
Kenzo mengepalkan erat-erat tangannya, saat mendapatkan pesan singkat dari Cleric.
"Ando!" geramnya dengan tangan terkepal erat.
"Putar balik, pak Tejo. Kita pergi ke tempat paman Cleric."
"Baik, tuan muda." Tanpa basa-basi, pak Tejo pun memutar arah kemudi menuju tempat Cleric.
Kembali ke tempat Cleric berada.
"Ayah!" serunya saat masuk ke dalam ruangan itu.
"Jangan sekarang, Kara. Sedang ada keadaan genting!" jawab Cleric yang segera menghubungi semua anak buahnya, untuk langsung datang menyerbu markas Ando.
"Keadaan genting apa, ayah? Kau hanya mencoba untuk menghindariku, kan?" tanya Kara tidak percaya.
"Istri Kenzo sedang di culik! Iblis kecil itu membawanya pergi, jika kau tak bisa membantu ayah maka diamlah!" ujarnya.
"Istrinya, Kenzo?"
"Iya kak, istrinya Kenzo namanya Marisa. Dia sedang dalam perjalanan menuju dermaga XX, saat ini," sahut Samudra.
"Terimakasih informasinya adik kecilku. Berikan aku perangkat GPS milikmu, aku akan mengejarnya!" ucap Kara.
"Jangan gegabah, Kara!" seru Cleric.
"Tenang saja ayah, aku akan buktikan kalau aku bisa. Tapi ayah harus janji, jika misiku berhasil kali ini, ayah harus berjanji untuk tidak memaksaku menikah lagi. Bagaimana? Deal?"
"Terserah kau saja!" seru Cleric.
Bukannya dia tak perduli dengan keselamatan Kara, tapi dia memang mengakui kemampuan anak perempuannya itu sangatlah luar biasa. Dan dia memang sedang membutuhkan kemampuan Kara saat ini, karena jika Kara yang datang maka tidak akan terlalu mencolok.
"Ini kak, berhati-hatilah aku akan memberi kakak komando setiap saat."
"Ingatlah untuk tidak membuat sandranya terluka kali ini, Kara. Dia bukan orang lain, dia keluarga kita." Cleric mengingatkan Kara untuk tidak sembrono, seperti yang biasa dia lakukan.
"Kau hanya perlu membebaskannya kak, Marisa juga pandai dalam bertarung," imbuh Samudra.
__ADS_1
"Baiklah, aku berangkat!" Kara melesat meninggalkan markas dengan motor miliknya. Motor yang sudah di desain khusus untuk melakukan misi-misi berbahaya, yang di lengkapi dengan berbagai alat yang super canggih.
Kara melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia mengikuti titik GPS Marisa yang terlihat di jam tangan pintarnya, "Tunggu aku adik ipar, aku akan datang dan membawamu kembali," gumamnya, "Dan untukmu bajing*an mesum! Aku akan menghabismu, nanti!" ucapan yang dia tujukan untuk Ando.
Sebenarnya Kara sangat tidak ingin bertemu dengan Ando, tapi keselamatan Marisa lebih penting dari pada egonya sendiri.
Kenzo sudah memberi Maria kabar, jika Marisa baik-baik saja. Dia mengatakan jika tadi Marisa hampir menabrak kucing di tengah jalan, hingga membuatnya berteriak.
Dia juga memberikan alasan, jika mereka ada urusan mendadak sebentar dan akan menjemputnya setelah urusan mereka selesai. Dia tak ingin Maria panik jika dia tau Marisa di culik, oleh orang yang berbahaya.
Dan Maria harus percaya, karena meskipun dia masih merasa was-was, tapi Kenzo sendiri yang sudah mengatakan hal itu. Dan itu sudah cukup untuk membuat percaya, jika Marisa memang baik-baik saja.
"Marisa... kau harus baik-baik saja! Jika sesuatu terjadi padamu, aku benar-benar tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri!" gumam Kenzo sambil meraup kasar wajahnya.
Dia juga sudah memberitahu ayahnya tentang Marisa, dan sekarang ayahnya juga sedang menuju ke markas besar.
