My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 128


__ADS_3

Benar, dia adalah Kenzo dan pasukan yang ayahnya serta Cleric kerahkan.


"Hahaha... pak tua itu ternyata benar-benar menganggap tinggi aku, sekarang? Aku merasa terhormat, tapi aku hanya menginginkan dia!" Ando menatap ke arah Kara, "Aku ingin Kara, dan kau bisa ambil Marisa, bagaimana?" tanya Andi dengan senyum psychopathnya.


"Dasar gila!" seru Marisa.


"Tenanglah, Marisa. Bukankah aku sedang membantumu untuk melihat seberapa besat cinta suamimu itu padamu?"


"Kau gila, Ando! Kau gila!" pekik Marisa.


"Ando, aku bisa membuat namamu menghilang dari daftar buronan, dan kau bisa hidup tenang. Bukankah kau juga sudah menyelesaikan balas dendammu, pada keluargamu?" Kenzo yang sudah mendapatkan beberapa informasi dari Samudra melalui alat komunikasi pun, mencoba untuk bernegosiasi.


"Kau benar. Aku memang sudah membunuh semua anggota keluarga Dewangga sialan itu, tapi menjadi buronan itu menyenangkan. Aku jadi merasa tertantang, jadi tawaranmu sangat tidak menarik."


"Kau membunuh semuanya?" gumam Marisa yang mengingat Harvey.


"Ya, kecuali Harvey. Aku melepaskannya," ujar Ando.


Seketika ads kelegaan tersendiri di hati Marisa.


"Kau benar-benar terlalu baik. Bahkan di saat nyawamu sendiri terancam, kau masih bisa memikirkan orang lain?"


Marisa hanya terdiam, sedangkan dari atas sana, Kenzo kembali berbicara.


"Aku akan menyetujui apapun syarat yang kau minta, tapi tidak untuk Kara."


"Tapi yang aku inginkan hanya, Kara. Dan tadi dia bahkan sudah setuju," ujar Ando dengan seringai devilnya.


Kara memberikan kode pada Kenzo dengan anggukan dan tatapan yang seolah mengatakan, "Percayalah padaku, aku akan baik-baik saja."


"Lepaskan dia, dan aku akan menggantikannya."


"Baik, kemarilah." Ando menyuruh Kara mendekat.


Sedangkan di tempat Cleric saat ini, dia mengepalkan erat-erat tangannya. Dia mendengar semuanya, dari alat komunikasi Kara.


"Jika dia berani melukai Kara, aku akan membunuhnya dengan cara yang paling kejam!" gumam Cleric.


"Tenanglah Cleric, feelingku mengatakan Kara akan bisa mengalahkan iblis kecil itu."

__ADS_1


Kenzo turun dari heli dan berjalan ke arah Marisa.


"Berikan dia padaku, dan Kara akan jalan ke arahmu," ujar Kenzo.


"Aku bukan anak kecil bodoh. Kita tukar bersamaan, tapi sebelum itu, perintahkan semua bawahanmu untuk mundur dan mematikan semua senjata mereka."


Kenzo pun menuruti keinginan Ando.


"Kara, apa kau yakin?" bisil Kenzo pada Kara.


"Serahkan saja padaku. Aku pernah bertemu dengannya sebelum ini, dan dia tak menyakitiku. Setidaknya aku yakin, aku akan aman."


"Baiklah, hati-hati."


Mereka pun menukar Marisa dengan Kara.


"Jangan coba-coba lakukan hal bodoh, atau ak tidak akan segan membunuhnya."


Ando membawa Kara ke kapal yang sudah dia persiapkan, dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Tidak perlu berakting lagi. Aku tau kau tidak akan menyakitiku," ujar Kara dengan santai, seolah dirinya bukanlah seorang sandra melainkan tamu.


"Memang benar. Aku benci pernikahan. Aku tidak percaya cinta."


"Kebetulan aku juga. Tapi aku tidak akan main-main dengan pernikahan, karena itu permintaan terakhir mendiang ibuku. Aku hanya akan menikahi satu wanita, seumur hidup. Dan aku ingin menikahimu. Kita bisa melakukan hal-hal yang suami istri lakukan, hanya saja kita tidak perlu menuntut cinta dari satu sama lain."


"Kedengarannya tidak buruk. Jujur saja, aku menginginkan seorang anak. Tapi aku juga tidak menginginkan seorang suami, yang bisa mengkhianatiku. Jadi pernikahan kontrak sepertinya boleh juga," ujarnya.


"Tidak ada pernikahan kontrak. Kau akan menjadi wanitaku, dan hanya boleh menjadi wanitaku. Kau boleh meninggalkanku, jika aku mengizinkanmu."


"Terserah kau saja. Lagipula aku juga tidak punya banyak pilihan. Jika bertarung satu lawan satu denganmu, aku hanya memiliki keyakinan 50% untuk menang. Tapi jika bekerja sama denganmu, aku bisa terbebas dari ayahku, dan juga bisa mendapatkan seorang anak, seperti yang kuinginkan."


"Jadi, kita akan menikah."


"Deal!"


Perjanjian pernikahan aneh yang mereka bicarakan pun akhirnya membuahkan sebuah kesepakatan yang aneh juga.


Tapi ada sesuatu yang Kara lupakan, yaitu alat komunikasinya.

__ADS_1


Cleric yang mendengar semuanya pun semakin kesal dibuatnya.


"Dasar anak durhaka! Jadi kau lebih memilih kabur bersama musuh ayah, hanya untuk membuatnya ayah menyerah menjodohkanmu!?" geramnya.


"Tenanglah ayah, setidaknya kak Kara sudsh pasti aman."


"Tidak! Biarkan aku bicara dengannya!"


Samudra pun menghubungi Kara.


"Kak,"


Kara dan Ando terkejut mendengar suara itu.


"Kau membawa alat itu?" gumam Ando dengan nada marah.


"Tidak, aku hanya lupa melepasnya."


Kara yang baru saja akan membuang alat itu ke laut, pun urung saat mendengar suara sang ayah.


"Jika kau berani melakukannya, ayah akan mencari kalian berdua, meskipun sampai ke ujung dunia!"


"A-ayah?"


"Kau masih berani memanggilku, ayah?! Kau bahkan merencanakan hal sedetail itu hanya untuk menghindari perjodohan yang ayah atur untukmu!?"


"Jadi ayah mendengar semuanya?"


"Ya. Semuanya! Iblis kecil!" oanggiiyang dia tujukan pada Ando.


"Halo pak tua. Ehm... Maksudku calon mertua..." sapa Ando tanpa rasa takut.


"Aku tidak mau basa-basi! Jangan sakiti anakku, atau akan ku kejar kau meskipun kau sudah berada di neraka!"


Setelah mengatakan hal itu, komunikasi pun terputus.


"Astaga... ayah bahkan tidak mengkhawatirkanku?" gumam Kara tidak percaya.


Dia mengira Cleric tak perduli padanya, meskipun sebenarnya Cleric sangat mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


Bagaimana pun, Kara adalah anak satu-satunya yang dia punya. Meskipun sekarang dia juga memiliki Samudra sebagai anak angkat, tapi Kara tetaplah anak yang sangat dia sayangi.


__ADS_2