
..."Jangan pernah menyia-nyiakan kebaikan hati, karena 90% orang jahat itu terlahir dari orang baik yang tersakiti."...
...By: Rosemarry...
...*****...
Namun sayangnya pertemanan mereka hancur karena Adelia mengkhianati Monica.
Adelia berselingkuh dengan pacar Monica di belakangnya, padahal mereka berdua sudah sangat dekat, bak di olesi lem UHU yang membuat mereka terus melekat dan tak terpisahkan.
"Dan yang terpenting, dia itu nggak nusuk gue dari belakang kayak lo!"
"Ya ampun Mon, lo masih aja inget-inget masalah itu? Come on, Monica Beferlie, can you just forget about it? it's just a small problem ok?!" bujuk Adelia pada mantan sahabatnya itu.
"O M G Hello!! Masalah kecil? Lo bilang itu cuma masalah kecil? Adelia Geraldine si pagar makan tanaman!" Monica pun mulai meninggikan suaranya karena merasa kesal pada Adelia, "Gampang banget ya tuh congor lo bilang itu cuma masalah kecil!? Lo khianatin gue, ogeb!"
"Cuma gara-gara satu cowok, tapi lo—"
"Gue nggak perduli soal Steven, si Magadir alias mantan gak tau diri itu! Tapi yang bikin pertemanan kita hancur itu, lo yang udah ngerusak kepercayaan gue sama lo!" Monica memotong sanggahan yang hendak keluar dari mulut Adelia, dengan wajah yang amat sangat kesal.
Coba kalian pikir saja, apa kalian tidak akan marah saat ada di posisi monica, karena dengan mudahnya lambe turah Adelia itu mengatakan, kalau pengkhianatan yang dia lakukan itu hanyalah masalah kecil.
"Kalo aja gue nggak inget ngebunuh orang itu bisa bikin gue masuk bui, udah gue cincang lo jadi 99 bagian kecil terus gue karungin!" Monica pun kemudian melenggang pergi meninggalkan Adelia yang tengah mengepalkan erat tangannya.
"Hai Mar..." sapa Monica pada Maria yang baru saja break dari sesi pemotretannya.
"Aloha... Monicaku sayang, abis lo apain tuh si Tuti Konde?" tanya Maria pada Monica, sambil melirik Adelia yang wajahnya tampak merah padam.
"Tuti Konde?" bingung Monica dengan alisnya yang bertaut.
"Yup! Tu Ti Kon De, alias tukang tikung konco dewe. Itu bahasa jawa, yang artinya tukang nikung temen sendiri!" canda Maria sambil tertawa dan membuat Monica ikut tertawa mendengar julukan absurd itu
"Tadi tuh congornya si Tuti Konde itu, dengan entengnya nyablak kalo masalah yang buat gue sama dia jadi musuh itu cuma masalah kecil! Gimana gue nggak kesel coba Mar?!"
Maria pun menautkan alisnya.
__ADS_1
"Tadi tuh dia ngomong gini." Monica menirukan ucapan Adelia plus dengan bentuk bibir monyongnya yang estetik itu, "Ya ampun Mon, lo masih aja inget-inget masalah itu? Come on, Monica Beferlie, can you just forget about it? it's just a small problem ok?!"
"What!! Bener-bener minta di kebiri kali ya tuh congor?!" sahut Maria yang ikut kesal mendengarnya.
"Nah itu dia, pengen banget rasanya gue cincang terus gue karungin tuh orang, ngeselin banget sumpah!" Monica kesal dengan gaya bibir manyunnya.
"Lo mau jadi kang karung, Mon? Ntar lo viral lagi, haha..." Maria mencoba membuat sahabatnya itu tidak terlalu memikirkan lagi kekesalannya pada si Tuti Konde.
"Anjir ogah gue, ntar muka syantek gue ini terpampang nyata di setiap sosial media dengan hastag 'Kang Karung' hi... amit-amit deh, haha..." Monica pun ikut tertawa dan sedikit melupakan rasa kesal di hatinya pada Adelia.
