
...Memang sudah sifat manusia yang tak pernah puas dengan apa yang mereka miliki...
...Jadi berusahalah untuk merasa cukup dangan apa Tuhanmu beri....
...By : Rosemarry...
...*****...
Kenzo keluar dari ruangan papanya dengan langkah gontai, "Apa yang harus ku lakukan? Kalau ku biarkan orang tua itu yang bertindak, aku yakin wanita yang dia pilih pasti Raisa."
"Ken? Kamu kenapa?" tanya Stella yang tak di hiraukan oleh Kenzo, karena dia berjalan seperti raga yang kehilangan ruhnya. "Eh, kenapa anak itu? Sepertinya tadi dia baik-baik saja, kenapa sekarang jadi seperti itu? Apa ini ulah papa?"
Stella pun segera bergegas ke ruang kerja suaminya.
Cklak!
"Sayang? Ada apa?" tanya Gio kala melihat istrinya menghampirinya.
"Kau apakan anakmu itu? Kenapa dia jadi seperti zombie setelah kalian bicara tadi?"
"Tidak ada apa-apa, hanya hal biasa."
"Masalah pacar lagi?"
"Ehm." Gio pun hanya bergumam sambil mengangguk pelan.
"Ya tuhan... kau itu jangan terlalu memaksa Kenzo, kau tau sendiri sifat anakmu yang satu itu kan?"
"Tenang saja, dalam satu bulan dia pasti akan membawa pacarnya menemui kita." Ucapnya dengan yakin.
"Kenapa kau sangat yakin, sayang? Apa jangan-jangan—" Stella menatap lekat-lekat sang suami.
"Ya... aku hanya menggunakan sedikit trik saja, tidak masalah kan?" jawab Gio sambil mengangkat bahunya.
"Trik yang kau maksud itu pasti ancaman, dasar kau ini."
"Sudahlah tidak usah pikirkan anak itu, lebih baik sekarang—" Gio menaik turunkan alisnya.
"Sekarang apa?" Stella berpura-pura tidak mengerti maksud sang suami, namun pipinya yang tampak memerah tak bisa membantu mulutnya untuk bersandiwara.
Gio berdiri dan berjalan mendekat pada Stella, "Kita olahraga malam. Olahraga malam yang panas, dan panjang." Bisiknya di telinga Stella.
__ADS_1
Blush!
Wajah Stella pun semakin memerah bak kepiting rebus. Meskipun mereka sudah menikah selama puluhan tahun, namun kemesraan mereka tak pernah luntur di telan waktu.
"Aaahh!!" jerit Stella kala tubuhnya tiba-tiba saja terasa melayang. "Turunkan aku Gio...!" pinta Stella, namun tentu saja tak di hiraukan oleh sang suami.
Sedangkan kini Marisa dan Kevin sedang menyantap makanan mereka dengan lahap.
"Mar..."
"Hm?" jawabnya seraya memasukkan makanan ke mulutnya.
"Gue mau cerita sama lo."
"Cerita apa?"
"Gue punya temen cewek, belum lama sih gue kenal sama dia. Tapi kok gue ngerasa nyaman kalo lagi sama dia ya? Gue bebas jadi diri gue sendiri di hadapan dia, dan dia juga fine-fine aja."
"Terus?"
"Dia itu orangnya cantik, sederhana, apa adanya. Tapi dia itu—" Kevin mencuri pandang ke arah Marisa.
marisa menatap Kevin menunggu lanjutan ceritanya.
Uhuk!
Uhuk!
Uhuk!
"Mar lo nggak apa-apa kan? Nih minum dulu." Kevin menyodorkan minumannya pada Marisa.
Setelah meminum setengah isi gelas itu, Marisa pun akhirnya lega. "Maksud lo, lo suka sama tante-tante gitu?" tanya Marisa dengan bingung.
"Bukan tante-tante juga Marisa... dia cuma lebih tua beberapa tahun doang dari gue."
"Ooh... terus intinya?"
"Ya, menurut lo gimana? Apa kira-kira dia bakal terima gue, kalo gue nembak dia?"
"Tergantung."
__ADS_1
"Tergantung apa?"
"Tergantung, dianya suka apa nggak sama lo. Dari pengamatan lo, dia ke lo itu gimana? Kira-kira menurut lo dia ada perasaan yang beda nggak sama lo?"
"Ehm... nggak tau sih. Kalo lo sendiri misal ada di posisi dia, apa lo mau punya pacar yang lebih muda dari lo?"
"Hah? Gue? Ya enggak lah, gue nggak mau di katain tante-tante yang melihara berondong." Jawab Marisa yang kemudian tertawa.
Namun tawanya terhenti kala dia menatap Kevin, tak hanya tidak tertawa tapi justru raut wajah Kevin berubah muram.
"Ee... maksud gue bukan gitu, Vin... belum tentu juga kok cewek itu punya pemikiran yang sama kayak gue, jadi optimis aja. Lagian apa lo mau menyerah sebelum perang? Kalo belum di coba kan kita belum tau hasilnya gimana." Bujuk Marisa.
"Hm... bener juga sih, gue nggak bakalan kalah sebelum perang!"
"Gitu dong... ya udah yuk balik, lo udah kelar makannya.
"Udah kok, yuk balik."
Setelah membayar, mereka pun kembali menuju parkiran di mana Marisa memarkirkan motornya.
"Gue yang depan deh."
"Ok, nih." Marisa memberikan kunci motornya pada Kevin dan kemudian duduk di jok belakang.
"Udah siap?"
"Udah."
"Pegangan dong, ntar lo jatuh."
"Ok." Marisa berpegangan pada hoodie milik Kevin.
Kevin yang menyadari Marisa tidak berpegangan penuh padanya pun mempunyai ide jahil di kepalanya.
Brooommm...
"Aaahh!" jerit Marisa sambil memeluk erat Kevin.
"Hehe..." kekeh Kevin.
"Kevin...! Lo jahil banget sih? Untung aja gue nggak ngejengkang tadi." Repet Marisa pada Kevin yang tadi dengan sengaja memutar kencang gas motornya, bahkan ban depan motor itu sampai tidak menyentuh tanah.
__ADS_1
"Makanya pegangan, ngeyel sih."
"Iish...!"