
...Jangan lupa like, komen, dan sajennya yaaa bestie...πππ...
...*********...
Di sisi lain...
"Mar temenin gue dong..." rengeknya seperti anak kecil.
"Mau kemana Markonah?"
"Nggak tau kenapa gue pengen banget makan lobster. Temenin gue beli, ya... please," pintanya dengan manja.
Untung saja itu hanya di sambungan telepon, jika saja Maria melakukan itu secara langsung di hadapannya, maka Marisa sudah pasti akan mencubit batang hidung anak itu. Tingkah dan caranya memohon benar-benar seperti anak kecil yang minta di belikan permen, sangat menggelikan.
"Iya iya iya, gue ke sana saja sekarang. Nanti sekalian aja gue yang beliin, lo tinggal makan aja nanti."
"Nggak!"
Bukannya berterimakasih, Maria justru menolaknya dengan tegas. Alasannya, dia ingin makan di tempatnya langsung. Dan lagi bukan tempat sembarangan, dia mau beli yang ada di restoran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatnya bekerja.
Namun saat Marisa baru saja akan memprotes tindakan tidak jelas Maria itu, dia mengeluarkan jurus andalannya. Dia mengatakan jika itu adalah keinginan dari jabang bayinya, calon-calon keponakan Marisa. Jadi mau tidak mau, akhirnya Marisa mengalah dan menuruti keinginan kakaknya itu yang memang sedang dalam keadaan hamil muda.
"Terserah lo aja, asal lo nggak minta yang aneh-aneh aja!" ujarnya.
Dalam hati Marisa berdo'a agar saat dia nanti hamil juga, jangan sampai dia ngidam sesuatu yang aneh bin absurd.
Akhirnya Marisa pun mengendarai salah satu mobil milik Kenzo untuk menjemput Maria ke rumahnya. Maria meminta Marisa untuk menemaninya, karena Johan juga sudah mulai sibuk untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dia butuhkan untuk melancarkan rencananya.
Sebenarnya Marisa lebih suka mengendarai motor kesayangannya, Tama. Tapi mengingat kondisi Maria yang tengah berbadan dua, mau tidak mau Marisa akhirnya memilih untuk memakai mobil saja.
Namun baru saja Marisa keluar dari gerbang rumahnya, dia berpapasan dengan Mentari yang tadinya ingin mengunjungi Marisa dan mengajaknya menjenguk Maria.
__ADS_1
Setelah berbincang sejenak, akhirnya mereka memutuskan untuk bersama-sama pergi ke rumah Maria. Mobil dan supirnya Mentari minta untuk pulang saja.
Sepanjang perjalanan, Marisa mengatakan tentang ngidamnya Maria yang menurutnya cukup aneh. Tapi dia justru mendengar hal yang lebih aneh lagi dari Mentari. Dia bilang dulu saat dia hamil, dia bahkan ngidam untuk memegang kepala seseorang. Tapi bukan hanya itu, orang itu haruslah laki-laki dan yang terpenting, botak. Marisa bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.
Dan bagaimana cara Lazarof menyiasati ngidam absurd istrinya itu? Alhasil dia mencukur rambutnya sendiri, karena dia tidak ingin istrinya memegang kepala pria lain. Benar-benar pengorbanan yang sangat keren bukan?
"Semoga saja nanti aku tidak ngidam yang aneh-aneh, jika aku hamil," celetuk Marisa yang di balas tawa renyah oleh Mentari.
"Oh iya nak, bisakah kapan-kapan kita mengunjungi makam ayah dan ibumu?"
Tanpa ragu Marisa mengiyakan permintaan Mentari. Lagipula dia juga merindukan kedua orang tuanya, jadi apa salahnya mengunjungi makam mereka.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah Maria. Marisa sempat terkejut melihat rumah baru Maria yang besarnya hampir sama dengan rumahnya. Dia mengira Johan masih akan menyembunyikan semuanya, dan membawa Maria tinggal di rumah yang kecil, tapi ternyata justru sebaliknya.
Maria ternyata sudah bersiap di depan rumahnya, menunggu kedatangan Marisa. Dia nampak begitu senang, saat melihat Mentari juga datang bersama adiknya itu.