Singkat cerita, semua orang sudah sampai di markas besar.
"Cleric, bagaimana keadaannya?" tanya Gio.
"Kara sudah berangkat ke lokasi. Anak buahku yang lainnya juga sudah menyusul."
"Kak Kara sudah hampir tiba di lokasi." Ujar Samudra yang langsung menarik perhatian semua orang.
Ketiga orang itu pun mendekati Samudra dan menatap layar monitor dengan seksama.
"Ayah, aku juga harus kesana. Pinjamkan aku satu helikoptermu dan pilotnya!" ujar Kenzo.
"Kau bisa ke halaman belakang, Ken. Tadinya aku juga sudah siap mengirim beberapa dari jalur udara, mereka sudah akan berangkat, cepatlah!" ujar Cleric.
"Baik."
Kenzo segera berlari dengan secepat mungkin. Dan akhirnya kini dia sampai di tempat helikopter berada. Di sana sudah ada helikopter yang bersiap untuk mengudara.
Saat Kenzo mengatakan dia akan ikut, seorang bawahan langsung memberikan tempatnya untuk Kenzo.
Kenzo terus berdoa dalam hati, agar tuhan melindungi istri tercintanya. Tapi di satu sisi, dia juga yakin jika Ando tak akan menyakiti Marisa. Karena pria psychopath itu, sepertinya menganggap Marisa sebagai seseorang yang sangat berarti untuknya. Meskipun itu membuatnya kesal, tapi di saat yang sama itu juga membuatnya lega. Setidaknya dia yakin, jika Marisa pasti akan baik-baik saja.
__ADS_1
Motor yang Kara tumpangi pun berhenti di sebuah dermaga, di mana banyak sekali kontainer di sana.
Kara melihat ke arah jam tangan pintarnya, dan mencari titik di mana Marisa berada. Tapi dia juga melihat satu titik merah di jam tangannya, yang berada tak jauh dari titik GPS Marisa.
Kara mengaktifkan alat komunikasinya, dan menanyakan hal itu pada Samudra.
"Itu titi GPS milik Ando, kak."
Setelah mendengar jawaban dari Samudra, Kara pun segera menyusun rencana. Dia memperhatikan sekelilingnya, dan memantau ada berapa banyak bawahan yang Ando siagakan di sana.
Dan ternyata jumlahnya lebih banyak dari yang dia kira. Di setiap titik terdapat 5 orang yang berjaga, dan di dekat tempat Marisa berada bahkan di jaga sekitar sepuluh orang berbadan besar.
"Sial! Banyak sekali, anak buah si iblis itu. Sepertinya aku harus menggunakan jurus andalanku," pikir Kara.
Dengan cepat kara merobek pakaiannya, dan ternyata di dalam pakaian hitam yang tadi dia kenakan, sudah ada gaun cantik yang sangat menawan.
Kara mengoleskan lipstik yang berada dalam liontin kalung yang dia pakai, ke bibir seksinya.
"It's show time."
Kara berlari menuju titik pertama, seolah dia sedang di kejar oleh orang jahat.
"Siapa itu!?"
"Maaf kakak-kakak, aku di kejar oleh orang jahat. Mereka berusaha memperkosaku!" ujar Kara dengan akting yang begitu meyakinkan.
Kelima bawahan Ando pun percaya begitu saja, setelah mereka melihat penampilan Kara yang memang terlihat begitu menggoda. Dan bukan tidak mungkin, jika wanita secantik dirinya akan di ganggu oleh pria-pria hidung belang.
"Dimana orang-orang itu, nona?" tanya mereka.
"Di sana, mereka di sana. Tolong aku, mereka menangkap temanku," ujar Kara dengan air mata buaya betina yang mengalir dari sudut matanya.
"Kalian berdua jaga di sini, dan kalian ikut aku!" ujar salah seorang yang sepertinya adalah pemimpin di tim itu.
"Baik!"
Kara membawa ketiga pria tadi ke tempat dia bersembunyi sebelumnya.
__ADS_1
"Mana orang jahatnya, nona?" tanya mereka setelah sampai, dan tidak mendapati apa-apa.
"Di sini!"