My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 124


__ADS_3

"Nenek, jangan menganggap semua orang sama, hanya karena satu orang. Aku tidak mau nenek menyesal, seperti mendiang ayah yang menyesali keputusannya saat mengusir kak Kenan," ujar Mentari sambil mengelus pundak Riana.


"Mungkin apa yang kau katakan memang benar, Mentari. Tapi aku masih akan menyelidiki dulu, siapa gadis itu. Aku bahkan belum tahu dari keluarga mana dia berasal," ujarnya.


"Lalu darimana nenek tau kalau dia dari kalangan bawah?" tanya Mentari bingung.


"Aku meminta bawahanku menyelidiki gadis itu, dan dia tinggal di sebuah rumah kecil bersama saudari kembarnya."


"Jadi istri Kenzo itu, kembar?" tanya Mentari dengan tidak sedikit terkejut.


"Benar, dia kembar. Tapi penyelidikan tentang kedua gadis itu, seperti terhalang tembok besar. Sangat sulit untuk di gali, bahkan untuk mengetahui siapa orang tua mereka. Bahkan aku sempat berpikir, orang tua mereka adalah orang dari dunia bawah."


"Tunggu, Nek. Apa nenek punya foto dari gadis itu?" tanya Mentari.


"Ada." Riana mengambil ponselnya dan memperlihatkan Ponsel itu pada Mentari.


"I-ini!?" Mentari nampak terkejut kala melihat foto Marisa dan Maria, bahkan kedua bola matanya sampai membuat sempurna.


"Iya, ini istrinya Kenzo dan yang ini kembarannya. Nama mereka Marisa dan Maria.


"Siapa nama lengkap mereka, nek?" tanya Mentari dengan gugup.


"Kenapa? Kau sepertinya begitu terkejut melihat kedua gadis ini, apa ada yang salah? Apa kau mengenal mereka?" selidik Riana.


"Tolong beritahu aku, siapa nama lengkap mereka, nek." Pintanya.


"Marisa Agatha William dan juga Maria Agatha William," ucap Riana yang belum menyadari adanya hal janggal dalam nama itu.


"Nek, me-mereka sepertinya anak kak Kenan."


Deg!


Riana membelalakkan matanya, dan menoleh ke arah Mentari yang kini masih fokus memandangi foto di tangannya.


"A-apa maksudmu, Mentari? Jangan bercanda!" seru Riana.

__ADS_1


"Mungkin nenek sudah lupa, bagaimana wajah kak Yurika. Karena nenek hanya bertemu dengannya beberapa kali, tapi tidak denganku, nek. Aku sangat mengenal kak Yurika, dan wajahnya aku sangat mengingatnya. Wajah kedua gadis ini, benar-benar mirip dengan kak Yurika dan nenek lihat ini," Mentari menunjuk ke arah mata Marisa dan Maria.


Seketika Riana pun terkejut bukan main, dia benar-benar merasa Dejavu saat menatap mata kedua gadis itu dengan seksama.


"K-kenan?" tanpa terasa, air mata jatuh dan membasahi pipinya, "A-apa mereka benar-benar anaknya Kenan?"


"Kemungkinan besar iya, nek. Dan jika hal itu benar, maka alasan kenapa data kedua gadis ini sulit di akses juga menjadi jelas. Kak Kenan mampu melakukannya, nek," ucap Mentari, "Nek, bisakah kita bertemu dengannya? Aku sangat ingin memastikan kebenarannya. Dan cara satu-satunya hanya dengan bertanya langsung pada mereka."


"Riana pun langsung menelepon Kenzo, setelah Mentari mengatakan hal itu, karena dia juga sangat ingin tau kebenaran dari semua ini.


Drtt...


Drtt...


Drtt...


Kenzo yang masih mengantuk, dengan malas mengambil ponselnya dari atas nakas.


"Nenek?!" seru Kenzo saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya.


Marisa yang mendengarnya pun, langsung terbangun dari tidurnya dan iku memasang wajah panik.


"Ada apa?"


"Angkat saja, mungkin penting," ujar Marisa yang akhirnya di balas anggukan oleh Kenzo, "Apakah firasat burukku benar? Apa kedamaian beberapa hari ini, benar-benar hanya sekelebat harum mawar sebelum bau bangkai?" batin Marisa sambil menatap ke arah Kenzo, yang sedang menarik nafas sebelum memulai pembicaraan.


"Halo nek? Ada apa nenek menelepon Kenzo malam-malam?" tanyanya.


"Nenek ingin bertemu dengan kalian," ucapnya.


"Kalian?" beo Kenzo lirih.


"Ya, kau dan istrimu," jawab Riana.


"Nenek sudah tau, kalau kami sudah menikah?"

__ADS_1


"Ayahmu sudah mengatakan semuanya, jadi bisakah kalian datang ke rumah nenek?" tanya Riana penuh harap.


Kenzo menatap Marisa dan mengatakan keinginan neneknya, yang meminta mereka berdua datang ke rumah Riana. Tapi Kenzo mengatakannya dengan berbisisk.


Marisa pun mengangguk, sebagai tanda setuju.


"Baiklah, nek. Besok kami akan ke sana," jawab Kenzo setelah perundingan.


"Bisakah nenek bicara dengan istrimu?" tanya Riana.


Kenzo memberikan ponselnya pada Marisa, "Nenek ingin bicara denganmu."


"Halo nek? Apa yang ingin nenek bicarakan?" tanya Marisa.


"Bisakah kau mengajak saudari kembarmu untuk datang juga, besok?"


"Maria? Dari mana nenek tau tentang Maria?"


"Itu tidak penting. Nenek hanya ingin bertemu dengan kalian bertiga,"


"Baiklah nek,"


Telepon pun terputus, setelah Riana mengatakan hal itu.


"Ada apa?" tanya Kenzo.


"Nenek memintaku mengajak Marisa juga, besok."


"Hah? Maria? Sebenarnya apa yang nenek ingin lakukan?"


Kenzo dan Marisa pun tenggelam dalam pemikiran mereka masing-masing.


...*******...


Ubun-ubun author sudah berasap guys, jadi mohon dukungannya untuk memadamkan api di dalam otak autho. 🤣🙈

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan subscribe. eh maksudnya masukkan favorit dan lemparkan sekuntum mawar atau nawar sekebon sekalian juga boleh. Kopinya untuk temen begadang juga di terima dengan lapang dada.


💋💋🥰


__ADS_2