"Mar, lanjut yuk!" panggil sang fotografer pada Maria.
"Ok!" seru Maria.
"Gue lanjut dulu ya, lo mau cabut duluan apa mau bareng gue pulangnya?" tanya Maria.
"Ehm... gue duluan deh ya, mau nyalon dulu hehe..." Kekeh Monica sambil melambaikan tangannya dan meninggalkan Maria yang masih harus melanjutkan pekerjaannya.
"Ok deh, take care ya..." Monica yang sudah melenggang pergi pun mengacungkan 2 jempolnya pada Maria.
Maria pun menghampiri Johan. "Jo, lo masih ada kerjaan ya?" tanyanya pada Johan yang terlihat masih sibuk.
"Iya nih, lo udah mau balik ya?"
"Enggak sih gue masih ada schedule pemotretan sama temen sekolah gue dulu, nggak enak soalnya gue udah janji sama dia. Kalau gitu gue duluan ya, bye Jo!" pamit Maria pada Johan.
"Ok, hati-hati di jalan!" seru Johan.
Maria pun memesan taksi untuk menuju ke tempat pemotretan berikutnya.
*****
Malam hari pun menjelang, sang surya mulai perlahan tenggelam.
Arka dan Kenzo baru saja menyelesaikan kunjungan lapangan mereka, dan makan malam lebih dulu setelahnya.
__ADS_1
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, dan bersiap kembali ke apartemen Kenzo untuk bersiap ke pesta malam ini.
Kenzo memang lebih sering berada di apartemennya dari pada di rumah utama, karena merasa lebih nyaman untuk tinggal di apartemen.
"Arka, gimana soal kandidat yang lo bilang itu?" tanya Kenzo.
"Gue tadi udah suruh orang bagian personalia buat hubungin dia, gue tinggal kirim lokasi apartemen lo ke dia aja." Arka pun segera mengirimkan alamat apartemen Kenzo pada bodyguard baru itu.
Ting!!
Marisa pun terbangun saat mendengar nada notifikasi di ponselnya berbunyi.
"What!!" seru Marisa yang baru saja membuka pesan singkat yang di terimanya itu.
"Ada apa sih Mar, kenapa ribut banget?!" tanya Gea yang terbangun dari tidurnya gara-gara suara 100 oktafnya Marisa.
"Asisten bos gue baru aja kirim lokasi, dan lo tau? Lokasinya ada di apartemen ini juga!" ucap Marisa dengan mode ibu-ibu rumpi no secretnya.
"Hah? Tempat janjiannya di apartemen ini juga?!" Seru Gea yang ikutan kepo lalu menyambar ponsel di tangan Marisa, dan membuka pesan yang baru saja masuk ke nomor hp Marisa itu.
"Emang bos lo itu siapa? Kali aja gue kenal." tanya Gea yang penasaran.
"Gue aja belum tau siapa bos gue, kan gue baru mau ketemu dia." Jawab Marisa dengan santuynya.
Marisa memang belum mengetahui siapa bos barunya itu.
"Are you kidding me!? Emang lo nggak cari tahu dulu siapa bos lo sebelum lo ngelamar kerja?" tanya Gea.
"Enggak." Marisa pun menggeleng dengan wajah cengonya, yang lengkap dengan cengiran iklan close upnya itu.
"Ya ampun Marjan! Terus yang lo liat tuh apa coba? Masa iya bos lo sendiri, orang yang bakal lo liat tiap hari lo nggak tau siapa orangnya!" Gea pun auto tepok jidat dengan kelakuan Marisa itu.
Bagaimana tidak, biasanya orang yang mau melamar pekerjaan pastinya melihat dan meneliti dulu segala sesuatunya. Tapi nyatanya si makhluk aneh bin ajaib yang satu ini justru kebalikannya.
"Ya... gue kan cuma liat gajinya aja Ge, soalnya gajinya gede. So, ya gue ngelamar aja gitu di sana. Perduli kampret sama siapa bos baru gue itu." Marisa pun tampak acuh.
__ADS_1
Pletak!!