
Glek!
Dengan susah payah, Arka berusaha menelan salivanya. Karena Marisa menatapnya seperti menatap musuh bebuyutan.
"E- Ekhem! Marisa, jika ada sesuatu yang ingin kau bicarakan ya bicarakan saja. Jangan di pendam sendirian, nanti takutnya menumpuk menjadi—"
Tak!
Lagi-lagi Marisa menusuk potongan daging di piringnya, dan menatap Arka dengan tatapan yang lebih mematikan dari yang sebelumnya.
Glek!
"Sial! Maaf Ken, sepertinya aku tidak bisa lagi menahan ratu neraka ini dan harus memberitahu dia di mana kau berada. Aku masih belum menikah, aku tidak mau mati dalam keadaan masih perjaka!" gumam Arka dalam hati.
Tak!
Untung ketiga kalinya, Marisa menusuk potongan daging itu dengan tatapan yang tak dia lepaskan dari Arka.
"Marisa, kau mencari Kenzo kan? Dia ada di Restoran di depan sana. Kau bisa kesana kalau mau mencarinya."
Srek!
Marisa berdiri dari duduknya hingga terdengar suara kursi yang berderit, dan membuat suasana semakin mencekam.
Puk
Puk
Puk
"Anak baik!" ucap Marisa sambil menepuk pundak Arka pelan, tiga kali dan kemudian melangkah pergi.
Cklak!
"Haaaah... akhirnya aku bisa bernafas juga! Sialan kau Ken, bisa-bisanya kau menyuruhku menghadapi singa betina itu?" gumamnya.
Cklak!
Arka kembali menahan nafasnya, saat Marisa berjalan masuk lagi kearahnya, "Ponselku ketinggalan."
Dan setelah mengatakan hal itu, Marisa pun segera pergi untuk menemukan keberadaan makhluk yang sudah membuatnya dag dig dug der semalam.
"Aigoo! Sesak sekali! Auranya bahkan lebih menakutkan dari pada aura ibu suri!" seru Arka.
"Mana sih dia? Kata Arka dia di sini kan? Tapi dima—" mata Marisa membulat seketika, kala melihat Kenzo sedang makan bersama seorang wanita yang sangat cantik.
Boom!
__ADS_1
Seolah kepulan asap keluar dari ubun-ubun Marisa saat ini.
Dia memperhatikan wanita itu dari atas k bawah dan kemudian beralih memperhatikan dirinya sendiri dari atas ke bawah.
"Sial! Beraninya dia di sini seneng-seneng sama cecan, sedangkan gue udah mumet semaleman mikirin pernyataan dia ke gue?! Dasar buaya cap badak! Beneran asli karena ada badaknya!" seru Marisa dalam hati.
Baru saja Marisa berjalan untuk menghampiri Kenzo, tiba-tiba saja dia mengurungkan niatnya itu dan duduk di salah satu kursi di sana sambil mengamati Kenzo.
"Ken, bagaimana kabar orang tuamu? Mereka baik-baik saja kan, aku sangat merindukan mereka."
"Eh? Jadi wanita itu kenal dengan om Gio dan tante Stella?" batin Marisa.
"Mereka baik-baik saja, dan mereka juga menitipkan pesan agar kau mampir ke rumah. Mereka juga sangat merindukanmu. Kau tau kan, jika ada kau maka mereka akan lupa siapa anak mereka sebenarnya," candanya.
"Hahaha ... kau ini bisa saja Ken, nanti aku akan mampir ke sana jika aku tidak sedang sibuk dengan pekerjaan."
"Ya."
"Jadi dia sudah sedekat itu dengan keluarganya Kenzo?"
"Ken, lihat ke arah jam 12."
"Eh? Ada apa?"
"Jangan di lihat!" bisiknya.
"Memangnya ada apa?"
"Bodyguard? Bagaimana kau bisa tau kalau dia sedang memperhatikan kita?"
"Bagaimana aku bisa tidak tau, dia menutupi wajahnya dengan koran yang terbalik!"
"Pfft!" Kenzo sebisa mungkin menahan tawanya agar tidak pecah.
"Ekhem... sepertinya aku mencium bau-bau kecemburuan, apa dia pacarmu? Bahkan setelah sekian lama mengenalmu, bahkan kita sudah kenal sejak masih sama-sama ingusan. Aki tidak pernah sekalipun melihatmu tertawa seperti ini, bahkan tersenyum pun sangat langka."
