
Jangan lupa dukungannya guys😘
...*******...
Di malam harinya, Johan pun datang. Dia yang baru pulang dari Jepang, langsung mengunjungi Maria tanpa terpikirkan untuk pulang ke rumahnya lebih dulu. Yang ada di pikirannya hanyalah, Maria dan calon buah hatinya.
Benar, anak di dalam kandungan Maria adalah bibit unggul milik Johan. Itu terjadi karena sebuah kecelakaan, yang terjadi saat Maria datang ke rumah Johan waktu itu. Tapi dia tidak tau, jika Johan sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, alias mabuk. Dan alhasil terjadilah malam panas yang membuahkan hasil itu.
"Kau datang?" Marisa yang memang sengaja menunggu Johan datang pun segera berdiri, saat orang yang di tunggunya itu datang.
"Ya, pulanglah. Kau juga butuh istirahat, suamimu juga sudah terlihat sangat lelah. Dia tertidur di depan," ujarnya. Marisa pun mengangguk, kemudian berjalan melewati Johan.
"Jaga dia, jika ada apa-apa hubungi aku secepatnya."
Johan pun mengangguk, kemudian duduk di samping ranjang Maria. Dia menggenggam tangan wanitanya itu dengan erat. Dia begitu menyesal. Menyesal karena tak bisa melindungi orang yang dia cintai, menyesal tak berada di sampingnya saat seharusnya dia lah orang pertama yang ada di saat Maria butuhkan.
Dia mengusap perut Maria sambil bergumam, "Tunggu ayah, nak. Ayah akan segera mengembalikan semua yanh akan menjadi milikmu. Ayah akan memberi kalian kehidupan yang seharusnya. Ayah tak ingin kalian hidup susah, ayah mencintai kamu dan ibumu."
Johan mencium perut datar Maria. Bukan dia tak ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan. Tapi ia perlu menyelesaikan urusannya lebih dulu, agar kehidupan keluarga kecilnya nanti aman dan nyaman, tidak seperti dirinya.
"Kehidupan yang seharusnya itu, yang seperti apa?"
Johan begitu terkejut, saat dia menatap Maria yang ternyata sudah terbangun sedari tadi. Dia juga mendengar apa yang Johan katakan.
Johan pun bingung dengan apa yang harus dia katakan, dia benar-benar tak bisa menjelaskan semuanya saat ini. Semuanya terlalu rumit, terlalu sulit untuk di jelaskan. Yang jelas, dia melakukan semuanya untuk Maria dan calon anaknya.
"Kenapa? Apa kau tidak mau memberitahuku? Apa benar yang kau katakan tadi, kalau kau mencintaiku? Lalu kenapa? Kenapa sesulit itu hanya untuk berkata jujur?"
__ADS_1
Johan mengehela nafas panjang, untuk menenangkan hati dan pikirannya. Dan akhirnya Johan memantapkan diri untuk mengatakan semua hal pada Maria, tentang semuanya tanpa terkecuali. Tentang siapa dirinya, tentang apa yang terjadi, juga masalah apa yang harus dia selesaikan sebelum dia memperkenalkan Maria di deoan semua orang sebagai wanitanya.
Maria mendengar cerita Johan dengan tidak percaya. Dia benar-benar tidak mengira bahwa kisah hidupnya menjadi semakin rumit, serumit drama sinetron. Maria mengusap kasar wajahnya, menatap Johan dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Jadi itu alasannya? Jadi selama ini aku bahkan tidak mengenal siapa dirimu, Jo?" Maria menghela nafas panjang, membuat Johan merasa bersalah.
Bukan niatnya menyembunyikan semua ini dari Maria, tapi apalah daya, dia harus melakukannya untuk membuat rencana yang sudah dia susun matang bertahun-tahun itu berhasil. Dia hanya ingin mendapatkan kembali semua hal yang seharusnya menjadi miliknya, hanya itu.
"Maaf," hanya satu kata itu saja yang ada di otaknya dan yang bisa dia katakan.
