
...Ikuti saja alurnya, ikuti kemana arah kehidupan berjalan...
...Karena pada dasarnya kita ini hanyalah wayang dan sudah ada Dalang yang mengatur jalannya kehidupan....
...By : Rosemarry...
...*****...
Prank!!
Brugh!!
Suara gaduh pun terdengar dari luar apartemen Kenzo dan membuat Marisa tersentak kaget.
"Apa itu?!" gumam Marisa sambil berjalan keluar dari apartemen Kenzo.
Tadi Arka memang tidak menutup kembali pintu apartemennya setelah mempersilahkan Marisa masuk, jadi suara dari luar tadi pun terdengar oleh Marisa.
"Gea!?" seru Marisa kala melihat bestienya itu sudah tersungkur di lantai dengan darah yang mengucur di dahinya.
Marisa pun berlari menghampiri Gea dengan tergopoh-gopoh, dan Arka yang juga mendengar suara gaduh tadi pun ikut menyusul Marisa.
"Ada apa ini, nona Marisa? Siapa wanita ini, kenapa dia bisa terluka?" tanya Arka tanpa henti.
"Bisakah kau membantuku lebih dulu sebelum kai mewawancaraiku, tuan Arka?" Marisa pun dengan sigap bersiap menggendong Gea yang sudah pingsan, namun Arka segera menghentikannya.
"Nona Marisa, biar aku saja. Lebih kau minta satu kunci mobil pada Kenzo, kota harus segera membawanya ke rumah sakit." Sahut Arka yang kemudian berjongkok dan menggendong tubuh Gea, lalu berjalan secepat mungkin menuju lift.
__ADS_1
Sedangkan Marisa pun kembali ke dalam apartemen Kenzo.
Tak...
Tak...
Tak...
Marisa berlari manaiki tangga menuju kamar Kenzo yang berada di lantai atas.
Brak!!
Marisa menerobos masuk begitu saja ke kamar Kenzo tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Keduanya pun mematung seketika saat pintu kamar itu terbuka, dan menampilkan pemandangan yang begitu...Hm... menyegarkan mata.
Namun karena keadaan yang sedang genting, Marisa pun segera mengembalikan otak dan ruhnya yang seakan sudah traveling sampai ke ujung pelangi untuk mengintip para bidadari sedang mandi. "Ekhem! Maaf atas kelancanganku, bos. Tapi ingin meminjam salah satu mobilmu, aku harus membawa temanku ke rumah sakit sekarang juga." Ujarnya dengan wajah memerah dan masih berusaha untuk tetap terlihat netral.
Kenzo pun mengambil kunci mobil dan memberikannya pada Marisa, "Ini."
"Terimakasih, bos." Marisa pun segera kembali berlari untuk segera sampai di lantai bawah, dia benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Gea saat ini.
Kenzo pun segera lanjut memakai pakaiannya kala Marisa sudah keluar dari kamarnya.
Bip!
Bip!
__ADS_1
Marisa pun menghampiri mobil Kenzo dan segera masuk ke belakang kursi kemudi, sedangkan Arka yang tadi sudah menunggunya di parkiran juga langsung naik ke jok belakang setelah memasukkan tubuh Gea.
Dengan kecepatan tinggi, Marisa melajukan mobil itu karena saking khawatirnya.
Arka yang menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Gea pun sampai merasa mual dan pusing, akibat ulah Marisa yang kebut-kebutan itu.
"Nona Marisa, tidak bisakah kau mengemudi dengan normal?" tanya Arka sambil menahan rasa mualnya.
"Aku ingin tuan Arka, tapi sayangnya keadaan urgent ini tidak mengizinkanku melakukannya." Jawab Marisa sambil tetap fokus menyetir.
"Oh tuhan... apa sebenarnya Marisa ini kerabatnya Dominic Toretto? Kenapa cara mengemudinya semainstream ini?!" batin Arka yang jujur saja takut dengan cara Marisa mengemudi, dia mengemudi bak para pemain di film Fast&Furious.
"Tenang saja, tuan Arka. Aku juga masih sayang nyawa karena aku juga belum menikah, jadi aku akan membawa kita selamat sampai di rumah sakit bukan sampai ke liang lahat." Sahut Marisa yang masih sempat-sempatnya bercanda di saat tengah mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Selera humormu benar-benar tinggi, nona Marisa. Bahkan kau masih bisa tertawa di saat mengemudi seperti seorang buronan yang sedang kabur dari kejaran polisi begini? Aku salut padamu." Celetuk Arka yang di jawab Marisa dengan sebuah senyuman.
"Bisakah kau membantuku, tuan Arka? Tolong tekan lukanya dengan kain, agar daranya tidak terus keluar."
Arka pun segera mengambil sapu tangan miliknya yang belum dia pakai untuk menutupi luka di dahi Gea, dan dia sedikit menekannya sambil menahan rasa mual dan pusing yang menggila.
Hingga akhirnya mobil yang Marisa kemudikan pun berhenti di sebuah rumah sakit, dan Marisa pun segera turun untuk menghampiri para suster yang sudah bersiap dengan brankar karena Arka memang sudah menelepon mereka sebelumnya.
Pintu mobilpun di buka oleh salah seorang suster dan segera membawa tubuh Gea dan meletakkannya di atas brankar dan membawanya masuk ke dalam untuk segera mendapatkan penanganan.
"Pasiennya 2 orang, nona?" tanya seorang perawat kala membuka pintu belakang mobil itu.
"Hah? Tidak sus, hanya satu. Bagaimana bisa temanku menjadi 2, dia kan bukan amoeba yang bisa membelah diri sus." Ujar Marisa yang kemudian menengok ke dalam mobil.
__ADS_1
Marisa membulatkan matanya seketika. "Oh my God!"