
"Buset dah! Gue ngomong aja belum kelar, Markonah...! Udah main NA! NO! NA! NO! Bae! lo pikir permen?!"
"Emang tadi lo mau ngomong apaan?" tanya Maria dengan cengo.
Benar-benar tidak seperti biasanya. Maria yang biasanya banyak bicara, berteriak dengan suara 100 oktafnya pada Marisa, Maria yang cerewet jika twin durjananya tidak mengangkat telepon darinya. Seolah sosok Maria yang dulu, benar-benar hilang!
"Astoge...! Lo baek-baek aja kan, Markonah? Lo sehat kan? Kenapa lo jadi oon gini dah?!" tanya Marisa, "Gue itu tadi mau nanya, apa ada orang yang gangguin lo atau ngikutin lo bahkan mungkin nyakitin lo gitu?"
"Nggak ada,"
"Ya terus lo itu sebenarnya kenapa, Markonah...!" tanya Marisa dengan gemas.
"Gue nggak kenapa-napa."
"Gue itu udah kenal lo dari masih embrio! Nggak usah liat muka lo, juga tau lo lagi ngibul apa enggak! Buruan cerita!"
"Gue bakal ceritain, tapi kalo pas lo udah balik aja."
"Ok. Malem ini juga, gue langsung otw balik!"
"Hem, ya."
"Ya udah gue matiin dulu."
Sambungan telepon pun terputus, Kenzo yang mendengar semua percakapan mereka pun hanya mengernyit bingung.
"Ada apa?"
Marisa mengangkat kedua bahunya, pertanda dirinya juga tidak tau apa yang terjadi.
"Terus kenapa tadi kamu bilang, mau pulang malam ini juga?"
"Maria kayaknya lagi ada masalah. Jadi aku boleh pulang, malam ini? Ya...? Please..." pintanya dengan jurus puppy eyesnya, "Aku bisa pulang sendiri kok, kamu bisa lanjutin kerjaan kamu dulu."
Kenzo mengacak rambutnya pelan, "Kamu boleh pulang," Marisa menatap bahagia pada Kenzo, "Tapi harus denganku. Lagipula pekerjaanku sudah selesai. Meeting hari ini juga meeting terakhir, sekaligus penandatanganan kontrak."
"Benarkah?"
"Ya, jadi tunggu aku selesai meeting. Dan kita akan pulang bersama," ucapnya, "Aku tidak mau kalau sampai dia menemuimu, tanpa ada aku di sampingmu," sambung Kenzo dalam hatinya.
"Baiklah, biar aku bereskan barang-barang kita dulu. Jadi nanti kita bisa langsung pulang, jika sudah dapat tiketnya."
"Ehm. Aku akan meminta Arka untuk memesan tiket."
"Terimakasih sayang..." ucap Marisa dengan nada manja, yang belum pernah dia perlihatkan sebelumnya.
"Aku tidak mau terima, ucapan terimakasihmu! Berikan tindakan nyata sebagai ucapan terimakasih."
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Marisa dengan bingung.
"Cium aku."
"C-cium?" gagapnya.
"Iya. Kenapa? Apa kau masih malu? Setelah apa yang terjadi tadi malam, kau masih malu?" tanya Kenzo dengan nada menggoda.
"Tentu saja tidak!" sangkal Marisa, dengan cepat.
"Lalu? Buktikan!"
Cup!
Marisa dengan cepat mencium pipi Kenzo, dan menarik kembali dirinya menjauh dari suaminya secepat mungkin.
"Sudah, kan?" ucapnya, dengan pipi yang sudah memerah.
"Aku ini bukan anak kecil, ciuman macam apa yang kau lakukan tadi?" jawab Kenzo dengan wajah tidak puas, yang sangat kentara di wajahnya.
"L-lalu?"
"Cium aku, di sini!" Kenzo menunjuk bibirnya.
Bayang-bayang adegan semalam pun, kembali melintas di otak Marisa.
"E-ekhem!" dehemnya untuk menetralkan degup jantungnya.
Ciuman ala anak TK pada ibunya, berubah menjadi ciuman penuh gairah. Tanpa terasa, Marisa mulai terbuai dan mengikuti permainan Kenzo.
Mereka saling bertukar saliva, lidah mereka saling melilit, menikmati ciuman panas itu.
