My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 125


__ADS_3

Keesokan harinya, Marisa pun berencana menjemput Maria ke rumah mereka. Sedangkan Kenzo akan pergi ke perusahaan lebih dulu, untuk melakukan meeting pagi bersama klien dari luar negeri.


Mereka baru akan berangkat ke rumah Riana, setelahnya.


"Hati-hati di jalan, sayang," ucap Marisa setelah mencium bibir Kenzo dengan mesra.


"Iya," Kenzo membungkuk dan mencium perut Marisa, "Bagaimana kabar kalian anak-anak? Apa sudah ada yang berhasil?" candanya.


"Astaga...! Dasar kau ini, sudah sana berangkat..." Marisa mendorong-dorong Kenzo untuk segera berangkat bekerja.


"Hati-hati saat menyetir nanti, Kenzo dan Marisa junior sudah menyelesaikan kompetisi mereka, " ucap Kenzo yang masih sempat-sempatnya bercanda.


Marisa pun hanya bisa memanyunkan bibirnya, namun tetap saja merasa lucu dengan tingkah Kenzo.


Kenzo benar-benar sudah berubah, tak ada lagi Kenzo yang dingin jika sedang bersamanya. Yang ada hanyalah sosok perhatian dan penuh kasih sayang, yang selalu memanjakannya.


Marisa pun segera kembali ke kamarnya untuk melakukan ritual mandi pagi, seperti biasa.


Marisa masih was-was memikirkan apa yang ingin neneknya Kenzo bicarakan. Apakah nenek Riana masih bersikeras untuk memintanya meninggalkan Kenzo.


Tapi yang membuat Marisa bingung adalah, kenapa Riana juga memintanya untuk mengajak serta Maria. Memangnya apa hubungan Maria dengan semua ini? Jika pun Marisa bersikeras tak ingin meninggalkan Kenzo, itu juga tak ada hubungannya dengan Maria sama sekali.


Karena dia mandi sambil melamun kesana kemari, waktu yang dia butuhkan pun lebih lama di bandingkan waktu yang biasanya.


Setelah selesai mandi, Marisa pun mengenakan pakaian santai seperti yang biasa ia kenakan. Dia hanya mengenakan celana jeans dan hoodie berwarna dongker miliknya.


Marisa pun keluar dari rumah setelah menyambar kunci motor kesayangannya, Tama.


Hingga akhirnya motor sport itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Marisa menelepon Marisa menggunakan hf, sambil mengemudikan motornya.

__ADS_1


"Halo," sapanya.


"Iya, kenapa?" tanya Marisa yang masih terdengar tak bersemangat sama sekali, masih terus seperti ini selama beberapa hari setelah kejadian itu.


"Lo di rumah kan?"


"Iya, gue di rumah. Hari ini nggak ada jadwal pemotretan, jadi gue di rumah aja. Kenapa emang? Tumben inget sama gue, kirain lo udah lupain gue karena udah punya laki," ucap Maria.


"Enak aja mulut lo! Gue kan saban hari juga telepon elo, Markonah... mana ada gue cuekin kembaran gue yang cantik ini, sih...?"


"iyain aja deh, biar kelar”


"Ya udah lo buruan mandi, dandan yang cantik."?


"Lo mau ajak gue kemana? Kalo cuma makan kan gue males baut dandan..."


"Adalah pokoknya, nggak usah banyak nanya yang penting lo siap-siap aja. Lima belas menit lagi gue sampe."


Tapi dia mengurungkan niatnya, saat mendengar sesuatu yang mengejutkan.


"Aaarrrghh!"


Maria membelalakkan matanya. Tiba-tiba saja, dia merasakan firasat buruk, apalagi setelah mendengar teriakan Marisa.


"Mar?" panggil Maria dengan bibir gemetar, "Mar! Mar, lo kenapa? Jawab gue Mar! Mar!" seru Maria dengan panik.


Dengan cepat, Maria pun menelepon Kenzo untuk memberitahu situasi yang baru saja terjadi.


"Halo kakak ipar, ada apa?" tanya Kenzo.

__ADS_1


"Marisa!"


Kenzo pun bingung, kenapa Maria malah meneriakkan nama istrinya. Firasat buruk pun langsung Kenzo rasakan.


"Ada apa dengan Marisa?" tanyanya.


"Barusan dia nelepon gue, tapi tiba-tiba aja dia teriak terus teleponnya mati. Tadi sih kayaknya dia masih bawa motor, dia bilang 15 menit sampe rumah. Berarti dia ada di sekitaran jalan XX. Cepet lo periksa kesana!" serunya.


Tanpa menjawab apapun, Kenzo langsung berlari turun ke lantai bawah dengan tergesa-gesa.


Kenzo bahkan tak memperdulikan karyawan yang menggunjingnya, karena lari seperti orang kesetanan.


Untungnya Kenzo meminta pak Tejo untuk stay di parkiran, karena memang rencananya dia akan segera pergi ke rumah neneknya setelah melakukan meeting paginya.


"Ke jalan Xx pak Tejo, cepat!" ucap Kenzo dengan panik.


Pak Tejo yang mengetahui kepanikan Kenzo, hanya bisa rasa keingintahuannya dalam hati. Dia tak ingin menambahkan bensin ke dalam api yang sudah membara.


"Paman Cleric, tolong cari keberadaan Marisa sekarang." Tanpa mengatakan hal lainnya, Kenzo langsung mematikan sambungan telepon itu.


"Sam, cari keberadaan Marisa. Kau punya titik Gpsnya bukan?" tanya Cleric.


"Ada ayah, kenapa?" tanya Sam, yang kini sudah resmi menjadi anak angkat Cleric.


"Cari saja dulu, ini penting, cepatlah."


Tak butuh waktu lama, Sam sudah menemukan lokasi Marisa.


"Bagaimana?"

__ADS_1


"Ando." Satu kata yang bisa menjelaskan segalanya. Cleric pun mengepalkan erat tangannya.


"Beraninya kau, bocah sialan! Kau cari mati!"


__ADS_2