My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 17


__ADS_3

..."Bahagia itu sederhana, tapi yang sulit adalah saat kalian menetapkan standar kebahagiaan kalian di atas rata-rata."...


...By: Rosemarry...


...******...


"What!? Kenapa lo malah jadi marahnya ke gue sih Ra? Gue kan cuma kasih saran aja, lagian percuma juga lo mondar-mandir kayak gitu nggak ngebuat si Kenzo lo itu tiba-tiba nongol di sini kaya jin tomang kan?"


"Udah deh, mendingan lo diem aja!" bentak Raisa pada Della.


"E buset! Napa si Cumi malah jadi marah-marah sama gue yak!?" Tanya Della yang tentu saja hanya dalam hati, mengumpat Raisa yang baru saja memarahinya itu.


"Cih!! Si Della ngapain juga sih ladenin si Cumi, jadi kena omel kan dia." Batin gadis bernama Stevy, yang juga ikut kesal karena melihat Della di marahi oleh Raisa seperti itu.


"Kalo aja kita berdua tuh nggak butuh lo, nggak akan kita mau deket-deket sama lo, dasar Cumi!" Umpat Della dalam hatinya.


Yup, Stevy dan Della hanya memanfaatkan Raisa saja. Mereka berteman dengan Raisa karena bagi mereka, Raisa adalah ATM berjalan tanpa limit yang bisa mereka gunakan kapan saja.


Bagaimana tidak? Setiap kali mereka bertiga belanja, makan, jalan-jalan, dan lain-lain selalu saja Raisa yang keluar uang.


Dan hal itu membuat Stevy dan Della selalu membiarkan apapun yang Raisa lakukan, dan bersabar dengan sikap bossynya.


Mereka berdua selalu memanggil Raisa dengan sebutan Cumi, saat mereka tidak sedang bersama dengan Raisa.


Yup, Cumi alias cucah mingkem. Karena Raisa adalah tipe gadis yang sangat bawel, itulah kenapa mereka menjulukinya seperti itu.


"Para hadirin sekalian!"


Terdengar suara sang pembawa acara yang sudah memulai acara yang di selenggarakan di lantai dasar hotel mewah itu.


"Astaga! Acaranya udah mulai lagi, calon suami masa depan gue itu kemana sih?!" Gumam Raisa yang kembali mondar-mandir tidak karuan kesana kemari.


"Cih! Dasar Cumi kepedean! Benar-benar nggak punya malu, padahal si Kenzo itu udah jelas-jelas nggak suka sama lo, dodol!! Masih aja kepedean manggil dia calon suami masa depan lo, dih najis tralala!" Ejek Stevy dalam hatinya.

__ADS_1


Dia sangat mengerti kalau selama ini Kenzo selalu berusaha menghindar dari Raisa, namun Raisa seolah tak punya lagi urat malu.


Mungkin saja urat malu seorang Raisa Brigitha Wilson itu sudah putus, hingga membuatnya terus saja mengejar Kenzo dengan gigih.


"Ayo Ra kita turun, ntar bokap lo nyariin lo lagi, bisa kena marah lo ntar!" ajak Della pada Raisa.


"Ya udah deh ayo, dari pada ntar bokap gue marah-marah." Raisa pun berjalan menuju tangga untuk turun ke lantai dasar gedung itu, dimana acara ulang tahunnya di selenggarakan.


"Mari kita sambut bintang kita hari ini, nona Raisa!"


Ucap sang pembawa acara sambil menatap ke arah tangga, dimana Raisa sedang berjalan turun dengan anggunnya, di temani oleh kedua temannya yang berjalan tepat di belakangnya.


Prok! Prok! Prok!


Terdengar suara riuh tepuk tangan para tamu undangan yang hadir di sana, saat melihat Raisa yang tampak sangat cantik, dengan balutan gaun berwarna merah maroon itu.


"Dan mari kita sambut tuan Gerald Wilson untuk naik ke atas panggung dan memberikan sambutan."


Gerald pun naik ke atas panggung dan mulai memberikan sambutan.


