My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 74


__ADS_3

"Ada sesuatu yang lo sembunyiin dari gue kan?"


Deg!


Marisa sedikit tersentak saat mendengar pertanyaan yang Maria lontarkan untuknya, "Sial! Gue harus jawab nih?" batinnya.


"Gue tau, nih. Lo pasti ada main kan sama bos lo itu?" Maria berjalan memutari Marisa dengan langkah pelan, "Udah gue duga! Nggak mungkin kalo nggak ada sesuatu antara lo sama bos lo itu, nggak mungkin kan dia tiba-tiba marah gitu cuma gara-gara liat gue yang dia kira itu lo, lagi jalan sama cowok."


"Hah? Ya ampun nih si somplak! Gue kirain dia beneran tau sesuatu, tapi dia malah bahas gue sama si Muktar?" batin Marisa yang merasa lega, "Gini ya Markonah, gue kasih tau sama lo. Gue sama si Muktar itu gak ada apa-apa, dan nggak akan pernah ada apa-apa! Sampai sini paham?"


"Dih! Sok banget lo anjir, gimana kalo kita taruhan?"


"Hah? Lo ngajakin gue taruhan? Lo yakin? Inget ya Markonah... lo aja belum pernah menang dari gue, dan sekarang lo ngajakin gue taruhan lagi?"


"Helleh! Takut? Bilang bos!" ejek Maria.


"Weeesh... tunggu dulu Ferguso! Siapa bilang gue takut, apa taruhannya?"


"Ok! Jadi taruhannya kalo lo ada sesuatu sama si bos lo itu, lo harus jadi babu gue selama 1 bulan full! Dan begitu juga sebaliknya, kalo lo beneran gak ada apa-apa sama itu orang... gue yang bakalan jadi jongos lo selama satu bulan full! Gimana? Deal or no deal?!"


"Ok! Deal!" mereka pun kemudian berjabat tangan, "Udah ah, gue mau mandi dulu. Bye!"


"Ya udah sono lo mandi! Udah batek tau gak sih?"


"Enak aja bilang gue batek! Lo tu yang batek, dasar Markonah! Bweek..." Marisa menjulurkan lidahnya pada Maria dan bergegas untuk mandi.


"Dasar anek lucknut!"


"Lewat lima minute je...!" seru Marisa dari jauh yang ternyata masih mendengar umpatan Maria.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain...


"Dok, bagaimana keadaannya?"


"Pasien hanya mengalami luka ringan, tapi emosi pasien sedang tidak stabil. Jadi mohon untuk tidak membuat pasien marah, dan jika bisa tolong ikuti semua kemauannya atau akan ada kemungkinan pasien mengalami stres berat."


"Astaga... sebenarnya apa yang terjadi?! Jika aku menemukan orang yang membuatmu seperti ini, aku akan melenyapkan orang itu!" setelah menetralkan emosinya, pria itu pun masuk ke dalam kamar pasien.


Pagi harinya...


Drtt...


Drtt...


Drtt...


"Sam? Ngapain dia telepon gue pagi-pagi gini?" batinnya.


"Halo? Ada apa Sam?"


"Halo Ta, gue udah nemuin siapa pemilik mobil itu."


"Cepet juga kerjaan lo. Siapa orangnya?"


"Namanya Raisa, Raisa Brigitha Wilson. Anak tunggal dari—"


"Cukup. Gue tau siapa dia, sekaligus apa motifnya."


"Eh? Lo ada masalah sama tuh anak, Ta?"

__ADS_1


"Ehm... di bilang masalah sebenernya bukan masalah, tapi mau di bilang bukan masalah tapi nyatanya beneran jadi masalah."


"Ta... Marisa Agatha William, bisa nggak sih lo kalo ngomong itu nggak usah pakai bahasa alien? Pakai aja bahasa manusia, biar gue ngerti dan nggak harus pakai mikir panjang kali lebar kali tinggi kayak rumus volume balok, ok?"


"Ya... ya... ya... intinya gini, dia cemburu sama gue."


"Hah? Cemburu?"


"Ya, cemburu. Dia suka sama bos baru gue, dan seperti yang lo tau. Gue udah biasa jadi tameng hidup buat ngadepin ulet keket kayak itu bocah, dan jengjeng...! Dia dendam sama gue, dan pengen bunuh gue."


"Ya ampun, Ta. Bisa nggak sih lo tuh nggak usah cari-cari masalah mulu?! Masalah lo itu udah bejibun, you know!? Mana lo nyusahin gue mulu lagi!"


"Hehe... Samudra Pasifik yang ganteng, baik hati, dan tidak sombong... lo bisa nggak sih, kalo bantuin gue itu yang ikhlas. Ikhlas itu berarti lo nggak boleh pamrih dan juga nggak boleh-boleh ungkit-ungkit, ok?"


"Sialan, lo Ta! Bisa nggak sih lo nggak usah ganti-ganti nama gue seenak udel lo?! Nama gue itu udah cakep-cakep ya, Samudra Arga Lucifer! Bukan Samudra Pasifik, hindia, arktik, dan kawan-kawan!" umpatnya, "Lo bener-bener belum pernah di ***** banci, lo ya!?"


"Di ***** banci? Ehm... kayaknya emang belum pernah sih, ***** gue gih biar gue tau rasanya di ***** banci."


"Kok lu nyuruh gue—" kalimat Sam pun terjeda kala dia menyadari sesuatu, "Sialan lo! Jadi maksud lo gue bancinya gitu!?"


"Eits! Eits! Eits... jangan asal tuduh dulu, Bambang. Emang gue ada bilang kalo lo itu banci?"


"Ehm... ya enggak sih tapi kan—"


"So, lo sendiri yang bilang kalo lo itu banci. Bukan gue."


"Tapi kan—"


Tut...

__ADS_1


Tut...


Tut...


__ADS_2