
Jangan lupa dukungannya 😘
...******...
"Oh iya, dimana kalian tinggal?" tanyanya, "Ehm... maksudku, kau, kakakmu, ayah, dan ibumu. Aku sangat merindukan ayah dan ibumu, aku ingin bertemu dengan mereka lagi."
Deg!
Marisa pun terdiam, dia kembali teringat dengan mendiang ayah dan ibunya. Rasanya lidahnya itu tak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata, meski hanya sepatah katapun. Marisa teringat dengan kenangan indahnya bersama ayah dan ibunya, kasih sayang mereka yang tiada batas, juga kebersamaan mereka yang meninggalkan kenangan mendalam di hatinya.
"Marisa? Kau baik-baik saja, kan?" Mentari heran melihat raut wajah Marisa yang berubah, namun tak ada setetes pun air mata yang jatuh dari pelupuk mata Marisa yang bisa mengartikan kesedihannya.
Marisa masih terdiam seolah tak mendengar panggilan Mentari padanya, dia benar-benar tenggelam dalam ingatan masa lalu. Bahkan dia seperti merasakan kehadiran ayah dan ibunya saat ini, di dalam hatinya.
"Mereka... ayah dan ibu..." Mentari menunggu jawaban Marisa dengan tidak sabar, "Mereka ada. Di sini, di hatiku, selamanya." Marisa menunjuk ke dadanya, namun tatapannya kosong seperti orang kehilangan jiwanya.
Dan yang lebih menyedihkan adalah, Marisa tak bisa mengeluarkan setetes pun air matanya. Dia teringat dengan pesan ayahnya, "Kau harus menjadi kuat, gadis kuat tidak akan meneteskan air matanya dengan mudah." Kata-kata itu selalu terngiang di telinganya.
Sedangkan Mentari yang seolah sudah mengerti maksud dari Marisa pun mendadak bodoh, "Apa kau bercanda? Aku tau kau menyayangi ayah dan ibumu, dan mereka selalu ada di hatimu. Tapi yang aku tanyakan adalah dimana kalian tinggal?" Meskipun dia masih bisa menanyakan hal bodoh semacam itu, tapi tangan gemetarnya sudah mengatakan hal yang sebenarnya.
Marisa juga mengerti, bahwa tantenya itu sedang berusaha membohongi dirinya sendiri. Berusaha menutupi kenyataan yang sebenarnya sudah ada di dalam pikiran dan hati kecilnya, kebohongan yang tidak berguna. Benar, tidak berguna karena sedetik kemudian air matanya meluruh dan tangisnya pun pecah.
Tangisan pilu Mentari membuat mata Marisa perlahan terasa panas, hingga manik mata indah itu nampak berkaca-kaca dan akhirnya setetes air mata pun jatuh juga.
"Maaf ayah. Aku tak bisa menepati janjiku padamu. Aku tak ingin menangis, tapi aku juga bukan besi baja yang tahan banting luar dalam." Gumam Marisa sambil menghadap ke atas.
Bagaimana dirinya tidak sedih, jika saat ini dia kembali teringat dengan ayah dan ibunya di saat orang yang paling dia sayangi kini terbaring tak berdaya.
__ADS_1
Apa yang harus dia lakukan? Apa pun! Apa pun akan dia lakukan untuk membuat Maria sadar, apapun itu, meski jika harus mengorbankan hidupnya dia tak akan ragu.
Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok Kenzo yang terlihat sangat panik, dia datang dan langsung memeluk tubuh istrinya yang sudah bergetar. Pertama kalinya dia melihat sosok istrinya yang begitu kuat, seperti pagar besi itu kini bahkan menitikkan air mata.
Hal itu membuatnya semakin merasa bersalah, dia sangat menyesal atas apa yang terjadi. Jika saja, jika saja Maria tak menyelematkannya. Jika saja, dia tak ceroboh dan membuat Maria celaka. Jika saja dia yang terbaring di sana.
"Ini salahku," Kenzo bersimpuh di hadapan Marisa, dan membuat tangis Marisa semakin menjadi.
"Jangan salahkan dirimu, semua ini takdir." Ucapan seseorang yang baru saja datang itu, membuat ketiga orag yang ada di sana menoleh dan mengalihkan atensi mereka pada orang itu.
"Tapi seharusnya Ken yang ada di sana, nek. Harusnya Ken yang sekarang terbaring, bukan Maria..." Suara Kenzo terdengar gemetar.