"Sudahlah, semua juga sudah terjadi. Jalani saja semuanya, aku akan mendukungmu apapun yang terjadi. Ehm... maksudku kami, aku dan anak kita." Maria mengusap perut datarnya.
"Aku akan menikahimu, besok. Tapi kita hanya bisa menikah secara diam-diam, hanya ada aku, kau, dan Marisa."
"Di sini? Di rumah sakit?" tanya Maria dengan wajah kagetnya.
"Terserah kau saja, tapi Marisa pasti akan memberitahu Kenzo juga. Lagipula Kenzo juga tau semuanya, tidak masalah kan?"
"Tak apa."
Johan mengecup lembut kening Maria sambil mengusap pelan perut, dimana calon penerusnya berada. Dia bahkan berbicara dengan calon anaknya, seolah menganggap anak itu bisa mendengar dan memahami apa yang dia katakan.
Maria tersenyum bahagia. Setidaknya dia tau, jika calon suaminya mencintainya dan akan menikahinya bukan karena terpaksa. Karena dia juga tak bisa membohongi perasaannya pada Johan, perasaan yang spesial meskipun dia belum yakin jika itu adalah cinta dan bukan perasaan antar sahabat semata.
Johan menemani Maria semalaman. Bahkan kantung matanya sampai punya kantung mata lain, karena dia tak tidur sama sekali. Pasalnya Maria mengalami demam semalam, dan dia terus mengompres dan mengelap keringat wanitanya itu dengan telaten dan sabar.
"Astaga!" Marisa terkejut kala melihat wajah Johan yang begitu mengerikan.
__ADS_1
Dia pun menanyakan apa yang terjadi. Dan Johan menjelaskan kepada Maria semalam, dan membuat Marisa marah karena Johan tak mengabarinya. Tapi sejujurnya dia terharu dengan perhatian Johan pada kakaknya, dan dia semakin yakin jika Johan adalah orang yang tepat untuk Maria.
"Selamat calon keponakan, kau memiliki ayah yang baik, tapi sayangnya ibumu galak," celoteh Marisa sambil berbisik di depan perut Maria.
"Hey hey hey jangan ajarin keponakan lo jadi gak ada akhlak kayak lo ya! Enak aja!" gerutu Maria.
Namun hal itu justru membuat semua orang tertawa karena tawa Maria membuktikan jika keadaannya sudah membaik. Entah itu keadaan tubuhnya maupun hatinya, dan hal itu membuat Marisa lega. Akhirnya senyum ceria sang kakak pun kembali seperti sedia kala.
"Mar, hari ini gue sama Maria mau nikah. Suami lo ikut juga ke sini kan?"
"Hah? Nikah? Seriously? Kenapa dadakan banget ege!?"
"Lo tau kondisi gue Mar."
Marisa menghela nafas panjang, "Ya, suami gue ikut. Dia lagi beli sarapan di kantin, tapi kalo emang kalian mau nikah. Tante Mentari dan ayahnya Arka harus datang."
"What!?" seru Johan dan Maria bersamaan.
Mentari? Siapa dia? Itulah yang ada di dalam kepala dua orang itu. Kenapa mereka harus ada di sana, di pernikahan yang ingin mereka lakukan secara rahasia?
"Kemarin gue belum ngasih tau lo, karena kondisi lo belum stabil." Maria bersiap menjelaskan semuanya pada Maria
Maria mendengarkan semuanya dengan kepala yang penuh dengan pertanyaan yang terus berlalu-lalang. Terlalu banyak hal baru dan mengejutkan yang ia terima hari ini. Mulai dari kebenaran yang Johan katakan, dan kini di tambah dengan kemunculan keluarga yang tak pernah dia tau, bahwa mereka ada.
"Jadi, kita masih punya om dan tante, juga keponakan yang kembar juga!?" serunya setelah Marisa selesai menjelaskan semuanya.
Dan pada saat yang sama, pintu pun terbuka dan menampakkan 5 orang yang sudah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang berbeda-beda.
__ADS_1