My Lovely Bodyguard

My Lovely Bodyguard
Episode 78


__ADS_3

"Sialan!" batin Raisa,"Tidak! Selama aku tidak mengakuinya, dia tak akan bisa berbuat apa-apa."


"Raisa, bisa kau jelaskan?" tanya Kenzo.


"Apa yang perlu di jelaskan? Dia hanya dendam padaku karena malam itu aku sedikit menyulitkannya, tapi dia membalasku dengan berencana menghilangkan nyawaku!" tuduh Raisa dengan wajah yang di buat seolah dialah korban di sini.


Prok!


Prok!


Prok!


"Akting yang benar-benar mengesankan, nona Raisa Brigitha Wilson."


"A-apa maksudmu?! Siapa yang sedang berakting?! Memang itu kenyatannya, kaulah yang sengaja ingin mencelakaiku!"


Kenzo dan Wilson hanya diam dan menyimak perdebatan antara 2 kaum hawa itu.


"Biar ku jelaskan padamu, nona Raisa. Sangat di sayangkan kau tidak menjadi aktris, karena dengan bakat aktingmu itu aku yakin kau akan memenangkan penghargaan. Tapi sayangnya kau justru memamerkan aktingmu di depan ahlinya. Dan karena kau tidak bersedia menjelaskan kejadian yang sebenarnya, maka biarkan aku dan bukti-bukti ini yang menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya," ujar Marisa yang sangat panjang kali lebar kali tinggi bak rumus volume balok.


"Bukti?" gumam Kenzo dan Wilson bersamaan.


Berbeda dengan dua pria yang tengah bingung, Raisa justru sedang panik setengah mati.


"Bukti?! Sialan! Apa dia benar-benar memiliki bukti kalau aku yang membuntutinya? Tapi bukankah itu tidak bisa membuktikan apapun? Tidak! Aku harus tetap tenang atau ayah dan Kenzo akan semakin mencurigaiku!" batinnya.


"Lihatlah ini. Di sini sangat jelas terlihat, kalau nona Raisa yang terhormat ini sengaja mengikutiku bahkan dia sampai rela menungguku keluar dari rumah Kenzo. Aku benar-benar meras terhormat dengan atensimu, nona Raisa," Marisa menunjukkan rekaman yang berasal dari cctv di depan gerbang rumah Kenzo, bahkan juga di tempat kejadian.


"Ini?! Bagaimana mungkin? Rekaman cctv di rumahku tidak akan semudah itu untuk di dapatkan!" batin Kenzo terkejut.


"Soal bagaimana aku bisa mendapatkan rekaman ini dari cctv rumahmu, akan ku jelaskan padamu nanti," ucap Marisa yang mengerti isi pikiran Kenzo.


"Itu tidak bisa membuktikan apapun! Kalaupun aku memang mengikutimu, itu tidak berarti aku berencana mencelakaimu!" seru Raisa, "Cih! Dasar bodoh!" umpatnya dalam hati.

__ADS_1


"Aku tahu. Jadi selain ini aku juga membawakan bukti lainnya, dan bukti ini sangat-sangat valid! Dan sangat bisa di gunakan sebagai bukti, dan bahkan jika aku mau aku bisa menuntutmu!"


Blar!


Bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Raisa benar-benar sudah kehabisan akal dan kata-kata.


"Sial! Mati aku! Sepertinya aku benar-benar salah memilih lawan!" batinnya.


"Silahkan lihat ini. Di sini berisi pesan chat, dari nona Raisa dengan orang yang berkomplot dengannya. Dan bahkan sangat komplit, ada pesan dari dua antek-anteknya yang berperan dalam menyumbangkan ide bodoh itu. Lalu ada juga pesan dengan hacker amatir yang di sewa oleh nona Raisa untuk menghilangkan semua jejak jika rencananya berhasil. Tapi sayangnya aku berada selangkah di depannya, dan mengetahui semuanya," Wajah Raisa semakin pucat seiring kata per kata keluar dari mulut Marisa, "Karena itulah, naluri saya untuk bertahan hidup pun bangkit. Tidak mungkin bukan, aku harus diam di tempat dan menunggu ajal?"


"Raisa! Kau benar-benar membuatku malu!" bentak Wilson pada Raisa, meskipun hanya sebagai kedok.


