
...Jangan ambil pilihan yang akan membuatmu menyesal di kemudian hari...
...Karena penyesalan memang selalu datang kala kita tidak akan bisa lagi memperbaiki kesalahannya...
...Dan juga penyesalan tau kalau kita tak bisa memutar balik waktu untuk mengubah pilihan yang pernah kita ambil...
...Jadi tentukan pilihanmu dengan bijak, karena pilihanmu mungkin akan menentukan masa depanmu....
...By : Rosemarry...
...*****...
"Dor!"
"Astaga Maria...! Kayaknya lo hobi banget ya ngagetin gue, bisa jantungan gue Mar kalo lo kagetin tiap hari." Johan yang tadi sedang bersandar di pada mobilnya sambil melamun pun berjingkat kaget.
"Siapa suruh lo ngelamun, ntar Kesambet jin botol baru tau rasa lo." Ejeknya sambil terkekeh.
"Kenapa nggak sekalian aja kesambet jin tomang gitu?!" cibir Johan dengan bibir monyongnya.
"Udah yuk cabut, geli gue lama-lama di sini."
"Geli? Kenapa? Apa si Dimas itu macem-macem sama lo?" tanya Johan dengan wajah marah.
"Nggak macem-macem sih, cuma satu macem." Jawab Maria dengan candaannya.
Pletak!
"Aww! Sakit Jojo...!"
"Lagian di tanyain serius malah ngelawak."
"Emang bener dia nggak macem-macem, cuma satu macem doang. Dia liatin gue pakai ekspresi si kakek legend yang lagi syuting film esek-esek."
__ADS_1
"Sialan!" gumam Johan pelan dengan tangan terkepal erat.
"Nggak usah sok keras ege! Nggak cocok sama muka lo haha..." Ejek Maria sambil masuk ke dalam mobil Johan.
"Dasar Markonah! Lo kalo ngejek kenapa suka bener sih?"
"Haha..."
Sedangkan di tempat lain...
"Ken, kita harus merubah jadwal perjalanan bisnis kita ke Hawaii." Ujar Arka yang baru saja masuk ke ruangan Kenzo setelah tadi dia kabur dari sana setelah mengejek Kenzo.
"Kenapa?"
"Baru saja mitra kerja kita di sana memberi kabar kalau mereka ada urusan mendadak yang sangat mendesak, dan merubah jadwalnya menjadi bulan depan."
"Oh."
"Hanya oh?" tanya Arka dengan wajah innocentnya.
"Urusan? Urusan apa? Seingatku tidak ada bisnis yang lebih besar untuk saat ini, dari pada kerjasama bisnis kita dengan perusahaan di Hawaii itu."
"Bukan masalah pekerjaan. Tapi ini masalah pribadi, masalah pribadi yang sangat genting!"
"Pribadi?! Memangnya seorang Kenzo Alexander yang bisa mendapatkan segalanya dengan mudah ini, masih bisa punya masalah seperti apa?" ejek Arka sambil meminum air putih yang ada di atas meja itu.
"Pak tua itu menyuruhku segera menikah."
"Oh."
"Hanya oh? Apa kau sedang membalasku, Arka?" Kenzo menatap tajam pada Arka.
"Aku tidak sedang membalas dendam padamu, tapi kita juga tau kalau papamu itu sudah sering bahkan sangat sering menyuruhmu untuk segera menikah bukan? Lalu apa yang kau maksud genting itu? Bukankah kau bahkan sudah terbiasa?" jelas Arka dengan santai sembari menenggak air di dalam gelas itu.
__ADS_1
"Jika saja memang hanya itu, itu memang tidak mengejutkan lagi. Tapi yang mengejutkan adalah, dia menyuruhku untuk menikahi Marisa!"
Byurr!!!
Arka menyemburkan sisa air yang masih berada dalam mulutnya, dan memandang Kenzo dengan lekat.
"Are you serious?"
"Sangat! Aku sangat serius, Arka. Apa kau ada melihat ekspresi bercanda di wajahku?"
"Cih! Bagaimana aku bisa melihatnya, jika kau saja memang hanya punya dua ekspresi yaitu wajah datar dan senyum palsu yang mengerikan."
"Aku sedang mood untuk berdebat denganmu, bantu aku pikirkan cara untuk membatalkan keputusan pak tua itu."
"Haish... kenapa kau bertanya padaku, jika kai saja sudah tau jawabannya. Bahkan kau yang lebih pintar dariku tidak bisa menemukan solusi untuk titah baginda raja itu, lalu apa lagi yang bisa kau harapkan dariku?"
"Benar saja, tidak ada gunanya menceritakan ini padamu." Kenzo memutar-mutar kursi kerjanya itu dengan tangan yang memegangi pelipisnya, tampaknya dia tengah berpikir keras.
"Tapi Ken, bukannya lebih baik menikah dengan Marisa daripada menikah dengan Raisa bukan? Setidaknya Marisa itu tidak manja dan suka menempel padamu, dan dia cantik juga sedikit lucu sekali waktu."
"Memang benar itu masih lebih baik daripada menikah dengan Raisa, tapi aku tidak mau menikah tanpa ada perasaan."
"Wow! Seorang Kenzo Alexander rupanya juga memiliki hati? Wah... wah... sungguh—"
Pletak!
"Sshhh..." Desis Arka kala pulpen terbang kembali mengarah padanya, dan kini tepat menyapa keningnya.
"Apa kau pikir aku ini pohon pisang yang hanya punya jantung?!"
"Bahkan pohon pisang saja lebih baik darimu meskipun dia hanya punya jantung! Setidaknya dia tidak suka melemparku dengan benda-benda semacam ini." Cibir Arka dengan suara lirih.
Kenzo pun tidak lagi menanggapi omelan Arka, dia tengah berpikir keras untuk saat ini.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba...
"Kevin!"