
Kini Marisa dan Kenzo sudah berada di depan sebuah rumah yang cukup besar, "Kenapa kita kemari? Kau bilang mau pulang, tapi kenapa malah kesini?" tanya Marisa.
"Kita memang mau pulang, ini rumah baru kita. Aku sudah membelinya sehari sebelum pernikahan kita," ucap Kenzo.
"Astaga...! Kau benar-benar penuh persiapan," ujar Marisa dengan senyum mengejek.
"Hanya resepsi saja yang kurang. Kita akan adakan resepsi yang mewah, jika nenek sudah mengubah pandangannya padamu dan menerimamu. Karena jika itu belum terjadi, maka resepsi akan sulit untuk kita wujudkan," Kenzo menatap Marisa dengan tatapan bersalah.
"Tidak masalah. Lagipula aku ini bukan wanita cengeng yang akan menangis di balik ketiakmu hanya karena restu dari nenek. Aku akan membuktikan, kalau aku tidaklah seburuk yang dia pikirkan. Akan aku buat nenek menerimaku," ucap Marisa dengan percaya diri.
"Baguslah kalau memang kau berpikir begitu," Kenzo tersenyum pada Marisa. Dia memang tidak salah memilih pasangan hidup, "Ayo masuk," ajaknya.
"Ehm."
Marisa dan Kenzo pun masuk ke rumah baru mereka. Desain yang cukup simpel namun terkesan elegan. Tidak sebesar rumah utama, tapi juga tidak bisakah di katakan kecil.
Rumah itu memiliki 3 Lantai. Lantai satu berisi ruang tamu, 2 kamar tamu dengan toilet dalam, dan juga dapur. Di lantai 2 memiliki 2 kamar utama dan ruang kerja. Sedangkan lantai 3 adalah roof top, di sana terdapat berbagai alat olahraga, juga kursi dan meja untuk bersantai.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa kau suka? Jika tidak, maka kita bisa membeli rumah lain, yang sesuai dengan yang kau inginkan," ujar Kenzo dengan entengnya, seolah uang yang dia gunakan itu dia produksi dan cap sendiri.🤣
"Tidak perlu sayang... Rumah ini sudah lebih dari cukup. Bahkan jika orang satu kampung menginap di sini juga masih cukup, ya... meskipun mereka harus tidur berjejer seperti ikan asin yang sedang di jemur," jawab Marisa dengan candaan recehnya, "Lagipula kenapa kau suka sekali membuang uang? Apa kau pikir uang itu bisa muncul sendiri, atau kau sendiri yang memproduksinya? Lebih baik kau pakai uang itu untuk membantu orang yang membutuhkan," sambungnya.
"Ehm... idemu boleh juga. Kalau begitu besok kita pergi ke mall," ucapnya.
"Mall?! Kenapa mall?" Marisa menghela nafas panjang, tidak habis pikir dengan isi otak orang kaya seperti suaminya itu, "Sayangku yang ganteng, baik hati... dikit, dan tidak sombong... tapi boong, kau perlu tau kalau pemilik toko di mall itu tidak termasuk dalam daftar orang-orang yang membutuhkan."
"Lagipula Siapa yang bilang aku ke mall untuk memberikan bantuan pada pemilik toko-toko di sana? Aku mau mengajakmu untuk membeli alat-alat tulis, baju, mainan, atau apapun itu yang sekiranya di butuhkan oleh anak-anak panti asuhan. Dan kita akan berikan pada mereka," jelas Kenzo sembari mencubit hidung Marisa dengan gemas.
"Lagipula siapa suruh kau bicara setengah-setengah? Aku kan jadi gagal paham, bapak negara...!" umpat Marisa dengan suara yang aneh, karena hidungnya yang masih di cubit oleh tangan Kenzo.
"Sedikit apa, hah!?" Marisa sudah memasang kuda-kuda,
"Sedikit... lemot, sepertinya aku perlu merefresh atau menginstal ulang otak istriku."
"Apa!? Beraninya kau mengataiku lemot? Aku tidak lemot, dan aku tidak butuh di refresh seperti komputer, atau di instal ulang! Memangnya aku ini sistem operas?! Aku hanya itu sedikit... ehm... terlalu berhati-hati dalam mengartikan sesuatu, jadi terkesan lebih lama daripada orang biasa," Marisa menunjukkan senyum pepsodentnya.
__ADS_1
"Dasar," Kenzo hanya tersenyum geli dan mengacak pelan rambut Marisa, "Ayo kita lihat kamar baru kita," ajaknya.
Mereka pun naik ke lantai 2 dan melihat-lihat kamar mereka, dan ternyata terasa sangat nyaman. Dinding kaca yang menghadap langsung ke taman bunga yang ada di samping rumah mereka, membuat pemandangan terlihat semakin menyegarkan.
"Waaah... bagus sekali! Ini terlihat persis seperti kamarku du—" seru Marisa yang tidak jadi meneruskan ucapannya.
"Kau tadi mau bicara apa, sayang? Kenapa tidak kau lanjutkan?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin bilang, kalau kamar ini seperti kamar yang aku impikan sejak dulu. Aku sangat ingin memiliki kamar seperti ini sejak dulu," jawabnya sambil tersenyum dan memandangi taman bunga itu dari dinding kaca.
Kenzo pun berjalan mendekati Marisa dan memeluknya dari belakang dengan erat, membuat Marisa sedikit kaget namun akhirnya dia membiarkan Kenzo membenamkan wajahnya di ceruk lehernya.
"Sekarang kau mendapatkan kamar seperti yang kau inginkan bukan? Apa kau bahagia sayang?" tanya Kenzo sambil mengangkat wajahnya.
"Ya, aku bahagia. Sangat, tapi masalah yang Maria dan Ando masih menjadi penghalang untuk kebahagiaan yang sempurna."
"Masalah Maria? Sebenarnya apa masalah yang menimpa kembaranmu itu? Kalau masalah Ando, serahkan saja padaku dan aku jamin semuanya akan beres."
__ADS_1
"Masalah Maria sebenarnya adalah..."