My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 83


__ADS_3

Setelah memutuskan sambungan teleponnya dengan Samudra, Marisa pun menghubungi Johan. Kenapa Johan? Tentu saja karena Marisa tidak ingin Maria takut dan panik.


"Halo."


"Jo, Maria lagi sama lo kan?"


"Iya, kenapa?"


"Sekarang lo nyetir agak cepetan ok? Semampunya mobil tua lo itu! Tapi jangan kasih tau Maria!"


"Hah? Emang kenapa?"


Maria hanya menatap bingung pada Johan.


"Intinya ada orang yang ngikutin kalian. Tapi detailnya gue bakal ceritain nanti," ucap Marisa.


Johan pun melihat ke spion mobilnya. Dan benar saja, mobil yang kemarin sempat mengikuti mereka kini kembali mengikuti mereka lagi.


"Mar, lo pake sabuk pengaman lo gih. Cepetan!"


"Lah... emangnya kenapa dah? Biasanya juga gue jarang pake nih seat belt."


"Gue mau ngebut!" ucapnya.


"Sekate-kate lo kalo ngomong! Ngebut-ngebut apaan? Gue masih nyawa gue weh!"


"Justru karena gue juga sayang nyawa gue makanya gue harus ngebut."


"Lah? Apa hubungannya, kampret...?!'


"Gue udah di ujung ini...! Panggilan alam! Makannya buruan pake!"


"Ok! Kenapa nggak bilang aja dari tadi kalo lo mau boker!? Ribet amat, heran..." cibir Marisa dengan bibir manyunnya.


"Sesuai kata-kata bijak author. Jika bisa ribet, kenapa harus simple?" canda Johan.


"Soalnya kalo simple ntar nggak seru, yekan...?" Maria memutar jengah bola matanya menanggapi candaan Johan yang receh itu.


Johan pun menginjak pedal gasnya, hingga kecepatan penuh. Namun laknatnya, mobil tua bisa apa bos? Mobil Johan pun akhirnya sakaratul maut.


Grek!


Kret!


Asap pun mengepul dari bagian mesin mobil Johan.


"Ya ampun Jojo...! Orang sama mobil sama aja! Sama-sama dodol! Bisa-bisanya itu mobil sakaratul maut di saat genting kayak gini...!" batin Marisa, yang sudah melihat kepulan asap dari mobil Johan meskipun jarak mereka masih agak jauh.


"Aduh Jo...! Ini mobil lo udah kolaps, ege! Berhenti napa!?" seru Maria.


"Haduh, Bejo...! Ngapain lo pakai kambuh di saat kayak gini sih?!" geram Johan yang terpaksa menghentikan mobilnya.

__ADS_1


Karena jika terus di paksakan, bisa di pastikan kalai mobil Johan akan berakhir menjadi besi rongsok setelah ini.


Mobil Johan pun akhirnya menepi, dan mobil yang sedari tadi mengikuti mereka pun juga ikut berhenti.


"Akhirnya kita akan bertemu lagi, Agatha," gumamnya sambil membuka pintu mobilnya.


Namun saat baru saja dia akan melangkah maju untuk menghampiri Maria. Dari arah belakang, Marisa yang masih mengenakan helmnya menarik pria itu dengan paksa.


Maria yang merasa mendengar suara pun menoleh ke arah mobil di belakangnya, tapi tidak ada orang di sana.


"Siapa kau?!" serunya.


"Kau tidak perlu tau siapa aku, hanya aku yang perlu tau siapa kau!" jawab Marisa yang sengaja mengubah suaranya. Karena jika tidak, pria itu pasti akan langsung mengenalinya.


"Jangan suka ikut campur urusan orang lain!" serunya yang langsung mengarahkan tinjunya pada Marisa.


Dengan cepat Marisa bisa mengelak dar pukulan itu.


"Cih! Ternyata punya sedikit kemampuan? Jadi mari bersenang-senang!" senyum devil terbit dari wajahnya.


Dia kembali melayangkan beberapa pukulan dan tendangan ke arah Marisa, namun Marisa dengan sangat apik menghindari semuanya.


"Jadi kau hanya bisa mengelak seperti belut?!" sarkasnya.


"Sesuai permintaanmu!"


Bugh!


Bugh!


Pria itu pun terdorong mundur beberapa langkah karena pukulan dan tendangan Marisa yang mengenainya.


