My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 93


__ADS_3

"Pencatatan sipil!?" seru Marisa dengan mulut menganga, kala dia berada di depan gedung bertuliskan pencatatan sipil. "Kenapa kita ke sini?" tanyanya dengan bodoh.


"Untuk makan!" jawab Kenzo, "Ini pencatatan sipil. Tentu saja untuk mendaftarkan pernikahan, kau ini bodoh atau sangat bodoh?" sambungnya sambil menjitak kepala Marisa.


"Aku tau kalau pencatatan sipil adalah tempat untuk mendaftarkan pernikahan. Tapi yang aku tanyakan adalah, kenapa kita ada di sinu!?" tanyanya lagi dengan geram.


"Karena buku nikah perlu ada foto kita berdua," ucapnya dengan enteng.


"Maksudmu kita yang akan menikah?!" Marisa semakin pusing dan bingung dengan apa yang terjadi.


"Tentu saja, memangnya siapa lagi."


"Tidak! Bagaimana bisa menikah dadakan begini? Kau kira aku tahu bulat lima ratusan?" protesnya.


"Bukankah aku sudah bilang, mau tidak mau kau tetap akan menjadi nyonya Kenzo Alexander."


"Tapi—"


"Tidak dapat di ganggu gugat!" sahutnya sambil menarik tangan Marisa untuk masuk ke sana.


"Tapi ini kan bukan negara kita? Bagaimana bisa seperti ini?" Marisa mencoba mencari alasan.


"Apa kau tidak pernah dengar soal uang berbicara?"


"Astaga gue lupa kalau si Muktar ini nggak kekurangan cuan!" batinnya sambil mencari alasan lain, "Tapi bukankah menikah itu butuh restu?"


"Apa kau lupa kalau ayahku yang menginginkan pernikahan ini di laksanakan jauh sebelum ini?"


"Aku tau itu, tapi maksudku bukan dari keluargamu!!"


"Aku tau kau akan menanyakan itu," Kenzo mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sebuah pesan padanya yang bertuliskan...


Kenzo: Aku akan menikahi adikmu, aku meminta restu darimu.


Maria: Silahkan saja.

__ADS_1


(Nb: Maria membalas chat itu dengan asal, karena dia tidak tau kalau itu adalah nomor Kenzo. Dan dia mengira itu hanya prank atau pesan nyasar saja, jadi dia tidak terlalu ambil pusing dan menjawabnya tanpa pikir panjang.)


"Sialan lo Markonah! Bisa-bisanya lo segampang itu ngasih restu? Bener-bener minta di pites lo ya...!" batin Marisa yang benar-benar kehabisan kata-kata untuk saudari kembarnya itu.


"Ada lagi alasan lain?"


Marisa nampak terdiam sejenak sebelum kembali berbicara, "Cincin! Menikah membutuhkan sesuatu sebagai ikat—"


Ucapan Marisa tak sempat selesai, karena Kenzo mengeluarkan kotak cincin dari saku jasnya. Dia membukanya, dan di sana terdapat sepasang cincin yang sangat cantik, dengan ukiran nama mereka di atasnya.


"Semua alasanmu sudah terpatahkan, jadi sekarang kau harus menjadi istriku," ucap Kenzo sambil membuka kotak cincin itu dan berlutut di depan Marisa.


"Hey! Hey! Hey! Dialogmu salah, bukankah seharusnya kau mengatakannya begini?" Marisa pun mencoba memberikan contoh melamar pasangan yang baik dan benar, "Maukah kau menjadi pendamping hidupku selamanya? Dalam susah maupun senang, dalam sehat maupun sakit? Menemani, mencintai, dan menyayangiku selama sisa hidupmu?"


"Tentu saja aku mau!" jawab Kenzo yang malah memanfaatkan keadaan.


"Kau ini apa-apaan? Aku kan hanya sedang memberikan contoh."


"Tapi intinya sama, jadi ayo segera urus ini dan pulang."


"E-eh tapi—"


"Kita tidak punya banyak waktu. Kita akan mendapatkan kejutan besar saat kita pulang nanti, jadi bukankah aku juga harus menyiapkan hadiah yang lebih besar?" ucapnya sambil mendekatkan wajahnya pada Marisa, "Misalnya seorang istri dan calon anak," bisiknya tepat di samping telinga Marisa.


Blush!


Wajah dan telinga Marisa langsung memerah karena ucapan Kenzo.


Akhirnya pernikahan dadakan, secepat tukang tahu bulat yang menggoreng dagangannya itu pun selesai. Dan kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


"Aku masih tidak percaya, dalam waktu kurang dari 24 jam tiba-tiba aku sudah menjadi seorang istri. Rasanya benar-benar seperti mimpi," gumam Marisa sambil menatap buki nikahnya.


"Tapi kau harus percaya. Karena semua ini nyata, bukan mimpi indah atau semacamnya," ujar Kenzo.


"Tunggu! Tadi kau bilang akan ada kejutan besar saat kita kembali, kejutan apa yang kau maksud?" tanya Marisa yang ingat kalau Kenzo tadi mengatakan, kalau mereka berdua akan mendapatkan kejutan besar saat mereka kembali nanti.

__ADS_1


"Kau akan tau, jika memang sudah saatnya."


"Dasar bos sok misterius!' umpatnya pelan.


"Bos? Kau masih memanggilku, bos?" tanya Kenzo dengan sedikit rasa tidak senang yang terdengar dari pertanyaannya.


"Lalu aku harus memanggilmu apa?"


"Terserah."


"Kakak?" tanya Marisa.


"Aku bukan kakakmu."


"Mas?"


"Mas dan kakak itu artinya sama saja."


Marisa mencoba menahan amarahnya, "Honey?"


"Aku tau aku manis, jadi jangan memberi panggilan yang akan membuatku terdengar lebih manis lagi."


Marisa menghela nafasnya, karena menahan rasa ingin mencakar wajah Kenzo saat ini.


"Sayang?" tanya Marisa dengan gigi yang dia rapatkan, dia masih berusaha bersabar.


"Terlalu umum."


"Suamiku?" tingkat kekesalan Marisa sudah naik ke tingkat 90%.


"Tanpa kau memanggilku begitu, aku memang sudah suamimu."


"Lalu kau mau ku panggil apa...!? Dasar ribet! Kau ini seperti perempuan saja, padahal aku yang perempuan saja tidak seribet dirimu!"


"Terserah, panggil saja seperti apa yang kau inginkan."

__ADS_1


Wajah Marisa nampak merah padam.


__ADS_2