"Benarkah? Mungkin itu hanya perasaanmu saja."
"Aku tau kapan kau berbohong dan kapan kau jujur, Kenzo. Apa benar dia pacarmu?"
"Belum," jawab Kenzo singkat.
"Maksudmu, dia mengejarmu?" tanyanya kemudian meneguk sedikit air putih di atas meja untuk membasahi tenggorokannya.
"Tidak, tapi sebaliknya. Akulah yang sedang mengejarnya."
Byur!
__ADS_1
Wajah Kenzi pun basah terkena semburan maut ala mbah dukun, tepat di wajahnya.
Marisa yang melihat kejadian itu pun berusaha sebisa mungkin menahan tawanya.
"Sorry Ken, aku tidak sengaja. Kau yang membuatku terkejut."
"Kebiasaan!"
Kenzo membersihkan wajahnya dengan sapi tangan yang dia bawa.
"Hahaha... rasain! Itu karma untuk buaya! Dasar predator janda! Eh salah, maksudnya predator wanita!" batinnya.
"Siapa suruh kau tiba-tiba mengatakan kalau kau lah yang sedang mengejarnya. Seorang Kenzi yang tidak pernah tertarik pada wanita, sekarang sedang mengejar seorang wanita? Benar-benar berita langka!" godanya.
"Bisakah kau tidak mengejekku? Lebih baik bantu aku saja, untuk mendapatkannya."
"Caranya?"
"Bantu aku membuatnya cemburu!"
"Kau yakin? Baiklah, mari kita lakukan permainan lama kita. Berakting!"
"Kara, jika nanti aku sudah berhasil mendapatkannya aku akan memberimu hadiah besar."
"Sepakat!"
Wanita bernama Kara, atau lebih tepatnya Karamel Delisa William itu mulai menyuapi Kenzo dengan makanan miliknya.
"Dih! Dih! Dih! Kok pakek suap-suapan segala sih? Emangnya si Kenzo itu jompo apa? Pakek di suapin segala!" entah kenapa, Marisa merasa kesal melihat pemandangan di depannya.
"Mari buat sesuatu yang lebih hot!" Kara pun mengambil posisi di mana jika di lihat dari tempat Marisa berada, maka yang terlihat adalah Kara sedang mencium Kenzo.
"Woah...! Daebak! Benar-benar buaya kualitas premium!" batin Marisa dengan senyum kecut di bibirnya, "Jadi yang semalam itu hanya lelucon? Tapi bukankah seharusnya aku senang? Aku kan memang tidak menyukainya!" gumam Marisa, namun tidak terasa di pelupuk matanya sudah terkumpul air mata yang siap jatuh kapan saja.
"Cukup, Ra. Sepertinya sudah terlalu berlebihan." Kenzo meyuruh Kara kembali ke tempat duduknya, sambil mencuri lihat ke arah Maria yang sudah berdiri dan sesaat setelahnya dia keluar dari sana.
"Sial! Lo nggak boleh nangis, Marisa! Lo harus inget kata ayah! Lo nggak boleh buang-buang air mata lo!" gumamnya.
Marisa berjalan tanpa arah dan tujuan, dia hanya ingin sendiri untuk saat ini. Sejak kecil, dia memang di ajarkan untuk menjadi wanita tangguh tanpa air mata. Bahkan saat orang tua mereka meninggal, Marisa hanya meneteskan beberapa bulir air mata. Dan hal itu membuat orang-orang menganggapnua sebagai manusia tidak berhati, yang bahkan tidak menangis saay kematian orang tuanya.
Padahal mereka tidak tau saja, semenderita apa Marisa untuk bisa menahan air matanya di setiap keterpurukannya.
Mereka hanya tau menyimpulkan semuanya dari sudut pandang mereka sendiri.
"Cih! Hanya seorang pria kan? Di luar sana masih banyak pria lain yang lebih baik dari pada dia, Marisa!" batinnya.
Namun tiba-tiba saja, Marisa merasa ada seseorang yang memegang pundaknya dari belakang.
__ADS_1
Dengan refleknya sebagai seorang bodyguard, dengan cepat dia membanting orang itu ke tanah hingga menimbulkan suara.
Bugh!