"Cuih! Sial...!" serunya sambil meludahkan darah yang keluar akibat ujung bibirnya yang sobek akibat pukulan Marisa.


"Bagaiamana? Masih bisa lanjut? Atau perlu waktu break?" tanya Marisa dengan nada mengejek.


"Sialan...!" dia kembali menerjang maju dan memukul Marisa.


Bugh!


Dari beberapa pukulan dan tendangan itu, satu tendangan berhasil mendarat di perut Marisa.


"Argh!" seru Marisa kala tendangan itu mengenainya.


Namun Marisa yang sudah terbiasa dengan hal itu pun, segera kembali membalas satu tendangan itu dengan beberapa pukulan dan sikutan.


Dan alhasil...


"Tunggu saja pembalasanku!" serunya dan kemudian pergi dari sana dengan wajah yang sudah babak belur.


"Haish... sayang sekali wajah tampanmu itu harus babak belur. Tapi itu kau yang memintanya sendiri," ucap Marisa seraya melepaskan helmnya.

__ADS_1


Rambut panjangnya yang berada di dalam helm sedari tadi pun terurai saat helm itu di lepas.


"Astaga, Markonah! Gue hampir lupa sama dia." Marisa menepuk jidatnya pelan, dia pun segera berjalan kembali ke motornya.


Kemudian dia melakukan kembali motornya dengan kecepatan rendah, dan lewat di depan Marisa seolah sebuah kebetulan.


Marisa menghentikan motornya dan menghampiri Maria.


"Jo, Mar, kalian ngapain di sini?" tanyanya.


"Marjan? Lo juga ngapain di sini?" tanya balik Maria.


"Ya gue kan baru pulang kerja, Markonah..."


"Oh iya gue lupa," ucapnya sambil nyengir kuda.


Sedangkan Johan hanya menatap Marisa dengan tanda tanya besar di kepalanya. Siapa orang itu? Apa tujuannya? Apa hubungannya dengan dengan Maria? Dan apa Marisa mengenalnya? Berbagai macam pertanyaan memenuhi kepalanya, tapi satupun tak bisa dia tanyakan pada Marisa untuk saat ini.


"Mobil lo kenapa Jo? Sekarat?" tanya Marisa mengejek.


"Kayaknya iya. Tapi mungkin malaikat maut nggak tega ngambil si Bejo dari gue." Jawabnya dengan guyonan.


"Dasar orang aneh. Mana ada orang namain mobil kayak namain burung. Bejo? Nama macam apa itu? Nggak bermutu nggak bermerek." ejeknya.


"Hello...w sadar woy! Lo sendiri namain motor lo Tama. Kelamaan jomblo lo, kurang belain cowok makanya namain motor lo kayak gitu!" ejek balik Johan pada Marisa.


"Seenggaknya nama motor gue masih epic, masih bagus. Nggak kayak punya lo yang udah kayak nama burung! Bweek...!" Marisa menjulurkan lidahnya mengejek Johan.


"Udah kelar?" tanya Marisa pada dua makhluk absurd di sampingnya itu.


"Hehe..." kekeh keduanya, saat melihat wajah kesal Maria.


"Bisa nggak sih kalian nggak usah ribut?! Mending pikirin nih, kita mau gimana?"


"Ya udah lo pulang sama gue aja, ribet amat!" sahut Marisa.


"Terus gue...?" seru Johan.


"Hm... lo bisa jalan kaki, ngerangkak, ngesot, atau merayap juga boleh!" ujar Marisa, "Lagian lo itu bodoh apa bodoh banget sih Jo...? Jaman now, lo masih bingung cari kendaraan? Sekarang itu udah ada gojek, grab, taksi juga banyak ege! Kalo lo mau naik bajai juga ada! Ngapain lo bingung, Bambang!"


"Ya terus si Bejo gimana Marjan...?"


"Mau gue bantu nguburin si Bejo?"


"Sialan lo! Itu aset gue satu-satunya ege!"


"Lagian lo telmi banget sih Jojo... lo kan bisa telpon orang bengkel buat ambil mobil antik lo lni..." sahut Maria yang sudah tidak tahan lagi dengan debat dua makhluk dunia lain itu.


"Udah yok Mar, naik." Ajak Maria.


"Ya udah Jo, gue duluan ya... gue udah pesenin taksi online kok buat lo, bye Jo."

__ADS_1


__ADS_2