnya menjawab pertanyaan Mentari, "Ayahku bernama Kenan, Kenan William."
Deg!
Tubuh Mentari bergetar hebat saat mendengar nama itu di sebutkan. Benar, itu adalah nama kakak yang sangat dia sayangi. Kakak yang dulu selalu menjaga dan menyayanginya sepenuh hati, meskipun sudah sangat lama dia tak lagi bertemu dengan kakaknya itu.
"Tante? Tante?" panggil Marisa, "Tante kenapa?" tanya Marisa yang melihat tubuh gemetaran Mentari, dan lelehan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Mentari pun tersadar dari lamunannya dan dengan segera, dia merengkuh tubuh Marisa, membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Dia menangis di pundak Marisa, dan membuat Marisa kebingungan.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa wanita yang dia tau adalah ibunya Arka ini, menangis sambil memeluknya seperti ini?
Pikiran Marisa kini penuh dengan pertanyaan yang sangat ingin dia tau jawabannya. Tapi wanita yang tengah memeluknya ini, hanya menangis tanpa mengucapkan sepatah kata pun sejak tadi. Dan Marisa yang tidak tega, hanya bisa membalas pelukan Mentari sambil mengusap punggung wanita itu untung menenangkannya. Marisa akan bertanya apa alasan dia menangis, jika Mentari sudah lebih tenang.