My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 42


__ADS_3

...Kala benang merah sudah menyatukan dua insan...


...Di saat itu pula, tak ada satupun orang yang bisa memutusnya....


...By : Rosemarry...


...*****...


"Eh Mar, sini bentar." Panggil Lia pada Maria, setelah Marisa selesai dengan sesi pertamanya.


"Apaan sih Ali?" tanya Maria.


"Hush! Ali-ali! Panggil gue Lia kalau masih di tempat kerja! L I A!" kesal Lia dengan suara ngondeknya.


Lia pun membawa Maria masuk ke dalam ruangan istirahatnya.


"Ada apa Lia?"


"Giliran udah di sini lo panggil gue Lia!" kini bukan lagi suara ngondek yang keluar dari bibir Lia, melainkan suara bariton yang amat sexy.


"Iya apa Aliando Hubert...?"


"Gue lagi bingung nih Mar, kemaren bokap gue sempet ngeliat gue pas gue lagi nggak nyamar. Terus gue di kejar-kejar sama bodyguard bokap gue..." Curhat Lia atau lebih tepatnya Aliando Hubert, tuan muda keluarga Hubert yang sedang menyamar menjadi waria.


Ali adalah teman SMP Maria dan Marisa dulu, sebelum orang tua mereka bangkrut dan pindah ke rumah mereka yang sekarang.


Dia terpaksa menyamar seperti ini karena keluarganya memaksa dia untuk menikah dengan wanita pilihan ayahnya, satu bulan yang lalu.


Dan Maria juga lah yang membantu Ali untuk mendapatkan pekerjaan di tempatnya bekerja, ya... meskipun hanya sebagai penata rias tapi setidaknya dia bisa menyambung hidupnya.

__ADS_1


"Hah, kok bisa? Emang kenapa kemarin lo sampe lupa pake penyamaran lo?"


"Kemaren itu gue laper banget pas bangun tidur, jadi gue buru-buru deh nyari makan. Eh tau-tau gue di kejar-kejar sama antek-anteknya bokap gue, gimana dong Mar?"


"Tapi mereka ngikutin lo sampe ke kontrakan lo enggak?"


"Enggak sih... gue bisa kabur dari mereka kemaren, tapi—"


"Tapi apa?"


"Tapi kemaren gue sempet ketemu sama... Monica." Ucapnya dengan tersenyum canggung.


"Monica? Tapi dia nggak ngenalin lo kan, Al?"


"E..." Ali pun seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Maria, dan terlihat oleh Maria dari senyum canggung mencurigakannya.


"Haish... aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu, Mar." Ali pun menghela nafas panjang, "Ada sedikit accident tidak terduga kemarin antara aku dan Monica, tapi sepertinya dia tidak mengenali kalau Lia dan Ali adalah orang yang sama."


"Huufft... syukurlah kalau begitu, meskipun aku yakin kalau Monica mengetahui hal itu juga tidak akan berpengaruh padamu. Monica itu tidak bermulut julid, karena dia bisa menjaga rahasia tapi semakin sedikit orang yang tahu juga semakin baik."


"Ya... tapi aku sedikit merasa tidak enak padanya, karena kemarin aku—"


Cklak!


"Maria, saatnya sesi ke dua." Ujar Monica yang tiba-tiba saja membuka pintu ruangan itu, dan membuat Ali mematung menatapnya.


"Lia? Kau itu kenapa?"


"Eh? Aku tidak apa-apa."

__ADS_1


"Lia?!" seru Monica yang seketika membuat Ali dan Maria pun kaget, karena Ali lupa menggunakan suara ngondeknya kala menjawab pertanyaan Monica.


"Ehmm..." Ali bingung mau bicara apa, sedangkan Monica yang mendengar suara asli Ali pun teringat akan sesuatu yang terjadi kemarin.


"Ayo Mon, kita keluar. Lia bilang dia sedang sakit kepala, jadi lebih baik kita tidak mengganggunya." Maria pun menyeret lengan Monica keluar dari ruangan itu.


Cklek!


Setelah pintu tertutup, Ali pun dengan secepat kilat berlari ke arah pintu dan menguncinya.


Krak!


"Sial...!" Karena Ali berlari dengan secepat mungkin, dia lupa kalau dia sedang mengenakan rok saat ini dan akhirnya...


Rok mini berwarna pink itu pun sobek di bagian samping, dan tidak tanggung-tanggung robekan itu mencapai ban pinggang roknya itu.


"Ini semua gara-gara pak tua itu! Kenapa dia harus memaksaku menikah? Aku ini belum setua itu, kenapa harus buru-buru menikah?" sungutnya yang kemudian mencari baju ganti untuk dia pakai.


"Mar? Suara aslinya si Liang kubur ternyata sexy juga ya?" celetuk Monica setelah dia dan Maria keluar dari ruangan Ali.


"Benarkah?" tanya Maria dengan canggung plus was-was.


"Tapi kenapa rasanya aku pernah mendengar suara itu ya? Tapi bukan dari Lia, tapi dari seorang laki-laki tampan yang kemarin—" Monica pun hampir saja mengatakan apa yang terjadi kemarin antara dirinya dan Ali, tapi untung saja mulut Monica di lengkapi dengan rem cakram yang membuatnya bisa mengerem mulutnya tepat waktu.


"Yang kemarin..." beo Maria menunggu lanjutan cerita Monica.


"Hm, tidak ada apa-apa. Sudahlah kau sudah di tunggu, sana cepatlah aku juga mau bersiap-siap karena setelah ini giliranku." Monica pun ngacir begitu saja meninggalkan Maria yang jadi curiga padanya dan Ali.


"Huuft... untung saja oli rem cakram mulutku ini masih penuh, jika tidak Maria pasti akan tau apa yang kualami kemarin..." Batin Monica sambil berjalan ke ruang ganti kostum.

__ADS_1


__ADS_2