My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 141


__ADS_3

...Jangan lupa like, komen, dan sajennya ya bestie...😘😘...


...********...


"Lo mau gue mati? Oke, gue bakal kasih apa yang lo mau. Tunggu aja tanggal mainnya!" batin Marisa dengan senyum devil di wajahnya.


Marisa sengaja menunggu orang-orang itu pergi lebih dulu, meskipun sebenarnya dia sudah selesai dengan panggilan alamnya. Dia kembali ke tempat Maria dan Mentari berada, dan duduk sambil senyum-senyum tidak jelas, membuat Maria bingung dengan apa yang terjadi pada adiknya itu.


"Mar, pala lo nggak kejedot ****** kan?" tanya Maria.


"Enak aja moncong lo! Gue nggak kenapa-napa ege, tapi gue punya satu rencana yang kayaknya bakal jadi seru banget. Lo mau ikut nggak?" tanya balik Marisa.


Awalnya Maria menolak, karena firasatnya mengatakan jika ide Marisa itu pastilah somplak seperti biasanya. Tapi setelah Marisa sedikit memaksa, akhirnya dia pun mau membantu Marisa dalam menjalankan rencananya yang entah apa itu.


Mentari hanya diam dan mendengarkan percakapan kedua keponakannya itu, tanpa menanyakan apapun.


Seperti rencana awal, Maria minta di antarkan ke tempat kerjanya. Dan di sinilah mereka saat ini.


"Saya memang mau keluar dari dunia modeling pak. Bukan saya ingin pindah kerja di tempat lain, tapi memang saya tidak mau bekerja lagi," Maria berusaha menjelaskan alasan dia mengundurkan diri, pada bos di tempat kerjanya.


Dia was-was jika saja bosnya itu akan membahas pinalti pelanggaran kontrak dengannya. Terlebih bosnya itu hanya diam dan memperhatikan Maria berbicara sedari tadi, tanpa menjawab atau menanyakan apapun. Rasanya situasi saat ini benar-benar teras mencekiknya, membuat Maria kesulitan bernafas.


Namun satu kalimat dari sang bos, yang akhirnya terucap pun, membuat Maria melongo tidak percaya.


"Tidak apa-apa. Kau bisa bekerja lagi, jika kau masih ingin bekerja di masa depan."


What? Apa-apaan ini? Bukankah seharusnya bosnua itu paling tidak akan memarahinya lebih dulu. Atau bisa saja mem-blacklistnya? Tapi apa ini? Dia bahkan memberikan kebebasan yang begitu longgar padanya, sebenarnya apa yang terjadi?

__ADS_1


"Apa bapak tidak salah bicara pak?" tanya Maria bingung.


"Tentu saja tidak. Kau itu model yang paling bagus, yang pernah saya pekerjakan. Anggap saja ini sebagai perlakuan khusus untuk model terbaik," jelasnya yang membuat Maria mengangguk mengiyakan, meskipun dia sama sekali tidak percaya ucapan bosnya itu.


Pasalnya selama ini, bosnya itu terkenal sangat disiplin dan tegas pada karyawannya. Dia juga terkenal sangat galak dan dingin pada siapapun, termasuk dirinya. Tapi lihat, sekarang dia benar-benar berbeda! Bagaimana bisa?


Hanya satu alasan logis yang terpikirkan olehnya, yaitu Johan. Johan lah yang sudah mengatur semuanya. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana bisa Johan punya wewenang mengatur bosnya? Benar-benar membingungkan.


"Kalau begitu saya permisi dulu pak," pamit Maria, yang kemudian menyalami bos yang sudah berubah status menjadi mantan bosnya itu sebelum dia keluar dari ruangan.


Rekan-rekan yang melihatnya, menanyakan kenapa dia tak masuk kerja selama beberapa hari ini? Namun Maria hanya menjawab dia punya urusan penting, dia juga sekalian berpamitan dengan semua teman kerjanya, tentu saja kecuali si Tuti Konde Adelia itu.


Namun dia juga sedikit heran, saat dia tak melihat Monica dan juga Lia alias Ali hari ini. Dia bertanya kemana dua orang itu, dan teman-teman lain mengatakan jika Monica dan Ali ijin tidak masuk hari ini. Tapi entah apa alasannya, mereka juga tidak tau.