Riana pun berjalan menghampiri ketiga orang itu, dan berkata, "Apakah jika kau yang terbaring di sana, maka istrimu tak akan sedih? Apa jika kau yang terbaring di sana, maka istrimu tak kan menangis. Apa jika kau menggantikan tempatnya, maka istrimu akan baik-baik saja? Tidak Kenzo, tidak."
Marisa pun segera memeluk suaminya itu, dan berusaha membenarkan ucapan Riana dengan pelukan hangat yang dia berikan. Riana benar. Tak perduli Kenzo atau Maria yang terbaring lemah di sana, itu tak ada bedanya untuk dirinya. Semua akan sama-sama membuatnya sedih, sama-sama membuat dia takut dan sama-sama membuat dia menangis.
Deg!
Ketiga orang itu pun menatap Riana dengan tidak percaya. Benarkah ini? Seorang Riana yang terkenal dingin, kini mengatakan hal seperti itu bahkan untuk orang yang belum pernah dia temui? Apa ini lelucon April mop? Apa dia sedang bercanda?
"Apa maksudmu nek? Siapa Kenan? Siapa Yurika? Dan kenapa nenek berkata seperti itu?" tanya Kenzo.
"Kenan adalah kakakku, Kenzo. Jadi Marisa adalah keponakanku, sepupu Arka dan Azka."
"Aku berhutang budi dan nyawa pada ayahmu. Aku mencari kalian selama puluhan tahun, tapi kalian seperti menghilang di telan bumi. Dan sekarang, aku bahkan sudah tak mungkin lagi bisa menemuinya. Maka akan ku balas semua yang sudah dia lakukan untukku, pada kalian, anak-anaknya."
"Apa maksudnya ini? Apa dunia benar-benar sesempit itu?" pikir Kenzo.
__ADS_1
Marisa benar-benar terharu mendengar perkataan Riana. Dia tak menyangka, orang yang beberapa hari lalu masih begitu dingin dan kejam padanya, kini bahkan mengatakan rela menukar hidupnya dengan hidup saudarinya. Benar-benar sebuah keajaiban yang begitu menggemparkan, namun sekaligus membahagiakan.
Gio pun masuk ke sana dan membertahu semua orang, jika Maria sudah sadar. Dia ingin bertemu dengan Marisa, sekarang.
Marisa pun bergegas menuju ke kamar Maria. Sampai di ambang pintu, dia tak lantas masuk, namun justru mematung menatap kembarannya yang kini tersenyum lemah ke arahnya.
"Hey... Apa-apaan itu? Sejak kapan adik gue yang sekeras besi baja ini bisa menangis? Apa baja itu sudah meleleh, sekarang?" Marisa pun tersenyum hambar ke arah Maria.
"Lo pikir gue selalu bisa sekuat itu? Gue ini bukan pisau belati yang tidak berhati, gue juga manusia..." ucapnya sambil berjalan ke arah Maria, dia memeluk tubuh kakaknya itu dengan sayang, "Apa kau tau? Kau hampir membuatku menyusul ayah dan ibu. Kau membuatku hampir mati ketakutan. Kau bahkan membuat bendungan air mataku jebol!" rengeknya.
"Lebay," ucapnya.
"Ngerusak suasana banget sih lo, Markonah. Jarang-jarang gue nangis, tapi lo malah bercanda, bener-bener lo ya..." Keduanya pun tertawa, meski Maria masih terlihat lemah, "Gimana keadaan lo?"
"Gue baik, dia juga baik," Maria mengusap perutnya.
Benar, ada kehidupan di dalam sana.
"Kayaknya calon anak gue, ketularan kuatnya auntynya deh." Maria terkekeh geli, "Gue jadi nyesel udah coba buat buang dia, gue nyesel Mar."
"Yang penting lo udah sadar kalo lo salah, dan jangan lagi lakuin hal bodoh. Dia bakal tanggung jawab kok, dia cuma butuh waktu buat selesaikan masalah dia." Jelas Marisa, "Dan lo tau? Dia lagi otw ke sini, buat lo. Padahal dia baru aja sampe di jepang."
"What? Jepang? Lo bercanda, dari mana dia punya duit buat jalan-jalan ke Jepang?"
"Lo bakal tau nanti. Itu bukan giliran gue, buat ngasih tau lo."
"Dih mainnya rahasia-rahasiaan!"
__ADS_1