
"Kau kenapa?" tanya Gea.
Kenzo menatap Marisa yang memberikan kode padanya untuk tidak mengatakan masalah itu.
"Hah? Tidak ada, kakiku terantuk meja."
"Jadi sekarang bisa kau jelaskan kenapa?"
"Itu karena—"
"Itu karena banyak kolega bisnis bos yang mengira aku pacaranya, padahal waktu itu kami hanya berakting untuk mengusir wanita yang suka mengganggu bosku saat di pesta ulang tahun."
"Hah? Ada kejadian seperti itu, dan kau tidak mengatakan apa-apa padaku?!"
"Maafkan aku, aku tidak merasa hal itu penting. Jadi aku tidak memberitahumu."
"Kai bulang hal itu tidak penting? Barusan kau lihat sendiri kan, bosmu saja tidak membedakan kita apalagi orang lain. Bagaiman jika ada yang mengira aku itu kau, itu akan mempengaruhi karirku!"
"E... Soal itu kai tenang saja, aku akan membantumu jika timbul masalah nantinya."
"Haish... Semua juga sudah terjadi, apalagi yang bisa dilakukan?"
Tak berapa lama, makanan mereka pun datang. Aroma cabai menguar dan sangat menusuk hidung.
"Makanan apa ini?" tanya Kenzo lirih pada Marisa yang ada di sampingnya.
"Ini namanya nasi goreng neraka jahanam, yang ini ayam geprek dajjal, lalu yang ini bebek goreng siksa kubur, yang ini tumis kangkung azab, dan ini—"
"Sudah! Sudah! Sudah! Makanan macam apa itu? Dari namanya saja sudah aneh apalagi rasa—"
Marisa tanpa banyak berkata-kata pun, langsung memasukkan sesendok penuh nasi goreng dari piringnya ke mulut Kenzo yang sedang terbuka.
"Enak kan?"
"Lumayan, tapi ini terlalu pedas."
"Yang penting enak bukan? Makanya lain kali itu coba dulu baru komen." Marisa pun memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
Tiga orang yang melihat mereka pun saling pandang satu sama lain, bagaimana tidak aneh? Dua orang yang mengaku sebagai bos dan atasan itu justru terlihat lebih mesra dari pada sepasang kekasih.
Akhirnya acara makan itu pun selesai, dan saat ini mereka semua sudah berada di parkiran.
__ADS_1
"Markonah gue titip si Gea ya jagain, jangan sampe di gondol sama kucing garong. gue mau nganterin bos gue ini balik ke rumahnya, lagi." Ucap Marisa pada Kembarannya dengan sengaja menekankan kata lagi.
"Anjir di gondol kucing lo bilang? Emangnya gue ikan, sialan lo!"
"Bukan ikan tapi lo bau amis, haha..." seloroh Marisa.
"Dih udah pergi sono lo! Dasar resek!"
Mereka semua pun akhirnya pulang, Maria bersama Johan dan Gea menaiki mobil Johan. Sedangkan Marisa menaiki motor kesayangannya dengan Kenzo duduk di jok penumpangnya.
Kalian tanya kenapa? Tentu saja itu akal bulus Kenzo, saat dia tadi sempat melihat motor Marisa saat mereka sedang makan dia pun sengaja menyuruh pak Tejo untuk pulang lebih dulu.
Sungguh ide gila yang cemerlang bukan? Kapan lagi kan naik motor sport di bonceng cewek cantik? Ya... meskipun harusnya terbalik, biasanya cewek yang di bonceng. Tapi Kenzo tidak perduli hal itu, mau itu terbalik, terlentang, atau tengkurap sekalipun dia tidak perduli. Yang penting dia bisa berdua bersama Marisa.
"Dasar bos aneh! Mana ada bos yang minta bonceng motor sama bodyguardnya kayak gini?" batinnya.
"Baru kali ini aku naik motor seperti ini, dan ternyata seru juga." Batin Kenzo.
"Bos."
"Ya?"
"Darimana kau tau aku akan ke sana?"
"Darimana kau tau kalau aku mau makan di tempat itu?" ulangnya dengan suara yang lebih keras.
"Aku dengar saat kau menelepon tadi."
"Lalu kenapa kau menyusulku?"
"Aku tidak ingin kau dekat-dekat dengan pria lain!" serunya dalam hati. "Ada urusan mencarimu!" kilahnya.
"Urusan apa?"
"Kita bicarakan nanti saja."
"Ooh, ok."
Setelah beberapa menit perjalanan, mereka pun sampai di rumah Kenzo.
"Masuk."
__ADS_1
"Hah? Untuk apa? Bukankah kau bilang ada urusan denganku, bos?"
"Benar, jadi mari masuk!"
"Eeh—" Kenzo menarik tangan Marisa dan masuk ke dalam rumah itu.
"Kenzo, kau sudah pulang?" sapa Stella, "Eh? Ada Marisa juga, ayo duduk." Ujarnya.
"Terimakasih tan—"
"Tidak perlu ma, aku ada urusan dengan dia dan papa. Dimana papa?"
"Papamu ada di ruang kerja."
"Ayo ikut."
"Eh! Eh! Mau Kemana?"
"Ke alam baka!"
"Bos aku serius."
"Aku juga sangat serius, Marisa."
Tok...
Tok...
Tok...
"Masuk!"
"Pa..."
Dia pun menoleh ke arah Kenzo, "Ada apa?'
"Kau ingin membicarakan soal pernikahan itu."
"Soal pernikahan? Apa dia sudah punya cara untuk membatalkannya? Syukurlah Tuhan... aku bisa terbebas dari pernikahan absurd ini...!" sorak Marisa dalam hati.
"Oh, duduklah." Ucapnya, "Apa kau ingin membujukku membatalkan rencana pernikahan itu, Kenzo? Jika iya, kau bisa pergi sekarang karena kau pasti sudah tau jawabannya."
__ADS_1
"Tidak pa, justru aku ingin tanggalnya di percepat."
"What!!"