Mereka menuju ke sebuah restoran seafood yang letaknya tidak jauh dari tempat kerja Maria. Dia juga berencana untuk mampir ke tempat kerjanya dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.
"Iya gue juga awalnya bilang gitu ke Johan. Tapi dia bilang, nggak akan ada yang berani ngelarang gue. Gue juga nggak terlalu ngerti sih maksudnya apa, cuma ya gue mau coba dulu aja, siapa tau beneran nggak akan ada masalah kan?" Jelas Maria.
Marisa dan Mentari mengangguk setuju. Bagaimanapun tidak mungkin bagi Maria untuk terus menjadi model, di saat perutnya perlahan akan mulai membesar.
Akhirnya mobil yang Marisa kemudikan pun berbelok ke sebuah restoran seafood yang cukup terkenal. Terlihat dari penuhnya tempat parkir, bisa di pastikan jika banyak pengunjung yang menyukai restoran ini.
Mereka pun duduk di tempat yang masih kosong, lalu memesan makanan.
Maria tampak sangat bersemangat memesan banyak sekali makanan yang berbahan dasar lobster. Marisa bahkan di buat menganga melihat pemandangan itu. Itu merupakan hal baru baginya, Maria yang biasanya akan sangat menjaga pola makan, kini justru memesan makanan seperti orang yang sudah berpuasa tujuh hari tujuh malam.
"Lo yakin bisa habisin ini semua?" tanya Marisa dengan alis bertaut.
"Lo tenang aja. Kalo nggak habis tinggal bungkus,"ujarnya yang kemudian terkekeh geli.
__ADS_1
Bungkus dia bilang? Emang di kira ini warteg? Bisa-bisanya dengan enteng bin gamblangnya dia mengatakan jika tidak habis maka bungkus saja.
Mentari hanya tersenyum bahagia melihat tingkah lucu dua keponakannya itu. Mereka benar-benar seperti Arka dan Azka, selalu saja berdebat karena hal kecil. Tapi sebenarnya mereka saling menjaga dan menyayangi satu sama lainnya.
Di tengah-tengah acara makan besar itu, Marisa mendapat panggilan alam yang harus segera dia selesaikan.
"Mar, gue dapet panggilan alam. Bentar ya, bentar ya tante," pamitnya kemudian berlari menjauh.
"Panggilan alam?" beo Mentari bingung.
"Hihi, maksudnya itu dia mau ke kamar mandi tante. Dulu papa sama mama yang ajarin kita bilang gitu kalo lagi makan, katanya biar nggak bikin jijik," kekeh Maria menjelaskan maksud sebenarnya dari panggilan alam itu.
"Astaga... kalian ini lucu banget ya. Andai aja kalian tinggal di rumah tante, pasti rumah tante bakalan rame banget," ujarnya.
Marisa pun sampai di toilet dengan cepat. Dia ingin segera menuntaskan panggilan alam daruratnya itu. Namun saat dia sedang fokus-fokusnya berjuang menyelesaikan panggilan alamnya, dia mendengar percakapan antara beberapa gadis dari luar. Percakapan itu menarik perhatiannya, karena mereka menyebut namanya juga.
"Gue mau si Marisa itu mati!"
Mata Marisa membola saat mendengar hal itu. Mati? Kenapa orang itu ingin dia mati? Dan siapa orang itu? Apa Marisa pernah melakukan kesalahan padanya? Banyak sekali tanda tanya yang muncul di benak Marisa, namun percakapan mereka selanjutnya menjawab semua pertanyaan yang sempat mampir dan memenuhi otaknya.
Marisa mendengarkan dengan seksama, hingga akhirnya senyum jahil pun muncul di wajah cantiknya. Dia mendapatkan sebuah ide cemerlang yang tiba-tiba saja singgah di otaknya, dan rasa-rasanya ide itu cukup bagus untuk situasi saat ini.
"Lo mau gue mati? Oke, gue bakal kasih apa yang lo mau. Tunggu aja tanggal mainnya!"
...*******...
...Waaah... di suruh tunggu mainnya nih bestie....
...Kira-kira ide somplak apa yang ada di otak Marisa ya?π€π€π€...
...Ada yang tau nggak nih bestie?π...
__ADS_1
...Kalau ada coba tulis di komentar, siapa tau kalian punya bakat jadi cenayangπ€£...