"Selamat malam para tamu undangan, pertama-tama saya ucapkan terimakasih atas kesediaan kalian semua untuk memenuhi undangan ulang tahun anak saya, Raisa. Saya harap kalian semua menikmati acara malam ini, terimakasih."


"Terimakasih tuan Gerald atas sambutanya, dan sekarang nona Raisa, silahkan naik ke atas panggung dan memberikan sambutan."


******


Kini mobil Kenzo pun akhirnya sampai di tempat tujuan mereka, mereka pun segera turun dari mobil dan bersiap masuk ke dalam gedung, di mana acara ulang tahun Raisa di selenggarakan.


Saat mereka turun dari mobil, karpet merah pun sudah membentang di sana, yang memang di persiapkan untuk menyambut para tamu.


"Huft! Calm down Marisa, you can do it! Tarik nafas... Buang! Tarik nafas... Buang!"


Marisa yang berusaha tenang untuk melakukan pekerjaannya, meskipun jantungnya masih dag dig dug der jika harus kembali berdekatan dengan Kenzo setelah kejadian tadi.

__ADS_1


"Hey, Bebek Kuning! Apa yang sedang kau lakukan di situ? Apa kau menungguku untuk menggendongnu masuk ke dalem sana, agar lebih mendramatisir keadaan?!" Kenzo menatap Marisa yang tidak kunjung menghampirinya.


"Iya! Iya! Tunggu sebentar bos, Kata nenek moyang saya, orang sabar itu pantatnya lebar!" Marisa pun berjalan memutari mobil dan menghampiri Kenzo, setelah itu mobil pun kembali berjalan meninggalkan mereka bertiga.


Kenzo melipat satu tanganya, menunggu Marisa untuk menggandengnya dan masuk ke dalam sana bersama, agar terlihat benar-benar layaknya pasangan sungguhan.


"Huft! Saatnya menyingkirkan para cadas alias cabe pedas itu dari anda, bos!"


Setelah menggandeng lengan Kenzo, Marisa dan Kenzo pun melenggang masuk ke dalam gedung itu dengan anggunnya.


Saat mereka sampai di depan pintu, tatapan para tamu undangan pun teralihkan pada mereka dan melupakan sang bintang utama hari ini, yang tak lain adalah Raisa.


"Haish! Beginilah nasib jadi cewek cantik, kemana-mana selalu jadi pusat perhatian." Marisa yang berusaha untuk sedikit mencairkan suasana tegang, yang sejatinya kini sedang melanda dirinya.


"Aku bingung denganmu, dari mana sih datangnya rasa percaya dirimu yang melebihi batas wajar itu?" Tanya Kenzo.


"Entahlah! Mungkin itu salah satu kelebihanku, bos. Kelebihan rasa percaya diri itu juga sebuah kelebihan kan?" jawab Marisa yang tak lepas dari bumbu-bumbu candaan gopek alias recehnya.


"Dasar Bebek Kuning narsis!" Ejek Kenzo.


Namun tanpa dia sadari sudut bibirnya itu sedikit terangkat, dan membentuk sebuah senyuman yang tampak sangat tulus yang jarang atau bahkan sama sekali tidak pernah dia perlihatkan.


"Apa gue berhalusinasi? Tadi itu Kenzo senyum kan, apa jangan-jangan besok matahari terbit dari barat?" Batin Arka saat melihat bosnya yang sedingin kulkas 5 pintu itu tersenyum.


Arka yang sudah mengenal Kenzo luar dalam itu pun, bingung, kaget, dan tidak percaya.


Dia sudah berteman dengan Kenzo sejak masih kecil, dan dia belum pernah sama sekali melihat senyum seorang Kenzo.


Dan barusan dia melihat Kenzo tersenyum? Tentu saja dia merasa sangat bingung, tadi itu hanya halusinasinya, atau memang gunung es itu sudah mulai mencair?


Raisa yang tadinya baru saja akan melangkahkan kakinya ke atas panggung, justru di kejutkan dengan hal yang membuatnya membelalakkan mata.


"Itu!?"

__ADS_1


__ADS_2