
Bruk!
"Arrrgghh!" serunya saat punggungnya menyapa mesra trotoar.
"Sendal Ando?!" seru Marisa saat melihat wajah orang yang baru saja di bantingnya itu, "Kok lo bisa ada di sini?"
"Ban-tuin gue bangun dulu na-pa?" ucapnya terbata, karena nafasnya terasa berat.
"Ogah!" ketus Marisa jutek.
Pria bernama Ando itu pun segera berdiri dengan susah payah, "Kenapa lo beda banget sama kembaran lo, sih?" tanyanya setelah berhasil berdiri, "Ya walaupun galaknya cuma beda tipis, tapi seenggaknya tenaga kalian beda jauh. Lo bener-bener kayak samson wati tau nggak sih?"
Sret!
Marisa langsung menarik kerah baju Ando dengan tatapan membunuh yang dia arahkan pada laki-laki itu, "Lo apain Maria hah! Jawab gue, baji*ngan!"
"Selow dong selow... walaupun wajah kalian itu sama, tapi kan orang yang gue suka itu lo bukan dia. Jadi ya, setelah gue tau dia itu bukan lo ya dia nggak ada hubungannya sama gue,"
"Persetan sama apa kata mulut busuk lo itu! Kenapa lo nggak pernah bisa lepasin gue sih? Gue kan udah bilang kalo sampai kapanpun, gue nggak akan pernah suka sama lo! Meskipun lo pakai cara kotor kayak yang dulu pernah lo lakuin!" seru Marisa dengan amarah yang sudah sampai di ubun-ubunnya.
"Dan lo juga tau kan, kalau gue gak akan pernah nyerah sebelum gue dapetin apa yang gue mau!" ucapnya dengan santai, namun senyum licik tersungging di bibirnya.
Baru saja Marisa akan melayangkan pukulannya pada Ando, seruan dari arah belakang membuat Marisa menahannya.
"Marisa..."
Marisa pun menoleh dan bergumam, "Ngapain sih tuh orang pakai nyusulin gue?!" dengan tetap berusaha mempertahankan wajah datarnya, Marisa pun menatap ke arah Kenzo yang tengah berjalan menghampirinya.
"Mar, siapa dia?" pertanyaan pertama yang meluncur dari mulut Kenzo, saat dia sampai di tempat Marisa.
"Dia? Pacarku." Marisa menarik Ando dengan paksa dan menggandeng tangannya.
"Mar, bukannya barusan lo bilang kalo lo—" Marisa menginjak kaki Ando untuk membuatnya diam, " Aw! Sakit!" bisik Ando pada Marisa.
"Maaf bos, aku ada urusan sebentar dengannya," setelah mengatakan hal itu, Marisa pun segera membawa Ando menjauh dari sana.
__ADS_1
Sedangkan saat ini Kenzo tampak mengeratkan giginya dengan tangan terkepal erat, "Pacar?! Apa kau berusaha membalasku, Marisa?" batinnya.
"Mar, jadi lo beneran mau jadi pacar gue?"
"Najis!"
"Jadi lo cuma jadiin gue tameng?"
"Hooh!"
"Jangan bilang, kalau dia itu orang yang lo suka?"
"Kalo iya, lo mau apa?"
"Lo tau gue kan Mar? Lo tau apa aja yang bisa gue lakuin, dan belum tentu juga bisa cegah itu," ucap Ando dengan nada mengancam.
"Gue tau, sendal Ando! Lo bahkan bisa bunuh orang tanpa kedipin mata lo. Tapi lo juga tau gue kan? Gue juga nggak selemah yang lo pikir. Dan gue yang sekarang sanggup buat ngalahin lo!"
"Dengan bantuan si Samudra Antartika itu?" tanyanya dengan nada mengejek, "Asal lo tau aja, gue udah nemuin di mana si bocil itu sembunyi!" bisiknya tepat di samping telinga Marisa.
"Lo!?" Marisa menunjuk pada Ando dengan geram.