Meskipun Maria sangat penasaran, tapi dia hanya bisa mengangguk dan meninggalkan tempat yang kini sudah menjadi mantan tempat kerjanya.


Marisa mengantarkan Mentari ke rumah besar keluarga William, lalu membawa Maria pulang ke rumahnya. Dia tidak mengantar Maria pulang ke rumahnya sendiri, karena dia sudah mengabari Johan untuk menjemput Maria jika dia sudah pulang kerja nanti.


Maria mengangkat alisnya dan menunggu Marisa untuk menjelaskan rencana apa yang dia katakan tadi. Marisa menceritakan awal dari munculnya rencana somplaknya kali ini, dan hal itu membuat Maria bersemangat mwndengar rincian rencana Marisa.


"Gila! Ide lo kali ini bener-bener somplak abis, tau gak sih Mar? Tapi karena orang itu udah berani main-main sama kita, jadi kita harus bales mereka!" Ujar Marisa dengan semangat empat limanya.


Tapi mereka masih membutuhkan persetujuan dari suami mereka. Meskipun Marisa yakin, jika dia mengatakan apa masalahnya, maka Kenzo pasti akan menyetujui rencana somplaknya itu. Begitu pula dengan Maria yang yakin, kalau Johan juga pasti akan ikut membantu mereka mensukseskan rencana gila mereka.


Mereka asik mengobrol dan membahas tentang suami masing-masing. Mereka berdua tampak bahagia, lagipula rasanya sudah cukup lama mereka tidak berbincang seperti ini. Marisa bahkan menceritakan kejadian saat dirinya di culik, dan pastinya hal itu membuat Maria marah besar.


"Bisa-bisanya laki lo ngibulin gue!? Bener-bener minta gue kebiri kali ya? Dia bilang lo itu hampir nabrak kucing, makanya lo terik pas lagi telfon gue. Ternyata lo di culik sama kucing garong?"

__ADS_1


"Ya mau gimana lagi? Gue sama dia itu tau, lo itu orangnya panikan. Kalau lo tau gue di culik, lo pasti udah heboh sendiri." Balas Marisa.


"Dasar lo ya..." Maria menjewer telinga adiknya itu dengan gemas.


Malam hari pun tiba. Kedua gadis yang sudah tidak gadis itu, menghabiskan waktu mereka dengan menonton film horor. Namun anehnya, mereka berdua justru tertidur pulas di tengah-tengah acara nobar mereka.


Sampai akhirnya pintu kamar terbuka, dan menampakkan sosok Kenzo bersama dengan Johan. Memang benar tadi Johan mengabari Kenzo untuk menanyakan alamat rumahnya, karena dia memang belum tau alamat rumah mereka yang baru. Dan Marisa serta Maria tak bisa di hubungi, karena ternyata keduanya sudah tertidur pulas.


"Pantas saja mereka tidak bisa di hubungi. Ternyata dua-duanya sudah tepar?" gumam Johan sambil geleng-geleng kepala.


"Menginap saja di sini malam ini. Kamar sebelah kosong, kalian bisa menempatinya." Ujar Kenzo.


Johan nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengiyakan usulan adik iparnya itu. Dia pun mendekat ke arah dua saudari kembar itu, untuk membawa istrinya.


"Ken..." panggilnya.


"Ada apa?" tanya Kenzo sambil berjalan menghampiri Johan.


"Yang mana satu istriku? Dua-duanya kelihatan sama saja, aku takut salah mengambil orang." Dengan bodohnya Johan menanyakan hal itu pada Kenzo. Tapi dia memang benar-benar tak bisa membedakan yang mana istrinya dan yang mana Marisa, untuk saat ini.


Meskipun dia sudah cukup lama mengenal Marisa dan Maria, tapi di saat keduanya diam seperti ini, dia sama sekali tak bisa mengetahui yang mana Marisa dan yang mana Maria.


...*******...


...Ya ampun masa bini sendiri gak bisa bedain? 🤣...


...Masa iya harus liat dalamnya dulu baru tau yang mana bini kalian sih?🤣🤣🤣...

__ADS_1


...Sini kak rose bisikin......


...Dasar suami lucknut🤣🙊...


__ADS_2