My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 54


__ADS_3

...Waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah bisa lagi di ulangi...


...Layaknya air yang kai sentuh di aliran sungai...


...Air itu akan mengalir dan tidak akan pernah kembali lagi untuk bisa kai sentuh sekali lagi....


...By : Rosemarry...


...*****...


"Aduh mampus gue! Bener-bener kiamat dua belas nih bentar lagi...!" Marisa merasa was-was melihat raut wajah Gio yang amat dingin dengan tatapan matanya yang tajam bak seekor elang.


"Kapan kalian akan menikah?"


Doeng!


Bagaikan ada sebuah gong yang di jatuhkan tepat di atas kepalanya, saat ini nyawa Marisa rasanya sudah tidak lagi berada dalam raganya.


"Menikah? Menikah? Aku? Menikah dengan bosku sendiri?! Tidak...!" jerit Marisa dalam hatinya.


"Pa... apa harus secepat itu? Aku dan Marisa pacaran saja belum lama, pa..." Kenzo berusaha bersilat lidah agar terhindar dari pertanyaan mematikan papanya itu.


"Apa kau pikir setelah apa yang kalian lakukan di pesta itu kalian masih perlu berlama-lama dengan hubungan anak remaja semacam itu?" Gio masih setia memasang wajah dingin dengan nada bicara yang penuh wibawa, dan hal itu pun sukses membuat Marisa merasa semakin tertekan.

__ADS_1


"Sial! Cuma karena cuan gue jadi harus nikah sama si muktar?! Oh ****!! Mimpi apa gue semalem...! Bisa stroke muda gue punya laki mukanya datar kayak gitu!" umpat Marisa dalam hati sambil memikirkan sebuah cara untuk lepas dari jerat pernikahan.


"Tapi pa—"


"Tidak ada tapi-tapian Kenzo, kau tahu kan? Di dunia bisnis, noda buruk sekecil apapun di hidupmu akan sangat berpengaruh pada bisnis dan masa depanmu." Ujarnya yang seketika membuat Kenzo terdiam.


"Sial! Gue harus cepet bertindak nih!" Marisa pun berfikir untuk mengungkap identitasnya yang sebenarnya hanyalah bodyguard Kenzo.


Secara pria kalangan atas seperti Kenzo dan keluarganya yang juga bukan keluarga sembarangan, pastilah tidak ingin mempunyai seorang menantu yang berprofesi sebagai seorang bodyguard.


Dan terlebih lagi dari segi keluarga, Marisa bukan lagi keluarga berada seperti dulu sebelum orang tuanya bangkrut dan menjadi lebih terpuruk kala orang tuanya meninggal.


Jadi Marisa pikir dari segi manapun, tidak mungkin keluarga Kenzo akan menerimanya dan hal itu juga lah yang membuatnya berfikir bahwa, alasan itu adalah alasan yang sempurna.


"Maaf tuan, saya tidak bisa menikah dengannya." Marisa melirik ke arah Kenzo dari ujung matanya.


"Kenapa kau menolak menikah dengan anakku? Bukankah dia pacarmu?" tanya Gio.


"Karena sebenarnya saya hanyalah seorang body—"


"Bodyguard, benar?" sahut Gio yang membuat Marisa dan Kenzo sama-sama membelalakkan mata mereka.


"Papa tau?"

__ADS_1


"Tentu saja, apa kau pikir papa benar-benar akan melepaskanmu begitu saja tanpa pengawasan?" Gio tersenyum smirk pada Kenzo, kemudian beralih menatap Marisa. "Aku tau kalau kau bukan pacar Kenzo, dan kau adalah bodyguardnya. Tapi aku tidak perduli hal itu, karena apa? Karena aku ini bukan manusia purba yang kolot nak... aku tidak membedakan kasta. Apalagi hal yang sudah kalian lakukan itu mempertaruhkan kehormatan keluarga besar Alexander, jadi kau harus menikah dengan Kenzo secepatnya."


Seketika itu juga, Marisa dan Kenzo pun sama-sama tenggelam dalam diam. Mereka tak bisa berkata-kata lagi, setelah ucapan Gio yang tidak bisa lagi mereka bantah.


"Ta-tapi saya tidak bisa menikah secepat itu, saya harus berbicara dulu dengan keluarga saya." Ujar Marisa yang berusaha mengulur waktu, dan memikirkan rencana lain untuk menghindari pernikahan ini. "Lebih tepatnya gue nggak mau si Markonah tau...! Bisa di cincang gue sama dia kalau dia tau gue di paksa nikah sama Kenzo!" sambung Marisa dalam hatinya.


"Baiklah, aku beri kau waktu satu bulan. Tidak lebih."


"Hah? Sa-satu bulan? Apa tidak bisa tambah lagi?" dengan bodohnya Marisa malah melakukan tawar-menawar, layaknya seorang emak-emak yang beli cabe di pasar.


"Baiklah, 2 minggu."


"What?!" seru Marisa.


"Apa masih perlu DITAMBAH lagi, calon menantuku?" tanya Gio dengan senyum devilnya.


"Tidak. Tidak perlu di tambah lagi, 2 minggu sudah cukup." Tolak Marisa dengan cengiran yang dia paksakan.


"Good girl." Gio pun tersenyum kemudian berdiri dari duduknya dan meninggalkan dua manusia yang sedang tidak tau harus berbuat apa itu.


"Bos...? Kenapa kau hanya diam saja? Kenapa tidak menolak...?!" rengek Marisa dengan mata puppy, bibir manyun, dan pipinya yang nampak tembem dengan ekspresi seperti itu.


"Eh? Kenapa dia keliatan imut ya? Jangan-jangan otakku sudah benar-benar bermasalah!" batin Kenzo yang sepersekian detik sempat terpesona dengan ekspresi Marisa yang nampak imut di matanya.

__ADS_1


"Bos? Bos!" Marisa yang kesal karena tak mendapat jawaban pun menepuk pundak Kenzo dengan keras.


"Aww! Sakit!" seru Kenzo, "Kenapa kau menepukku? Apa kau tidak tau kalau tenaga samson watimu itu bisa membuat pundakku hancur?" geram Kenzo mengusap-usap pundaknya karena merasakan sakit.


__ADS_2