Marisa pun dengan kesal dan panik menarik kerah Ando lagi, "Ando! Lo apain Samudera?! Lo jangan pernah berani-berani celakain dia, atau gue bakal bikin lo nyesel seumur hidup lo!" seru Marisa.
"Ck! Ck! Ck! Benar-benar calon nyonya Ando Jeriko Dewangga. Aku semakin menyukaimu dengan sifat keras kepala dan galakmu ini," ucapnya tanpa rasa takut.
Ando Jeriko Dewangga, adalah kakak dari bos Marisa sebelumnya. Dia adalah seorang pembunuh bayaran. Dan karena itu juga, ayahnya Ando mengusirnya dari keluarga Dewangga.
Dia sudah menyukai Marisa sejak dia melihat Marisa saat dia memata-matai adiknya sendiri.
Dia pernah menyatakan perasaannya pada Marisa, namun Marisa menolaknya karena dia sudah mendengar siapa itu Ando dari bosnya. Tapi bukan Ando namanya jika dia tidak nekat. Dia mencoba menculik Marisa dan memaksanya untuk menikah, tapi sayangnya Marisa berhasil kabur karena kecerdasannya. Dan saat itu juga, dia pulang ke kampung halamannya.
Tapi saat dia sampai di rumahnya, bendera kuning sudah terpasang di depan rumahnya. Ya, orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan.
Dia tak pernah menceritakan soal Ando pada siapapun, bahkan pada Maria sekalipun. Tapi ada sedikit kecurigaan di hatinya, kalau kematian orang tuanya bukanlah murni sebuah kecelakaan.
__ADS_1
"Samudera itu gak ada hubungannya sama semua ini, Ando! Dia cuma anak kecil, lo bener-bener pengecut karena udah gunain dia buat ngancem gue!" seru Marisa.
Buat kalian-kalian yang mengira kalau Samudera itu sudah dewasa, kalian salah! Samudera hanyalah seorang bocah SMA, namun dia sangat pandai dalam bidang IT.
Marisa mengenal Samudera saat dia menyelamatkan Samudera, dari kejaran orang yang ingin memanfaatkan kecerdasannya untuk sesuatu yang buruk.
Dan karena itu juga lah, Marisa membantu Samudera mencari tempat persembunyian. Tapi dia tidak menyangka, kalau Ando bisa menemukannya.
"Sial! Gue nggak bisa lawan kekuasaannya si sendal Ando!" batin Marisa.
Ya, semua yang Marisa katakan tadi bukan semuanya adalah kebenaran. Sebenarnya, dia tidak mampu mengalahkan Ando.
"Gue juga tau, orang yang tiba-tiba nyerang gue waktu itu, lo kan? Dan lo tau kenapa gue kalah waktu itu? Karena ini," ucap Ando sambil mengangkat sedikit bajunya.
Dan di sana terdapat bekas luka jahitan yang cukup panjang.
Benar, orang yang mengikuti Maria selama beberapa hari kemarin adalah Ando. Tapi saat dia bertemu dengan Marisa dan berkelahi, dia belum sepenuhnya pulih. Dia baru saja menyelesaikan misi sulit yang akhirnya membuatnya terluka.
"Jadi? Apa keputusan lo?" tanya Ando dengan senyum liciknya.
"Sial! Iblis freak ini nggak akan segan-segan buat bunuh Samudera! Gue nggak bisa libatin Samudera!" batinnya, "Ok, gue bakal ikutin apa mau lo. Tapi gue minta, kasih gue waktu sehari,"
"Lo mau pamitan sama cowok yang tadi?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Dia cuma bos gue,"
"Ok, just one day baby..." ucapnya sambil memegang dagu Marisa.
Setelah mengatakan hal itu, dia pun meninggalkan Marisa, "Sampai jumpa besok," pamitnya dengan senyum manis yang justru tampak mengerikan di mata Marisa.
"Sial! Gue harus gimana? Gue nggak mau hidup selamanya sama manusia berdarah iblis itu!" gumamnya.
Namun tiba-tiba saja, dia di kejutkan dengan suara yang datang dari arah belakangnya.
"Kamu barusan ngomong apa?"
__ADS_1
Deg!
Deg!