
...Kehidupan itu sudah tentukan...
...Tapi bukan berarti kita tidak bisa mengubah sesuatu...
...Karena Tuhan memberikan kesempatan pada hamba-Nya untuk berusaha dan berdoa untuk menentukan bagaimana nasib dirinya selanjutnya....
...By : Rosemarry...
...*****...
"O-ojol?!" mata Kenzo membulat sempurna kala mendengar kata ojol.
"Ehm, aku memang berangkat naik ojol. Karena motorku ngambek tadi di tengah jalan, jadi harus nginep di bengkel." Jelas Marisa.
"Jadi dia tadi naik ojol? Lalu yang kulihat tadi—"
"Kenapa nih orang mukanya kayak habis liat hantu gitu? Tunggu! Jangan bilang, tadi dia liat si Markonah!?" batin Marisa yang menduga bahwa orang yang Kenzo liat bukanlah dirinya, melainkan Maria.
"Bagaiman mungkin? Tadi jelas-jelas aku melihatnya berada di dalam mobil dengan seorang pria." Batin Kenzo, "Sial! Kalau aku benar-benar menciumnya hanya karena sebuah kesalahpahaman, bisa-bisa aku kehilangan harga diriku."
"E... bos, mungkin tadi yang kau lihat itu—"
"Tidak perlu di bahas, kau hanya perlu menuruti perkataanku!" potong Kenzo yang sudah terlanjur malu karena dirinya salah melihat orang, ya... meskipun sebenarnya dia tidak sepenuhnya salah, karena memang muka dua gadis itu seperti fotocopyan.
"Ta-tapi..."
"Keluarlah, dan lakukan tugasmu. Aku masih banyak pekerjaan."
Marisa pun terpaksa keluar dari ruangan Kenzo, dengan umpatan-umpatan dan sumpah serapah di hatinya.
"Dasar freak! Dia udah Seenak jidat aja nyosor gue dan Sekar dia ngusir gue?! Daebak...! Apa sekarang slogan emak-emak udah mulai di terapin sama bapak-bapak juga? 'Jika kau salah, maka marahlah lebih dulu dan kau akan menjadi benar.' Aigoo...!" gumam Marisa dengan kesal saat dirinya sudah berada di depan ruangan Kenzo, dimana dia harus berjaga di sana.
__ADS_1
Sedangkan Kenzo kini sedang duduk di kursinya sambil menyentuh bibirnya sendiri, dan masih berusaha menetralkan degup jantungnya yang terasa bekerja secara berlebihan.
"Apa yang tadi kulakukan? Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak mungkin menyukai manusia aneh bin ajaib itu!" Kenzo meraup kasar wajahnya dengan frustasi.
"Nona, Marisa? Apa yang terjadi, kenapa kau terlihat kesal?" tanya Arka saat dirinya baru saja mau masuk ke ruangan Kenzo, namun dia urung kala melihat melihat Marisa yang tengah mengumpat dengan bibir manyunnya.
"Eh, tuan Arka? Tidak apa-apa, hanya kesal karena bibirku baru saja ternodai lago oleh seekor babi gendut menyebalkan!" jawab Marisa dengan senyum mengejek yang dia tujukan pada Kenzo.
"Babi gendut?" Arka pun hanya bisa bingung dengan jawaban Marisa, dan kemudian masuk ke ruangan Kenzo.
Cklak!
Kenzo pun mengangkat wajahnya dan melihat pada Arka yang baru ke dalam ruangannya.
"Ada apa?"
"Ada berkas yang harus kau tanda tangani."
"Ya, taruh saja di situ." Ucapanya sambil memijat pangkal hidungnya.
"Cih! Jangan sok tau!"
"Aku kan hanya bertanya."
"Sudah sana kembali ke ruanganmu, kau mengotori pandangan."
"Cih! Dasar, babi gendut menyebalkan! Memang benar apa yang Marisa katakan." Stelah mengatakan hal itu, Arka pun segera berlari keluar dari sana. Dan benar saja, setelah pintu tertutup tepat saat itu juga sebuah bolpoin melayang ke arahnya.
"Dasar Arka...!" geram Kenzo.
Cklak!
__ADS_1
"Babi gendut." Ejek Arka sekali lagi, dan kali ini hanya kepalanya yang menyembul dari celah pintu.
Blam!
Tak!
Sekali lagi, lemparan bolpoin itu mengenai pintu karena Arka yang dengan cepat menutup pintu itu.
Marisa yang berada di depan ruangan Kenzo, hanya menatap aneh pada Arka yang tadi sudah keluar dari sana. Namun kembali membuka pintu lagi dengan hanya kepalanya yang masuk ke dalam, dan kemudian kembali menutup pintu dan lari terbirit-birit.
"Ada apa sama si Arka itu? Aneh banget deh." Gumam Marisa, "Oh iya, gimana keadaan Gea ya sekarang?"
Marisa pun mengeluarkan ponselnya dan menelepon Gea, "Ge, gimana keadaan lo?"
"Gue udah baik-baik aja kok, tapi sekarang gue jadi takut mau balik ke apartemen Mar... gimana dong?" keluh Gea.
"Ya udah lo tinggal di rumah gue aja dulu, setelah gue dapet titik terang soal masalah teror itu baru lo balik ke apartemen."
"Teror?"
"Ya, teror. Gue udah liat cctv di sana, dan orang yang bikin lo celaka itu sebenarnya ngincer bos gue."
"Hah? Yang bener aja lo Mar?"
"Iya gue serius, makanya mending lo tinggal di rumah gue aja dulu sementara ok?"
"Ok deh, ntar lo jemput gue ya. Hari ini gue udah boleh balik."
"Ok siap, ntar gue jemput lo. Sekalian nanti gue ambilin baju-baju lo di apartemen."
"Makasih Marjan, lo emang paling baik deh."
__ADS_1
"Bilang makasih tapi masih manggil gue Marjan, dasar lo ya."
"Hehe..."