
..."Sejauh apapun kau mencoba lari dan bersembunyi, benang takdir tetap akan mempertemukan kita kembali pada saatnya nanti."...
...By : Rosemarry...
...******...
"Siapa Del?" tanya Stevy pada Della.
"Si Cumi."
"Ya udah angkat, ntar keburu ngamuk lagi." Della pun segera menggeser tombol hijau di layar ponselnya dan dengan instingnya yang setajam silet, Della pun dengan segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
Dan benar saja sesaat kemudian terdengar teriakan dari Raisa yang membuat kuping Della berdengung meski sudah sedikit menjauhkan ponselnya.
"Della...!" teriaknya, "Kalian itu di mana sih!?Kalian liat gue di bawa pergi sama bokap tadi, terus kenapa kalian nggak nyusulin gue kesini?! " terdengar suara hentakan kaki dari tempat Raisa berada, dan hal itu pun membuat Della dan Stevy menahan tawa mereka sebisa mungkin agar tidak pecah dan membuat Raisa semakin gila memarahi mereka nantinya.
Raisa masih terus mengumpati Marisa, dengan segala sumpah serapah yang bisa ia lontarkan untuk Marisa yang dia anggap sebagai rival saat ini.
Sedangkan Della hanya memperagakan apa yang Raisa ucapkan itu dengan gerakan bibir dan di barengi tangan yang sangat tampak jelas kalau dia sedang mengejek Raisa.
__ADS_1
"Kita masih di lantai bawah kok, ada apa emangnya?" tanya Della pura-pura tidak tau.
"Cepetan ke sini, gue tunggu kalian 5 menit lagi kalo masih nggak sampe sini juga jangan harap gue bakalan ajak kalian lagi kalo gue shoping atau perawatan!" ancamnya dan sedetik kemudian terdengar suara sambungan telepon dimatikan dari seberang sana.
"Ah sial!" umpat Della.
"Kenapa Del? Kok lo keliatannya kesel gitu, si Cumi kumat lagi ya?" tanya Stevy yang bisa melihat mimik wajah Della berubah setelah menerima telepon dari Raisa barusan.
"Dia ngancem kita Stev, kalo 5 menit lagi kita nggak dateng nyamperin dia ke lantai atas dia nggak bakalan ajak kita lagi kalo dia mau shopping atau perawatan!" jelasnya yang sudah sambil menarik tangan Stevy untuk mengikutinya bergegas naik ke lantai 2 dengan cepat.
"What?! Kenapa dia ngancem gitu ke kita? Apa jangan-jangan dia udah tau kalo kita itu nggak tulus temenan sama dia?" tanya Stevy yang di jawab gelengan oleh Della.
Setelah secepat mungkin berlari, kini mereka sudah sampai di depan kamar hotel yang Raisa tempati saat ini. Mereka berhenti tepat di depan pintu dengan nafas ngos-ngosan dan tersengal-sengal dengan dada yang naik turun, kemudian Della pun mengetuk pintu kamar itu sambil masih berusaha menetralkan nafas dan degup jantungnya.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
Cklak!
"Ra..." Della yang bahkan baru saja buka suara, namun langsung di sambar oleh Raisa dengan makiannya yang membuat Della dan Stevy harus mengatur emosi mereka.
"Lama banget sih lo berdua! Nggak tau apa gue lagi kesel!?" teriaknya tepat setelah pintu itu dia buka dan menampilkan sosok dua teman palsunya itu.
"Ya terus?! Lo pikir gue peduli gitu?! Big no!" ingin sekali rasanya Stevy melontarkan kata-kata itu langsung pada Raisa, namun sayangnya dia harus rela menelan kalimat itu dalam-dalam.
"Ya sorry Ra, kita kira kan lo masih sama bokap lo. Ya mana berani kita ganggu, bisa di gantung kita sama bokap lo di pohon toge." Jawab Della.
"Ish! Nggak lucu!" geram Raisa yang kemudian berbalik dan mendudukkan pantatnya di sofa.
"Terus kalo nggak lucu emang kenapa Cumi!? Lo pikir gue badut yang harus lucu buat ngehibur lo yang lagi bad mood?!" batin Della yang tak kalah kesalnya dari Stevy.
"Santai kali Ra, marah-marah mulu lo kayak lagi pms aja. Ntar lo cepet tua loh." Sahut Stevy sambil mendudukkan dirinya di sofa single di sebelah Raisa.
"Lo ngomong apa barusan?! Santai?! Lo bayangin deh Stev, emang lo bakal masih bisa santai kalo lo ada di posisi gue? Lo tadi liat kan, tuh cewek gila udah bikin gue malu tujuh turunan? Dia juga udah bikin reputasi baik yang gue bangun dan jaga selama ini, bisa hancur gitu aja dalam hitungan menit!" keluh Raisa yang nampak jelas di wajahnya guratan kemarahan.
Stevy dan della pun saling melirik dan melempar pandang untuk memberi kode satu sama lain.
__ADS_1