"Nona Marisa... tuan Kenzo... kumohon maafkan kebodohan anakku. Dan untukmu, nona Marisa. Aku akan memberimu kompensasi yang setimpal, tapi tolong jangan penjarakan anakku."


"Baiklah. Aku juga bukan orang yang berhati sempit, tuan Wilson," ujar Marisa dengan wajah dinginnya, tapi dalam hati dia berjingkrak kegirangan, "Yes! Cuan lagi!" batinnya.


"Tunggu saja pembalasanku! Meskipun anakku bersalah, tapi bukan giliran manusia rendahan sepertimu untuk mempermalukan keluargaku!" batin Wilson.


"Haish... dasar muka dua! Apa dia tidak sadar kalau isi hatinya tergambar jelas di jidatnya itu?!" batin Marisa yang seolah mengerti isi pikiran licik tuan Wilson.


"Baiklah, tuan Wilson. Kami tidak akan memperpanjang masalah ini, kami permisi."


Kenzo menggandeng tangan Marisa dan membawanya keluar dari sana.


"Hahaha... apa kau lihat wajah mereka tadi, bos? Hahaha... benar-benar menyenangkan!" saat mereka sampai di parkiran, Marisa pun tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.


Brugh!


"B-bos? K-kau kenapa? Apa yang salah denganmu, kenapa kau menatapku seperti menatap daging panggang begitu?" tanya Marisa karena Kenzo tiba-tiba mengukungnya dan membuatnya bersandar pada tembok.


"Kau tanya, kenapa? Beraninya kau masih bertanya, kenapa?!"


"M-memangnya apa salahku? Bukankah sudah terbukti kalau aku tidak bersalah?"

__ADS_1


"Kau benar, kau memang tidak bersalah!" ucap Kenzo dengan wajah geram, "Tapi apa kau tau uang kau lakukan itu bisa membahayakan keselamatanmu!? Ayahnya Raisa tidak akan tinggal diam, dan membiarkanmu mempermalukan dia dua kali, Marisa!?"


"Kenapa kau jadi marah padaku!? Kau memang bosku, tapi apa hakmu memarahiku begitu?!" Marisa pun ikutan kesal, karena mengira Kenzo membela Raisa.


"Shitt!" Kenzo dengan cepat menggendong tubuh Marisa.


Jangan salah paham dulu. Kenzo bukan menggendong Marisa ala-ala film romance, melainkan dia memangkul Marisa seperti karung beras.


Namun dengan keahlian bela diri Marisa, tentu saja itu bukan hal sulit untuk melepaskan diri. Tapi baru saja dia akan beraksi, Kenzo sudah menggunakan kata azimat untuk menghentikannya.


"Diam, atau aku akan memberitahu kakakmu tentang pernikahan kita."


Kenzo sengaja menggunakan itu, karena dia tau kalau Maria belum di beritahu tentang perihal itu. Dan bisa di simpulkan itu karena Marisa tak ingin saudari kembarnya itu tau.


Marisa pun di bawa oleh Kenzo masuk ke mobilnya, dan menyuruh pak Tejo untuk segera melajukan mobil itu.


"Sial! Kenapa kau menyerang titik lemahku?!' gumamnya lirih.


"Bukankah bela diri jig mengajarkan untuk menyerang titik lemah lawan?"


"Tapi itu kan jika menyerang dengan fisik? Tapi kau malah menyerangku dengan mulutmu!"


"Oh? Jadi maksudmu kau memintaku untuk menyerangmu dengan fisikku?" tanya Kenzo dengan wajah penuh makna menatap Marisa "Tapi aku tidak janji, kalau aku tidak akan membuatmu tidak bisa turun dari ranjang setelahnya."


Pak Tejo yang mendengar ancaman absurd berbumbu 21+ dari Kenzo pun hanya bisa menahan tawanya.


"Apa maksudmu dengan membuatku tidak bisa turun dari ranj—"


Blush!


Seketika wajah Marisa memerah, kala menyadari pesan tersirat dari kata-kata Kenzo barusan.


"Kenapa wajahmu merah? Apa kau membayangkan sesuatu yang liar, Marisa?" bisik Kenzo tepat di sebelah telinga Marisa.

__ADS_1


Marisa pun meremang seketika, karena hembusan nafas Kenzo yang menerpa telinganya.


__ADS_2