
Kini Marisa, Kenzo, dan sudah berada dalam perjalanan untuk kembali ke rumah Kenzo. Sedangkan Arka kembali ke perusahaan untuk mengurus pekerjaan yang tadi sempat terbengkalai, akibat Kenzo yang terlalu cemas pada Marisa dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Singkat cerita, hari pun sudah berganti.
Di bandara internasional xx, kini sudah berdiri seorang pria yang tampak begitu arrogant. Dan di belakangnya, terdapat beberapa orang berseragamkan jas hitam.
"Kau mencariku kan, pak tua? Jadi biarkan aku yang menghampirimu! Aku tidak akan kalah lagi kali ini, dan aku akan membawa pergi calon istriku!" gumamnya dengan tatapan iblis yang mampu membuat orang tertekan.
Ya, orang itu adalah Ando. Dia datang dengan persiapan penuh. Selain datang untuk Marisa dan musuh bebuyutannya, dia juga datang ke negara ini karena dia sudah menjadi buronan dengan tingkat SSS di negara asalnya. Sebelum dia menghabisi mantan anggota keluarganya, dia memang sudah menjadi buronan tingkat SS.
Iring-iringan mobil mewah pun sudah bersiap menyambut Ando.
Sedangkan di tempat lain.
"Hehe... kau datang untuk menjemput ajalmu, anak muda?" ucapnya dengan senyum devil di wajahnya, "Baiklah, biarkan aku memberimu cara mati yang sempurna!"
Hawa di ruangan itu pun terasa menurun, benar-benar dingin hanya dengan ucapan, tatapan tajam, dan senyum devil serta tawa jahat pria itu. Siapa lagi kalau bukan Cleric?
"Paman Cleric, sebaiknya paman tidak usah tertawa. diKu rasa wajah datar lebih baik, setidaknya itu tidak membuatku merinding," ujar Samudra.
__ADS_1
"Dasar Kau ini, suka sekali merusak tawa jahatku sejak pertama kali kau datang ke sini!" sungut Cleric.
"Terimakasih atas pujiannya, paman Cleric," jawab Sam dengan senyum manisnya.
"Aku jadi harus berpikir 100 kali lagi jika ingin mengangkatmu menjadi anakku!" ujarnya.
"Terimakasih tawarannya, paman Cleric. Tapi aku tidak mau melihat senyum mengerikan dan mendengar tawa jahatmu setiap hari," goda Sam, yang kemudian terkekeh.
"Cih!"
"Oh iya, paman Cleric. Di mana paman Gio? Apa dia sedang ada urusan di perusahaan?" tanya Sam pada Cleric.
"Dia memang sedang ada urusan. Tapi bukan urusan perusahaan, melainkan urusan keluarga."
"Ya. Ibu suri itu memang sangat sulit di lawan. Tapi dia sudah menyentil luka lama Gio, jadi bisa di pastikan bahwa Gio akan melawannya kali ini," ujar Cleric yang teringat kejadian di masa lalu, "Dia tak akan membiarkan kisah masa lalu terulang lagi," sambungnya dalam hati.
"Ooh... urusan keluarga benar-benar rumit ya, paman. Untung saja aku tidak punya keluarga," ucap Sam dengan enteng, namun terlihat jelas senyum kecut di wajahnya itu.
"Jangan selalu menyembunyikan perasaanmu, kalai kau sedih maka ungkapan saja. Lagipula kau itu anakku sekarang, jadi jangan pernah mengatakan kalau kau tidak punya keluarga!" tekan Cleric.
__ADS_1
"Cih! Pak tua pemaksa!" umpat Sam lirih, namun jujur saja, ada kehangatan yang terasa menyentuh hatinya. Dan dia tidak menyangka, kalau dia akan mendapatkan hal itu dari seorang Cleric, pria yang terkenal begitu kejam dan buas dalam menangani musuh-musuhnya.
Namun mungkin banyak yang salah paham pada Cleric. Dia tak sembarang membunuh orang, dia hanya akan membunuh orang-orang yang merugikan atau membahayakan negara. Dan orang-orang yang memang pantas mati. Tak seperti Ando, yang akan membunuh siapa saja, asal ada imbalannya.
Itulah kenapa Ando, menjadi musuh dari Cleric. Dulu Cleric pernah mengalahkan Ando, namun dia sengaja dia melepaskannya lagi. Karena pada saat itu, hasil penyelidikan mengungkapkan bahwa yang Ando bunuh saat itu, hanyalah bawahan keluarga Dewangga yang terlibat dalam penganiayaan ibunya dan penindasan pada dirinya.
Namun nyatanya, keputusan Cleric saat itu salah besar! Ternyata pupuk dendam di hati Ando begitu ampuh, hingga dia sangat suka melihat orang lain menderita. Dia bahagia saat melihat orang lain mengalami apa yang pernah dia dan ibunya alami. Benar-benar mengerikan!
"Sam, bantu aku retas ponsel iblis kecil itu," ujar Cleric, setelah dia selesai dengan nostalgianya.
"Baik."
Tak perlu waktu lama bagi Samudra meretas ponsel milik Ando, yang sudah di pasangi dengan berbagai macam pengamanan dari hacker handal di bawah kendali Ando. Samudra hanya butuh sekitar satu jam, untuk menjebol semua kode yang ada.
"Paman, aku sudah selesai. Mau di apakan?"
"Kirim dia pesan, kalau aku akan menunggunya. Aku akan memberinya kesempatan membalas kekalahannya di masa lalu," ujarnya.
"Oh, ok."
__ADS_1
Ando yang baru saja akan menelepon bawahannya, justru terkejut kala melihat pesan yang tertulis di layar ponselnya yang tiba-tiba saja menghitam.
Ando mengepalkan erat-erat tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih, "Sial!"