
...Untuk para wanita, jangan selalu menggunakan kode yang rumit untuk menyampaikan sesuatu...
...Cukup katakan saja apa adanya, karena tidak semua laki-laki bisa mengerti kode rumitmu....
...By : Rosemarry...
...*****...
"Hm... kurasa itu tidak perlu. Karena orang itu adalah Azka Leonard, kembarannya Arka." Jelas Kenzo dengan wajah lesu.
"What to the what! what! what!? apa kau baru saja mengatakan Arka— emm... maksudku tuan Arka itu punya kembaran?" Marisa yang terkejut pun menoleh ke belakang dengan spontan.
"Kau mau membunuhku? Bisakah kau tetap fokus pada jalanan?! Dan kau bisa memanggilnya Arka saja, untuk apa kau memanggilnya tuan? Memangnya dia bosmu?" ucap Kenzo.
"Hehe maaf bos."
Kenzo menarik dalam-dalam nafasnya, "Ya, Arka itu punya seorang kembaran. Tapi dulu—"
"Ada apa bos?"
"Azka itu dulu pernah mengalami kecelakaan. Mobil yang dia tumpangi masuk ke dalam jurang, dan kami semua mengira dia sudah meninggal karena mayatnya tidak dapat di temukan."
"Tidak di temukan? Lalu bagaimana bisa dia di klaim meninggal jika jasadnya saja belum di temukan?" tanya Marisa dengan heran.
"Itu karena di tempat kejadian juga di temukan seekor buaya muara besar, dan hanya ada robekan pakaian yang sudah di pastikan itu milik Azka. Jadi polisi menetapkan kalau Azka sudah meninggal, dan kemungkinan besar jasadnya di makan oleh buaya itu."
"Astaga... ternyata ada kejadian semengerikan itu?!"
__ADS_1
"Keluarga Arka sangat terpukul saat itu, begitu juga dengan Arka dan lagi saat itu—"
"Tunggu bos! Tapi apa hubungannya semua ini dengan dia yang menerormu? Bukankah seharusnya dia itu juga teman baikmu seperti Arka yang selalu menempel padamu seperti prangko dan amplopnya itu?"
"Itu karena sebelum kecelakaan itu terjadi, dia salah paham padaku. Dan mungkin karena itu juga dia mengemudi dengan kecepatan tinggi, dan membuatnya—" Kenzo menghela nafas panjang.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri bos. Ya... meskipun kau memang menyebalkan, tapi dia kan hanya salah paham. Lagi pula kematian itu sudah di tetapkan, bahkan sebelum kita di lahirkan." Marisa pun memberikan kata-kata bijak hasil kutipannya itu pada Kenzo.
"Kau benar, tapi aku tetap merasa bersalah tentang itu. Karena itu juga, aku sangat kaget saat mendengar kau menyebutkan nama Azka." Kenzo pun berpikir sejenak, "Eh tapi tunggu dulu! Darimana kau bisa mengetahui soal Azka? Sedangkan Azka saja sudah di klaim meninggal?"
"Hm... soal itu aku hanya bisa bilang kalau itu berkat bantuan temanku. Dia bisa mengetahui apapun yang dia mau, aku tidak bisa menjelaskan secara mendetail soal dia."
"Oh, baiklah. Soal bonusmu akan kuminta Arka untuk mengirimnya nanti."
"Itu yang ku tunggu bos, hehe..." kekeh Marisa, namun dia dapat melihat kalau Kenzo masih tetap memasang wajah lesunya dan terlihat sangat tidak bersemangat seperti biasanya.
"Hm... kasian juga gue liat si Muktar kayak gitu. Ya... walaupun dia jadi gak pasang muka datar lagi, tapi rasanya jadi aneh kalau dia kalem." Marisa pun melihat sesuatu di pinggir jalan dan segera menepikan mobilnya tanpa izin dari Kenzo.
"Kenapa kau berhenti?! Ini masih belum sapai di perusahaan." Seru Kenzo saat Marisa melepas seat beltnya dan hendak keluar dari mobil.
"Tunggu sebentar bos, hanya 2 menit tidak lebih." Marisa pun segera berlari dan menghampiri sebuah gerobak dengan jajanan berwarna-warni, jajanan favorit anak-anak.
"Pak beli kembang kapasnya 2."
"Ini neng." Penjual pun mengulurkan 2 kembang kapas pada Marisa.
"Berapa pak?"
__ADS_1
"20 ribu neng."
"Ini pak, makasih." Marisa pun segera berjalan menjauh.
"Kembaliannya neng?!" seru si penjual pada saat Marisa.
"Buat bapak aja." Jawab Marisa dengan cengiran khasnya.
Kenzo yang melihat hal itu pun tanpa sadar menaikkan sudut bibirnya.
"Dasar bocah itu. Kenapa aku merasa dia manis saat tersenyum." Gumam Kenzo.
"Ini." Marisa masuk ke dalam mobil dan memberikan kembang kapas itu pada Kenzo.
"What? Kau membelinya untukku? Apa kau pikir aku ini anak-anak?"
"Siapa bilang kembang kapas hanya untuk anak-anak? Coba makan saja dulu, makanan manis bisa menjadi mood booster."
"Bagaimana mungkin gumpalan awan pink ini bisa menjadi mood booster?" cibir Kenzo dengan wajah datarnya.
"Coba saja dan kau akan tau." Marisa pun melajukan kembali mobilnya.
Kenzo pun dengan enggan membuka dan akhirnya mencoba memakan benda itu sedikit.
Marisa melirik ke belakang melalui spion untuk melihat ekspresi Kenzo. Apakah ekspresi yang akan tercipta saat kembang kapas itu masuk ke mulutnya.
Namun Marisa kecewa saat tak ada perubahan sama sekali di wajah Kenzo.
__ADS_1
Meskipun Kenzo tetap memasang wajah datar, tapi dalam hatinya berkata lain. "Hm... rasanya—"