Marisa menarik diri, dan mengakhiri ciuman itu, "Kau bisa telat meeting. Sudah sana berangkat!" Marisa mendorong tubuh Kenzo keluar dari kamar mereka.
"Baiklah, aku berangkat dulu," Kenzo mencium kening Marisa dengan penuh cinta, "I love you."
"Bye!" Marisa malah menutup pintu kamar mereka, tanpa membalas kata-kata Kenzo.
Dia menyandarkan punggungnya pada daun pintu, sambil mengusap-usap dadanya yang masih bergemuruh.
"Ya ampun... morning kiss yang mengerikan!" gumamnya. Namun tak bisa dia pungkiri, dia sangat menyukai dan menikmatinya.
Di lantai bawah, Arka sudah menunggu mereka sejak tadi.
Tak...
Tak...
__ADS_1
Tak...
Suara langkah kaki menuruni tangga, membuat Arka mengalihkan pandangannya ke arah suara itu.
"Bagaimana semalam?" tanya Arka sembari menaik turunkan alisnya.
"Apanya yang apa?" jawab Kenzo datar, sambil menahan kekesalannya karena Arka malah membuatnya kembali mengingat kejadian semalam.
"Aku kan sudah menyiapkan kejutan untuk kalian... apa tidak ada sesuatu yang indah, terjadi?!" tanya Arka dengan wajah tidak percaya.
"Aku menyuruhmu, menyiapkan piyama. Tapi kau mengisi lemarinya dengan berbagai macam, lingerie! Aku belum membuat perhitungan tentang itu, denganmu! Dan satu lagi, aku tidak menyuruhmu merubah kamarku menjadi kamar pengantin. Jadi kenapa kau melakukannya?" tanya Kenzo dengan senyum kaku yang membuat Arka bergidik.
"Ya... ya... kan aku kira kalian akan..." Arka memperagakan hal yang dia maksud denan kedua tangannya.
"Banyak bicara! Cari tiket untuk pulang, malam ini juga! Jika kau tidak mendapatkannya, maka bersiaplah pindah ke hutan Amazon."
"Hah!? Yang benar saja...!? Dasar teman lucknut menyebalkan!" batin Arka meronta, "Baik, tuan muda!" ucap Arka dengan penekanan.
"Kau mengutukku dalam hati, Arka?"
"A-apa?! Bagaimana mungkin aku mengutukmu, dalam hati... kau ini kanaoa sembarangan bicara?" kilah Arka.
"Sebaiknya benar-benar begitu."
Kenzo pun melanjutkan langkahnya, menuju ke mobil miliknya yang sudah bersiap.
"Huft... aman..." gumam Arka sambil mengelus dadanya.
Kemudian Arka pun menyusul Kenzo untuk masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju, menuju tempat Kenzo dan kliennya akan bertemu hari ini. Yaitu sebuah restoran seafood, yang cukup terkenal di sana.
Sedangkan di sisi lain...
"Mar, lo... nggak apa-apa kan?" tanya Johan dengan hati-hati.
Dia mendudukkan dirinya di sebelah Maria. Namun tak seperti biasanya, mereka tak banyak bicara hari ini.
"Aku baik-baik saja," ucap Maria lirih.
"Sungguh? Tapi sepertinya kau tidak baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja, Johan! Aku baik-baik saja!" seru Maria tiba-tiba. Johan pun terkejut mendengar Maria semarah itu padanya.
"Maafkan aku Maria, maafkan aku. Aku tidak akan bertanya lagi, maafkan aku," Johan membawa tubuh Maria, dan memeluknya dengan erat.
Buliran bening pun, mulai terjatuh dari sudut mata Maria. Membuat hati Johan seolah hancur, kala melihat wanita yang memiliki tempat spesial di hatinya dalam keadaan seperti itu.
"Ini semua salahku, Maria. Ini salahku, aku benar-benar minta maaf," batin Johan, seraya mengusap lembut puncak kepala Maria.
__ADS_1
Tangis Maria pun semakin menjadi. Entah masalah apa yang melandanya, namun yang jelas masalah itu bukanlah masalah yang ringan. Masalah yang bisa membuat orang sekuat dan setegar Maria, bisa menangis sampai seperti ini, tentu saja bukanlah hal sepele.
Johan manatap Maria dengan tatapan yang sangat sulit untuk di artikan.